JAKARTA – Nama Ketoprak Siswo Budoyo pernah menjadi ikon seni pertunjukan tradisional di Pulau Jawa pada era 1960 hingga 1990-an. Kelompok seni yang berpusat di Tulungagung, Jawa Timur ini dikenal luas karena pertunjukannya yang megah dan inovatif. Di balik kesuksesan Ketoprak Siswo Budoyo, terdapat sosok maestro bernama Kiswondo Harjo Suwito atau yang lebih dikenal sebagai Kiswondo HS.
Lewat tangan dinginnya, Ketoprak Siswo Budoyo berhasil menjelma menjadi kelompok ketoprak paling berpengaruh di Indonesia pada masanya. Pementasan mereka tidak hanya digelar di berbagai kota di Jawa Timur, tetapi juga merambah Jawa Tengah hingga ibu kota Jakarta.
Popularitas Ketoprak Siswo Budoyo tidak datang secara instan. Kisahnya bermula dari perjalanan panjang Kiswondo yang sejak kecil telah memiliki kecintaan terhadap seni tradisional Jawa.
Lahir dari Keluarga Pengusaha Batik
Kiswondo HS lahir pada 14 Januari 1928 di Tulungagung dengan nama Sukardiman. Ia merupakan anak pertama dari pasangan Harjo Suwito dan Sringatin yang dikenal sebagai pengusaha batik tulis.
Keluarga ini tergolong cukup berada pada masa itu. Rumah mereka di Desa Sidorejo bahkan digunakan sebagai tempat produksi batik. Sejak kecil, Kiswondo tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang sekaligus pendidikan yang cukup baik.
Bakat seni Kiswondo mulai terlihat sejak usia dini. Ia sering memainkan gamelan dan tertarik mempelajari kesenian tradisional Jawa. Pendidikan formalnya ditempuh di sekolah Taman Siswa di Tulungagung, lembaga pendidikan yang didirikan oleh tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara.
Terjun ke Dunia Ketoprak
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Kiswondo sempat melanjutkan studi di Surabaya. Namun, ia tidak menamatkan sekolah tersebut karena merasa jurusan teknik tidak sesuai dengan minatnya.
Pada masa agresi militer Belanda tahun 1949, Kiswondo bahkan sempat ikut bergabung bersama para pemuda yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Setelah situasi negara kembali stabil, Kiswondo merantau dan mulai menekuni dunia seni. Pada tahun 1951, ia menyaksikan pertunjukan ketoprak di Semarang yang kembali membangkitkan kecintaannya terhadap seni panggung.
Ia kemudian bergabung dengan kelompok ketoprak dan langsung dipercaya memerankan tokoh Aryo Penangsang. Penampilannya yang memukau membuatnya cepat dikenal sebagai aktor ketoprak berbakat.
Lahirnya Ketoprak Siswo Budoyo
Setelah beberapa tahun berkeliling bersama berbagai kelompok ketoprak, Kiswondo memutuskan untuk mendirikan kelompoknya sendiri.
Pada 19 Juni 1958, ia bersama istrinya Roemani dan beberapa rekan mendirikan Ketoprak Siswo Budoyo di Tulungagung. Awalnya, kelompok ini tampil di berbagai desa di sekitar Kecamatan Gondang dan Kauman.
Meski sempat mendapat cibiran karena ketoprak dianggap sebagai kesenian rakyat kelas bawah, Kiswondo tetap bertekad mengembangkan kelompok tersebut.
Seiring waktu, pertunjukan Ketoprak Siswo Budoyo mulai mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
Inovasi yang Mengubah Dunia Ketoprak
Kesuksesan Ketoprak Siswo Budoyo tidak lepas dari berbagai inovasi yang dilakukan Kiswondo. Ia menggabungkan dua gaya ketoprak, yaitu gaya Mataraman dari Jawa Tengah dan gaya pesisiran dari Jawa Timur.
Selain itu, Kiswondo juga memperbarui konsep panggung, kostum, dan tata pertunjukan. Salah satu inovasi yang menarik perhatian penonton adalah penggunaan efek panggung seperti pemain yang dapat “terbang” atau “menghilang”.
Kostum para pemain juga dibuat lebih variatif, menyesuaikan dengan cerita yang dibawakan. Misalnya, lakon yang berlatar Tiongkok menggunakan busana khas Cina, sementara cerita Timur Tengah memakai kostum bergaya padang pasir.
Inovasi tersebut membuat kelompok ini dikenal sebagai Ketoprak Gaya Baru Siswo Budoyo.
Merajai Panggung dan Televisi
Pada awal 1960-an, Ketoprak Siswo Budoyo mulai tampil di berbagai kota seperti Blitar, Kediri, Malang, Surabaya, hingga Surakarta yang dikenal sebagai barometer kesenian Jawa.
Setiap pertunjukan selalu dipadati penonton. Bahkan tiket sering habis jauh sebelum pementasan dimulai.
Memasuki era 1980-an, popularitas Ketoprak Siswo Budoyo semakin meningkat setelah sering tampil di televisi. Stasiun TVRI Surabaya secara rutin menayangkan pertunjukan kelompok ini.
Jumlah anggota kelompok ini juga sangat besar, mencapai lebih dari 200 orang. Untuk mengelola para pemain, Kiswondo bahkan mendirikan Yayasan Siswo Budoyo yang juga membantu pendidikan anak-anak para anggota.
Wafatnya Sang Maestro
Kiswondo HS dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai seni ketoprak. Ia bahkan pernah mengatakan ingin hidup dan mati bersama kesenian tersebut.
Baca Juga: THR Guru ASN 2026 Resmi Cair 100 Persen, TPG Ikut Dibayarkan Penuh Sesuai PMK Terbaru
Pada 17 Februari 1997, Kiswondo meninggal dunia setelah mengalami serangan tekanan darah tinggi. Saat kabar duka itu datang, kelompok Ketoprak Siswo Budoyo sedang menggelar pertunjukan di Ponorogo.
Tangis pun pecah di antara para pemain yang tidak sanggup melanjutkan pertunjukan. Ribuan pelayat kemudian mengantar jenazahnya ke pemakaman di Desa Kalangbret, Kecamatan Kauman, Tulungagung.
Hingga kini, Ketoprak Siswo Budoyo tetap dikenang sebagai salah satu kelompok ketoprak terbesar dalam sejarah seni tradisional Indonesia.
Editor : Dyah Wulandari