Belajar Sengkalan: Cara Unik Orang Jawa Menulis Angka Tahun Menggunakan Kata dan Gambar Kuno

Natasha Eka Safrina • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 18:05 WIB
Konsep sengkalan sebagai metode penulisan tahun Jawa dibongkar. Simak rumus unik membaca watak bilangan sengkalan dari arah kanan ke kiri. (Google)
Konsep sengkalan sebagai metode penulisan tahun Jawa dibongkar. Simak rumus unik membaca watak bilangan sengkalan dari arah kanan ke kiri. (Google)

 

JAKARTA - Mengenal konsep sengkalan menjadi hal yang sangat penting karena bagi masyarakat Jawa tradisi ini sudah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari. Secara definitif, sengkalan yaiku tetembangan utawa gambar sing dinggo kanggo negesi tahun. Dengan kata lain, sengkalan merupakan sebuah metode penandaan angka tahun yang diwujudkan dalam bentuk gambar maupun untaian kata-kata khusus.

Berdasarkan wujudnya, sengkalan kaperang dadi loro atau dibagi menjadi dua jenis utama yang memiliki karakteristik berbeda. Jenis pertama dinamakan sengkalan lamba, yaitu sengkalan yang wujudnya berupa tetembungan atau susunan kata-kata. Sementara jenis yang kedua disebut sengkalan memet, yaitu sengkalan yang diwujudkan dalam bentuk gambar atau visualisasi tertentu.

Perbedaan Surya Sengkalan dan Candra Sengkalan

Penentuan sebuah sengkalan juga didasarkan pada jenis sistem penanggalan atau peredaran tata surya yang digunakan. Menawa oleh sengkalan angka tahun adhedhasar lampahing srengenge diarani surya sengkalan. Sistem ini dibuat khusus untuk menghitung dan menandai angka tahun yang berbasis pada peredaran matahari.

Nanging menawa oleh sengkalan adhedhasar lampahing rembulan diarani candra sengkalan. Sistem yang kedua ini digunakan secara khusus oleh masyarakat untuk menandai angka tahun berdasarkan peredaran bulan. Pemahaman terhadap kedua sistem pembagian ini menjadi landasan dasar sebelum seseorang mempelajari cara membaca sandi tahun Jawa secara lebih mendalam.

Tembung-tembung atau kata-kata yang digunakan di dalam sebuah sengkalan tidak boleh dipilih secara sembarangan oleh pembuatnya. Kata-kata yang dipilih wajib memiliki watak wilangan atau watak bilangan tertentu yang melambangkan angka antara satu sampai sepuluh. Setiap angka memiliki karakteristik dan kelompok katanya tersendiri yang sudah dipatok secara baku.

Baca Juga: Polytron Fox R Dipakai 5 Bulan dan 6.400 Km, Biaya Operasional Cuma Rp1,3 Jutaan

Karakteristik Watak Bilangan Satu Sampai Lima

Watak bilangan siji atau angka satu diperuntukkan bagi barang-barang sing cacahe mung siji atau benda yang jumlahnya hanya ada satu di dunia. Selain itu, watak satu juga mencakup barang yang awangun bunder (berbentuk bundar) serta tembung sing ateges manungso (manusia). Tuladane atau contoh katanya antara lain bumi, rembulan, sirah, bunder, jarwa, dan wong.

Selanjutnya, watak bilangan loro atau angka dua diperuntukkan bagi barang-barang sing cacahe loro atau berpasangan. Tuladane meliputi meripat, kuping, swiwi, pipi, alis, penganten, dan suku kembar. Untuk watak bilangan telu atau angka tiga, karakteristiknya melekat pada hal-hal sing mau geni atau berkaitan erat dengan unsur api. Contoh katanya adalah panas, urub, latu, banter, geni, ngawa, dan sorot.

Sementara itu, watak papat atau angka empat merupakan representasi dari barang-barang sing mau banyu (berhubungan dengan air) lan tembung-tembung sing ateges gawe (bermakna membuat). Contoh katanya adalah banyu, wareh, kali, segara, sumur, suci, tirta, karya, kerta, dan penggawe. Untuk watak lima, karakteristiknya berkaitan dengan buta (raksasa), panah, gegaman (senjata), lan angin. Contoh katanya yaitu nawa, diyu, raseksa, jemparing, buta, pandawa, botol, gati, marta, dan lesus.

Karakteristik Watak Bilangan Enam Sampai Sepuluh

Watak enem atau angka enam memiliki kaitan erat dengan araning rasa (nama-nama rasa), tembung-tembung kang ngemu surasa obah (makna bergerak), ateges kayu, lan araning sapta dong. Contoh katanya adalah manis, kecut, legi, getir, goyang, hurek, lindu, jati, duwit, tawon, kembang, dan laler. Watak pitu atau angka tujuh memuat tembung sing ateges pandhito (pertapa), gunung, lan tetumpaan (kendaraan), dengan contoh kata resi, dwija, ardi, redi, aldaka, jaran, nunggang, dan kapal.

Untuk watak wolu atau angka delapan, kelompok katanya mengandung arti gajah lan kewan rumangkang (hewan melata atau merangkak). Contoh kata pembentuknya meliputi hesti, gajah, naga, baya, cecak, taksaka, dan liman. Watak songo atau angka sembilan diisi oleh tembung sing ateges dewa, barang-barang sing dianggep bolong (berlubang), lan barang ateges kembang (bunga). Contoh katanya antara lain hapsara, hapsari, batara, dewa, lawang, gapura, gua, terus, bolongan, leng, kusuma, arum, dan ganda.

Terakhir, watak bilangan ke-10 atau angka nol (0) adalah tembung-tembung sing ngemu surasa ora ana (bermakna tidak ada atau musnah), langit, utawa dhuwur (tinggi/luar jangkauan). Contoh kata yang memiliki watak nol ini adalah sirna, ilang, mati, rusak, suwung, kothong, mumbul, angkasa, awang-awang, dan antariksa. Seluruh watak bilangan dari satu sampai sepuluh inilah yang menjadi acuan mutlak dalam merangkai kalimat sengkalan.

Baca Juga: Honda CUV e Dipakai 1.000 Km, Top Speed Tembus 97 Km/Jam tapi Bagasinya Sangat Sempit

Rumus Unik Penulisan Sengkalan dari Kanan ke Kiri

Dalam proses penulisan dan pembacaan sengkalan, terdapat sebuah hal unik yang sangat menarik untuk dipelajari. Jika biasanya masyarakat menulis dari arah kiri ke kanan, penulisan lambang sengkalan justru dilakukan terbalik seperti menulis bahasa Arab. Proses konversi angka tahun dilakukan dari arah kanan menuju ke kiri.

Sebagai contoh konkret, jika ingin menulis angka tahun 1453 menggunakan candra sengkalan, susunan katanya dibalik dari urutan belakang. Konversi kata tidak dimulai dari angka 1400-an, melainkan disusun mulai dari angka paling belakang yaitu 3, kemudian 5, 4, dan 1. Prinsip pembacaan terbalik inilah yang menjadi ciri khas utama dari sistem sengkalan Jawa.

Contoh populer lainnya dapat dilihat pada rumusan sengkalan kuno yang berbunyi sirno ilang kertaning bumi. Jika dibedah satu per satu berdasarkan watak bilangannya, kata sirno memiliki watak nol, ilang watak nol, kertaning watak papat (empat), dan bumi watak siji (satu). Ketika deretan angka watak tersebut digabungkan dari kanan ke kiri, maka akan memuat angka tahun 1400.

Simulasi Konversi Angka Tahun Modern ke Sengkalan

Prinsip penulisan terbalik ini juga berlaku sepenuhnya ketika masyarakat ingin mengonversi angka tahun modern ke dalam kalimat sengkalan. Jika ingin menulis tahun 1974, maka susunan watak bilangannya dibalik terlebih dahulu menjadi urutan angka 4, 7, 9, baru kemudian angka 1. Setelah urutan angka dibalik, barulah dicarikan padanan kata yang memiliki watak bilangan sesuai patokan.

Untuk angka 4, kata yang dipilih bisa menggunakan kata suci yang memang memiliki watak bilangan empat. Untuk angka 7, kata yang digunakan adalah resi yang memiliki karakteristik watak bilangan tujuh. Sementara untuk angka 9 dan 1, perangkai sengkalan dapat memilih kata semedi dan map untuk melambangkan angka tersebut.

Melalui pemahaman watak bilangan serta rumus pembacaan terbalik ini, sengkalan tidak lagi menjadi hal yang asing bagi generasi muda. Penerapan metode ini melatih ketajaman rasa sastra sekaligus logika matematika secara bersamaan melalui media bahasa. Tradisi adiluhung ini menjadi bukti nyata tingginya kecerdasan linguistik dan pencatatan sejarah yang dimiliki oleh leluhur Jawa.

Editor : Natasha Eka Safrina
watak wilangan sengkalan surya sengkolo condro sengkolo sengkalan lamba sengkalan memet