JAKARTA - Tradisi Nogo Dino dan pasaran Jawa kembali menjadi perhatian setelah dibahas dalam video kanal YouTube Gading Jowo berjudul “INILAH NOGO DINO LAN PATINE DINO‼️ OJO DIGAWE SEMBRONO - MBAK DISLAM TERBARU”. Video tersebut menyoroti pentingnya menjaga perhitungan Jawa sebagai bagian dari warisan budaya leluhur yang tidak seharusnya dilupakan generasi muda.
Pembahasan mengenai Nogo Dino dan pasaran Jawa tidak diarahkan pada rumus teknis hitungan, melainkan pada makna filosofis dan nilai kehati-hatian dalam kehidupan sehari-hari.
Narasumber dalam video menilai sebagian generasi muda Jawa mulai menganggap tradisi seperti Nogo Dino sebagai sesuatu yang kuno. Padahal, perhitungan tersebut dipandang sebagai bentuk kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Tradisi Nogo Dino dan pasaran Jawa disebut bukan sekadar hitungan hari, melainkan pengingat agar manusia tidak bertindak sembarangan dalam mengambil keputusan.
Kekhawatiran Tradisi Jawa Mulai Dilupakan
Dalam penjelasannya, narasumber menyampaikan keprihatinan terhadap berkurangnya minat masyarakat untuk mempelajari tradisi Jawa.
Menurutnya, banyak orang kini lebih memilih meninggalkan perhitungan Jawa tanpa memahami makna di baliknya. Ia menegaskan bahwa tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa.
Narasumber juga menekankan bahwa tujuan utama menjaga tradisi adalah “uri-uri”, yakni melestarikan warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.
Nogo Dino dan Pasaran Jawa Dipandang Sebagai Tatanan Hidup
Salah satu bagian penting dalam video adalah penjelasan mengenai filosofi perhitungan Jawa. Narasumber mengibaratkannya seperti proses mengolah padi menjadi nasi.
Padi tidak bisa langsung dimakan. Ada tahapan yang harus dilalui, mulai dari dijemur, digiling, hingga dimasak. Analogi tersebut digunakan untuk menggambarkan bahwa kehidupan juga memiliki tatanan dan aturan.
Menurutnya, manusia tidak seharusnya menjalani hidup secara serampangan atau instan. Ada etika dan pertimbangan yang perlu dijaga sebelum mengambil langkah besar.
Pandangan ini menjadi inti dari penggunaan Nogo Dino dan pasaran Jawa dalam tradisi masyarakat.
Baca Juga: Kuliner Botok Iwak Kali Tulungagung Ini Sudah Hampir 10 Tahun, Sajikan Nasi Tiwul dan Wader Crispy
Bukan Larangan Mutlak
Narasumber menjelaskan bahwa penggunaan hitungan Jawa bukanlah kewajiban mutlak bagi setiap orang.
Ia menyatakan bahwa seseorang boleh saja tidak menggunakan perhitungan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Namun, yang terpenting adalah tetap menghormati adat istiadat dan warisan leluhur.
“Orang yang hidup di tanah Jawa sebaiknya menghormati adat setempat,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam video.
Dengan kata lain, tradisi dipandang sebagai pedoman budaya, bukan alat untuk menghakimi pilihan hidup orang lain.
Makna “Eling lan Waspada”
Dalam budaya Jawa, istilah “eling lan waspada” memiliki makna penting. Narasumber menyebut bahwa perhitungan seperti Nogo Dino bertujuan menumbuhkan sikap tersebut.
“Eling” berarti selalu ingat kepada Tuhan dan menyadari keterbatasan diri. Sementara “waspada” berarti berhati-hati dalam bertindak.
Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang, terutama keputusan yang dianggap penting dalam kehidupan.
Nilai kehati-hatian inilah yang disebut sebagai esensi utama, bukan sekadar mencari hari baik atau buruk.
Tradisi Tidak Harus Diperdebatkan
Video tersebut juga menyinggung fenomena perdebatan mengenai tradisi kejawen di media sosial.
Narasumber menilai perhitungan Jawa tidak perlu dijadikan bahan pertentangan antara yang percaya dan tidak percaya.
Menurutnya, tradisi adalah bagian dari kebudayaan yang sebaiknya dipahami dalam konteks sejarah dan filosofi masyarakat Jawa.
Ia mengajak masyarakat untuk melihat Nogo Dino dan pasaran Jawa sebagai warisan pengetahuan lokal yang memiliki nilai edukatif tentang etika hidup.
Penjelasan Tentang Kidung Rumeksa Ing Wengi
Pada bagian akhir video, pembahasan beralih ke Kidung Rumeksa Ing Wengi.
Narasumber menjelaskan bahwa kidung tersebut dikenal sebagai doa perlindungan. Isinya memohon keselamatan dan penjagaan dari berbagai gangguan.
Ia menyebut doa tersebut diyakini sebagai permohonan agar seseorang terhindar dari penyakit, gangguan makhluk halus, maupun niat jahat orang lain.
Dalam penjelasannya, gangguan seperti santet disebut akan menjadi “tawar” atau tidak mempan apabila seseorang berada dalam perlindungan Tuhan.
Namun, fokus utama penjelasan tetap pada makna spiritual sebagai bentuk doa dan pengharapan akan keselamatan.
Kembali pada Keselarasan Alam
Kidung Rumeksa Ing Wengi juga dikaitkan dengan konsep “kiblat papat limo pancer”.
Konsep ini menggambarkan keselarasan antara manusia, alam semesta, dan pusat diri sebagai ciptaan Tuhan.
Narasumber menjelaskan bahwa tujuan akhirnya adalah menjaga harmoni hidup, bukan sekadar mencari kekuatan mistis.
Pesan tersebut menegaskan bahwa tradisi Jawa memiliki dimensi filosofis yang menekankan keseimbangan dan keteraturan.
Baca Juga: Kesaksian Dosen Bergelar Doktor di MK: Gaji Pokok Cuma Rp2,6 Juta, Kesejahteraan Dinilai Rentan
Legalitas Organisasi Kepercayaan
Video turut menyinggung perkembangan hukum terkait organisasi kepercayaan di Indonesia.
Narasumber menyebut bahwa organisasi kepercayaan seperti MLKI telah diakui secara hukum.
Dengan adanya pengakuan tersebut, masyarakat yang ingin melestarikan tradisi kejawen disebut tidak perlu merasa malu atau takut untuk menjalankannya secara terbuka.
Pernyataan ini disampaikan sebagai bentuk dorongan agar pelestarian budaya dilakukan secara wajar dan bertanggung jawab.
Pesan untuk Generasi Muda Jawa
Salah satu pesan yang paling ditekankan dalam video adalah pentingnya generasi muda mengenal akar budayanya sendiri.
Narasumber tidak memaksa semua orang menggunakan hitungan Jawa, tetapi berharap anak muda memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
Menurutnya, kehilangan tradisi berarti kehilangan sebagian identitas budaya.
Ia mengingatkan bahwa modernisasi tidak harus membuat masyarakat meninggalkan seluruh warisan leluhur. Teknologi dan budaya lokal dinilai bisa berjalan berdampingan selama ada sikap saling menghormati.
Nogo Dino dan Pasaran Jawa Sebagai Kearifan Lokal
Secara keseluruhan, video dari kanal Gading Jowo menempatkan Nogo Dino dan pasaran Jawa sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa.
Pembahasannya lebih menitikberatkan pada filosofi hidup, etika, dan penghormatan terhadap leluhur daripada sekadar hitungan teknis.
Tradisi tersebut dipandang sebagai sarana untuk mengingatkan manusia agar tidak gegabah dalam bertindak, selalu eling lan waspada, serta menjaga keselarasan dengan lingkungan dan nilai-nilai budaya.
Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya menjaga tradisi sebagai bagian dari jati diri masyarakat Jawa tanpa harus memaksakan keyakinan kepada orang lain.
Editor : Davina Ar RaafikaSumber : Yt Gading Jowo