RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Kepercayaan mengenai weton dalam primbon Jawa masih terus hidup di tengah masyarakat. Salah satu pembahasan yang cukup populer adalah tentang sejumlah weton yang diyakini berada dalam penjagaan khodam Eyang Semar. Pemilik weton ini disebut memiliki aura pengasih, kewibawaan, hingga kepekaan batin yang tinggi.
Dalam tradisi Jawa, Eyang Semar dikenal sebagai simbol kebijaksanaan, kesederhanaan, dan pelindung umat. Karena itu, orang yang diyakini berada di bawah naungannya dipercaya memiliki sifat penyayang dan mudah mendapatkan simpati dari lingkungan sekitar.
Berdasarkan penjelasan dalam primbon Jawa, terdapat delapan weton yang disebut memperoleh pengaruh tersebut.
Minggu Wage Dinilai Memiliki Sifat Bijaksana
Weton Minggu Wage mempunyai jumlah neptu 9, berasal dari Minggu bernilai 5 dan Wage bernilai 4.
Pemilik weton ini berada di bawah pengaruh Lintang Waluku. Mereka dikenal memiliki sifat pekerja keras, mudah memaafkan, serta mampu menyimpan rahasia dengan baik.
Selain itu, orang yang lahir pada weton ini juga disebut memiliki kecerdasan dan wawasan yang luas. Sikap tersebut membuat mereka mudah mendapatkan penghormatan dari orang lain.
Rabu Pahing Disebut Berjiwa Pemimpin
Rabu Pahing memiliki jumlah neptu 16 yang berasal dari Rabu 7 dan Pahing 9.
Menurut primbon Jawa, weton ini berada dalam naungan Lintang Gajah Mina.
Pemilik weton Rabu Pahing dikenal sebagai pribadi yang selalu mempertimbangkan sesuatu secara matang sebelum bertindak. Mereka juga memiliki sifat dermawan dan senang membantu sesama.
Karakter pelindung yang kuat membuat weton ini dinilai memiliki bakat kepemimpinan.
Sabtu Kliwon Memiliki Sifat Rendah Hati
Sabtu Kliwon memiliki jumlah neptu 17, berasal dari Sabtu 9 dan Kliwon 8.
Weton ini dinaungi oleh Lintang Pagelangan.
Dalam primbon Jawa, pemilik weton Sabtu Kliwon dikenal ramah, santun, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Mereka juga digambarkan sebagai sosok yang sabar dan rela mengalah demi menjaga hubungan dengan orang lain.
Rabu Legi Menjunjung Kejujuran
Rabu Legi memiliki neptu 12 dari Rabu 7 dan Legi 5.
Pemilik weton ini berada di bawah pengaruh Lintang Tangis.
Orang yang lahir pada weton Rabu Legi disebut sangat menghormati nilai-nilai kehidupan, menjunjung tinggi kejujuran, serta tidak menyukai ketidakadilan.
Sifat bijaksana dan kesetiaannya kepada teman membuat banyak orang menaruh simpati kepada mereka.
Rabu Pon Memiliki Kharisma Tinggi
Rabu Pon mempunyai jumlah neptu 14 yang berasal dari Rabu 7 dan Pon 7.
Menurut primbon Jawa, weton ini berada di bawah naungan Lintang Lumbung.
Pemilik weton Rabu Pon dikenal tidak mudah menyerah dan selalu memiliki perencanaan yang baik dalam hidup.
Selain itu, mereka disebut mempunyai kewibawaan tinggi dan mampu menjadi pelindung bagi orang-orang di sekitarnya.
Jumat Kliwon Berpengaruh Besar di Lingkungan Sosial
Jumat Kliwon memiliki jumlah neptu 14, berasal dari Jumat 6 dan Kliwon 8.
Weton ini dinaungi oleh Lintang Udang.
Pemilik weton Jumat Kliwon digambarkan sebagai sosok yang lembut, sabar, dan berpikiran luas.
Kemampuan berbicara yang dimiliki membuat mereka mudah memengaruhi orang lain dan sering dihormati dalam lingkungan sosial.
Sabtu Legi Disebut Berjiwa Ksatria
Sabtu Legi mempunyai jumlah neptu 14 yang berasal dari Sabtu 9 dan Legi 5.
Dalam primbon Jawa, weton ini berada di bawah pengaruh Lintang Bagong.
Mereka dikenal memiliki jiwa ksatria, dapat dipercaya, dan pandai menjaga rahasia.
Meski terkadang berbicara secara tegas, pemilik weton Sabtu Legi tetap disegani dan dihormati oleh masyarakat.
Selasa Wage Diyakini Memiliki Indra Keenam
Selasa Wage menjadi salah satu weton yang disebut memiliki kepekaan batin tinggi.
Weton ini mempunyai jumlah neptu 7, berasal dari Selasa 3 dan Wage 4.
Menurut primbon Jawa, pemilik weton Selasa Wage memiliki perasaan yang sangat sensitif sehingga diyakini mempunyai indra keenam.
Mereka juga dikenal sabar, pemaaf, dan mampu memberikan rasa tenang kepada orang-orang di sekitarnya.
Kepercayaan mengenai weton yang dijaga Eyang Semar ini masih diyakini oleh sebagian masyarakat Jawa hingga saat ini. Meski demikian, pembahasan tersebut lebih dipandang sebagai bagian dari warisan budaya dan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : mbahjawa, You Tube, DIOLAH