JAKARTA - Simbol Surya Majapahit atau matahari Majapahit yang selama ini kerap ditemukan di berbagai reruntuhan bangunan purbakala ternyata bukanlah lambang resmi dari Kerajaan Majapahit. Fakta sejarah mengejutkan ini terungkap berdasarkan dokumen tertulis kuno yang mencatat secara detail struktur dan atribut kerajaan. Lambang ikonik berupa diagram kosmologi matahari tersebut justru lebih tepat diposisikan sebagai simbol keagamaan universal yang digunakan lintas periode kerajaan di Nusantara.
Berdasarkan penelusuran dokumen sejarah otentik, lambang resmi Kerajaan Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, tersurat dengan sangat jelas. Bukti kuat ini tertuang dalam kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang ditulis pada masa keemasan kerajaan tersebut. Informasi di dalam kitab kuno itu membantah anggapan umum masyarakat modern mengenai identitas visual utama dari kemaharajaan Wilwatikta.
Baca Juga: Honda CUV e Dipakai 1.000 Km, Top Speed Tembus 97 Km/Jam tapi Bagasinya Sangat Sempit
Temuan Surya Majapahit di Era Sebelum Majapahit
Pertanyaan mengenai keabsahan Surya Majapahit sebagai lambang negara sebenarnya sangat wajar muncul di kalangan para ahli sejarah. Hal ini dikarenakan lambang Dewata Nawasanga atau yang lebih akrab dikenal sebagai Surya Majapahit juga ditemukan di beberapa bangunan sejarah sebelum era Majapahit. Secara lebih tepat, simbol tersebut sudah eksis dan digunakan sejak era Kerajaan Tumapel atau yang lebih dikenal dengan nama Kerajaan Singosari.
Secara visual, lambang ini mengambil bentuk matahari bersudut delapan dengan bagian lingkaran di tengahnya menampilkan dewa-dewa Hindu. Lingkaran di bagian tengah tersebut menampilkan sembilan dewa utama Hindu yang diatur dalam posisi delapan arah mata angin dan satu di titik pusat. Karena begitu populernya lambang matahari ini pada masa Majapahit, para ahli arkeologi sempat menduga bahwa lambang ini berfungsi sebagai lambang negara.
Ukiran Surya Majapahit ini biasanya dapat ditemukan di beberapa bangunan suci penjelajah waktu seperti Candi Jawi di Pasuruan. Selain itu, motif serupa juga dipahat di Candi Kebo Ireng Pasuruan, Candi Simping Blitar, Candi Sawentar Blitar, hingga Candi Bangkal di Mojokerto. Bahkan, ukiran matahari misterius ini juga ditemukan pada batu nisan kuno yang berasal dari masa Majapahit di wilayah Trowulan.
Catatan Kitab Negarakertagama Mengenai Rombongan Raja
Meskipun banyak ditemukan pada arca-arca dan nisan masa Majapahit, data arkeologis mengenai Surya Majapahit nyatanya kurang didukung dengan dokumen sejarah. Jika ditelusuri lebih dalam, naskah Negarakertagama Pupuh 55, 56, dan 57 secara gamblang mengisahkan perjalanan besar kerajaan. Kala itu, tepatnya di tahun 1359 Masehi, Prabu Hayam Wuruk melakukan perjalanan wisata atau bertamasya menuju ke daerah Lumajang.
Perjalanan monumental pada saat bulan terang purnama itu dilakukan dalam sebuah rombongan besar yang diikuti hampir seluruh kerabat raja tanah Jawa. Semua raja daerah, permaisuri, pejabat-pejabat penting Majapahit, menteri, pendeta raja, hingga pujangga besar ikut serta dengan mengendarai kereta. Tak terbilang jumlah kereta yang berderet dalam rombongan tersebut, namun setiap rombongan menteri memiliki tanda ciri dan lambang yang berbeda-beda.
Dalam naskah tersebut digambarkan secara rinci bahwa semua kereta milik Baginda Raja Pajang bergambar lukisan matahari yang sangat indah. Adapun kereta dari Baginda Raja Lasem semuanya dihiasi dengan gambar lembu putih yang tampak gemerlapan saat terkena cahaya. Sementara itu, Baginda Raja Daha menggunakan kereta dengan ciri khas Daha Kusuma emas mengkilat, dan Baginda Raja Jiwana bercirikan Gringsing lobeng luwih.
Baca Juga: Honda CUV e Dipakai 1.000 Km, Top Speed Tembus 97 Km/Jam tapi Bagasinya Sangat Sempit
Buah Maja Sebagai Lambang Resmi Kemaharajaan
Perbedaan mencolok terlihat pada kereta utama milik sang penguasa tertinggi yang memimpin jalannya roda pemerintahan kemaharajaan tersebut. Kereta Maharaja Majapahit amat megah dan bercirikan gambar buah maja dengan kain Gringsing lobeng luwih merah berhias lukisan emas. Berdasarkan naskah Negarakertagama tersebut, sejarawan Profesor Slamet Mulyana berkesimpulan bahwa tanda pengenal resmi kereta sang prabu bernama Raja Salahna.
Dengan adanya keterangan tertulis yang sangat terang benderang tersebut, naskah Negarakertagama menegaskan bahwa lambang Majapahit bukanlah Surya Majapahit. Lambang resmi yang merepresentasikan entitas tertinggi Kerajaan Majapahit di masa pemerintahan Hayam Wuruk adalah lambang buah maja. Penemuan data tekstual ini menjadi titik terang yang membedakan antara simbol politik negara dan simbol spiritual keagamaan.
Terkait dengan identifikasi tanaman, selama ini masyarakat sering kali salah kaprah dalam membedakan pohon maja yang asli. Tanaman yang selama ini dikira pohon maja oleh sebagian besar orang ternyata adalah pohon berenuk yang buahnya berukuran besar. Pohon maja yang asli, yang terkait erat dengan sejarah nama Majapahit, kini disebut dengan nama mojolegi oleh masyarakat setempat.
Karakteristik Pohon Maja dan Nilai Filosofisnya
Buah maja yang asli atau mojolegi ini memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, yakni hanya sebesar buah kedondong. Ketika sudah masak atau matang sempurna, buah pohon maja asli ini akan memiliki rasa yang cenderung manis, bukan pahit. Daun dari pohon maja asli ini memiliki karakteristik unik karena bercabang tiga pada tiap tangkainya sehingga menyerupai bentuk senjata trisula.
Di negara India, tanaman unik berkhasiat ini juga dikenal luas oleh masyarakat setempat dengan sebutan nama wilwan. Daun dari pohon maja ini sangat dikenalkan di India dan sering digunakan dalam berbagai pelaksanaan upacara keagamaan Hindu. Karakteristik daunnya yang bercabang tiga melambangkan senjata trisula milik Dewa Siwa yang memiliki kedudukan sangat suci dan penting.
Melihat fakta-fakta tersebut, motif Surya Majapahit tampaknya sudah ada sejak masa Singosari dan terus digunakan hingga masa Majapahit. Melalui bukti naskah Candi Jawi atau yang disebut jajawa, candi tersebut didirikan oleh Raja Kertanegara dari Singosari. Motif matahari ini juga ditemukan pada Arca Ganesha Karangkates yang diduga kuat dibuat dari masa pemerintahan Tumapel.
Keberadaan Simbol dan Harapan Arkeologis Masa Depan
Dengan demikian, bukti-bukti epigrafi dan ikonografi menunjukkan bahwa motif Surya Majapahit merupakan warisan seni budaya dari dinasti sebelumnya. Simbol ini terus diadopsi dan digunakan bersama-sama karena memiliki nilai spiritualitas yang tinggi bagi masyarakat pemeluk agama Hindu. Namun, fungsi utamanya tetaplah sebagai penanda religius, bukan sebagai representasi resmi dari otoritas politik tertinggi kemaharajaan Wilwatikta.
Meskipun demikian, Surya Majapahit tetap sah-sah saja jika dijadikan salah satu ikon sejarah yang menyimpan memori kolektif kenusantaraan. Simbol matahari bersinar ini telah melekat kuat dalam visualisasi kebesaran masa lalu Indonesia di berbagai karya seni modern. Penggunaannya sebagai identitas visual tetap memiliki nilai penting dalam melestarikan rasa bangga terhadap warisan budaya leluhur bangsa.
Di sisi lain, gambaran buah maja sebagai lambang negara mencerminkan nilai-nilai kepemimpinan yang sangat bersahaja dan membumi. Karakter lambang yang dekat dengan alam ini memancarkan keindahan tersembunyi, kelembutan, sekaligus kecantikan filosofis dari para penguasa Majapahit. Jika kelak di kemudian hari ditemukan bukti arkeologis konkret mengenai lambang buah maja ini, dokumen sejarah tertulis tentu akan semakin kuat.
Editor : Natasha Eka Safrina