Radar Tulungagung – Menentukan hari baik mendirikan rumah masih menjadi tradisi yang dijaga sebagian masyarakat Jawa. Melalui perhitungan Primbon Jawa, waktu memulai pembangunan dipercaya dapat membawa kelancaran, keselamatan, hingga keberkahan bagi penghuni rumah di masa mendatang.
Dalam tradisi Jawa Aboge, penentuan hari baik tidak cukup hanya melihat tanggal atau hari biasa. Perhitungan dilakukan menggunakan beberapa pedoman seperti neptu, wuku, ringkel, hingga penanggalan Jawa untuk memperoleh waktu yang dianggap paling baik.
Karena itu, proses mencari hari baik mendirikan rumah memerlukan tahapan yang cukup rinci agar hasil perhitungannya sesuai dengan aturan dalam Primbon Jawa.
Baca Juga: Hari Baik Khitan Menurut Hari Lahir Anak, Ini Panduan Primbon Jawa Memilih Waktu Sunatan agar Lancar
Mengutamakan Hitungan Tebo Candi
Salah satu acuan utama dalam menentukan hari membangun rumah adalah menggunakan hitungan Tebo Candi. Dalam Primbon Jawa, hitungan ini dipercaya paling sesuai untuk mendirikan bangunan tempat tinggal.
Hitungan Tebo Candi diperoleh dari jumlah neptu hari yang menghasilkan angka 8, 13, atau 18. Ketiga angka tersebut diyakini membawa pertanda baik bagi proses pembangunan rumah.
Selain Tebo Candi, dikenal pula hitungan Kerto, Yoso, Rogo, dan Sempoyong. Namun khusus untuk rumah tinggal, Tebo Candi menjadi pilihan yang paling dianjurkan.
Memperhatikan Wuku dan Ringkel
Setelah menemukan hari dengan neptu yang sesuai, langkah berikutnya adalah memastikan wuku yang digunakan memenuhi syarat.
Dalam Primbon Jawa, tidak semua wuku dapat dipakai untuk hajatan yang berhubungan langsung dengan manusia, termasuk mendirikan rumah.
Wuku dengan kategori yang kurang baik atau memiliki ringkel tertentu biasanya dihindari. Sebaliknya, wuku yang memiliki ringkel sesuai, seperti Ringkel Iwak maupun Ringkel Godong dalam beberapa pedoman, dinilai masih layak digunakan untuk memulai pembangunan.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan memilih hari dengan kategori sedang atau baik dalam perhitungan pawukon agar pembangunan berlangsung lancar.
Hindari Nas Penanggalan
Tahapan berikutnya adalah memastikan hari yang dipilih tidak bertepatan dengan nas penanggalan atau hari yang dianggap kurang baik menurut kalender Jawa.
Pengecekan dilakukan melalui penanggalan Jawa untuk mengetahui apakah pada hari tersebut terdapat larangan tertentu yang sebaiknya dihindari.
Apabila hari tersebut dinyatakan bersih dari nas penanggalan, maka waktu tersebut dinilai lebih layak digunakan sebagai awal pembangunan rumah.
Contoh Hari yang Dinilai Baik
Sebagai contoh, dalam perhitungan pada bulan Besar tahun 2025, Senin Pahing dan Sabtu Pahing termasuk hari yang memenuhi hitungan Tebo Candi karena memiliki neptu 13 dan 18.
Kedua hari tersebut juga dinilai memenuhi syarat karena berada pada wuku yang sesuai, tidak bertentangan dengan penanggalan, serta masih berada dalam kategori yang diperbolehkan untuk kegiatan yang berkaitan langsung dengan manusia.
Namun, hasil tersebut hanya berlaku pada periode penanggalan yang dihitung. Untuk bulan atau tahun yang berbeda, proses perhitungannya perlu dilakukan kembali sesuai kalender Jawa.
Selain mempertimbangkan hitungan Primbon, masyarakat juga dianjurkan menghindari hari yang bertepatan dengan nas kelahiran pribadi maupun hari wafat orang tua apabila masih memegang tradisi tersebut.
Meski menjadi bagian dari warisan budaya Jawa yang masih dilestarikan hingga kini, penentuan hari baik mendirikan rumah tetap bersifat sebagai pedoman tradisional. Dalam pelaksanaannya, kesiapan anggaran, kondisi cuaca, tenaga kerja, serta perencanaan pembangunan tetap menjadi faktor utama agar proses pembangunan rumah berjalan aman, lancar, dan sesuai harapan.
Editor : M. Helmi Nurhisam