Radar Tulungagung- Tradisi Jawa kembali menjadi perhatian masyarakat setelah pembahasan mengenai pantangan Tahun B 2026 atau yang dikenal dengan istilah dino sangar ramai diperbincangkan. Dalam kepercayaan sebagian masyarakat Jawa, terdapat sejumlah hari yang dianggap kurang baik untuk memulai kegiatan besar seperti pernikahan, pindah rumah, pembangunan, hingga membuka usaha baru.
Pembahasan mengenai pantangan Tahun B 2026 ini berasal dari perhitungan kalender Jawa yang masih digunakan oleh sebagian masyarakat, terutama mereka yang masih memegang tradisi kejawen. Meski demikian, masyarakat diingatkan bahwa kepercayaan tersebut bukanlah sebuah kepastian akan datangnya musibah, melainkan bentuk kehati-hatian dan ikhtiar berdasarkan warisan leluhur.
Dalam tradisi Jawa, istilah hari sangar atau hari pantangan sudah dikenal sejak zaman dahulu. Masyarakat yang mempercayainya biasanya akan melakukan perhitungan hari (petungan Jawa) sebelum menentukan waktu pelaksanaan acara penting.
Mengenal Dino Sangar Tahun B 2026
Menurut penjelasan dalam tradisi Jawa, perhitungan hari sangar Tahun B dimulai sejak 1 Suro 2026 hingga menjelang 1 Suro 2027. Dalam pembahasannya terdapat dua versi perhitungan yang berkembang di masyarakat, yakni Aboge dan Asapon.
Baca Juga: Cek Kesehatan Gratis Jemput Bola ke Tempat Kerja, Pemerintah Target Layani 130 Juta Warga pada 2026
Bagi masyarakat yang masih menggunakan hitungan Aboge, terdapat beberapa hari yang dipercaya memiliki pantangan tertentu. Pertama adalah Galengan Tahun, yaitu hari awal tahun yang jatuh pada Kamis Legi. Hari tersebut dianggap kurang tepat digunakan untuk memulai berbagai urusan besar.
Selanjutnya ada Taliwangke, yakni tiga hari setelah 1 Suro yang jatuh pada Sabtu Pon. Kemudian terdapat Sangar Ing Tahun atau yang juga disebut tahun sangar yang jatuh pada Rabu Kliwon. Hari terakhir adalah Jati Ngarang, yaitu Sabtu Legi yang dianggap masih memiliki pengaruh awal tahun.
Sementara dalam hitungan Asapon, masyarakat mengenal perhitungan berbeda. Galengan Tahun jatuh pada Rabu Kliwon, Taliwangke berada pada Jumat Pahing, Sangar Ing Tahun jatuh pada Selasa Wage, sedangkan Jati Ngarang berada pada Jumat Kliwon.
Dipercaya Kurang Baik untuk Hajatan Besar
Hari-hari tersebut menurut sebagian masyarakat Jawa biasanya dihindari untuk kegiatan besar. Beberapa di antaranya seperti menggelar pernikahan, acara lamaran, pindah rumah, membangun rumah, membuka usaha, maupun memulai pekerjaan penting.
Namun, para pelaku tradisi menegaskan bahwa konsep dino sangar bukan berarti hari tersebut pasti membawa kesialan. Kepercayaan ini lebih kepada bentuk kehati-hatian berdasarkan pengalaman dan ilmu titen yang diwariskan turun-temurun.
Tradisi ini menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang masih hidup hingga sekarang. Sebagian masyarakat memilih mengikuti perhitungan tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, sementara sebagian lainnya tidak menjadikannya sebagai pedoman utama.
Bijak Menyikapi Warisan Leluhur
Perbedaan pandangan mengenai pantangan Tahun B 2026 menjadi hal yang wajar di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Tradisi dapat dipahami sebagai bagian dari identitas budaya, bukan sesuatu yang harus dipaksakan kepada semua orang.
Masyarakat diharapkan tetap bijak dalam menyikapi berbagai warisan leluhur. Bagi yang merasa tradisi tersebut bermanfaat dapat mengambil nilai-nilai positifnya, sedangkan yang tidak meyakini juga tetap perlu menghormati keberadaan budaya tersebut.
Pada akhirnya, keberadaan hari sangar dalam kalender Jawa menjadi salah satu bukti bahwa budaya lokal masih memiliki tempat di kehidupan masyarakat modern. Tradisi, kepercayaan, dan kearifan lokal tetap menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah masyarakat Jawa.
Editor : Maylanni Diana Fitri