JAKARTA - Weton Senin Legi dalam tradisi primbon Jawa disebut memiliki perjalanan hidup yang berubah-ubah sesuai siklus usia. Penjelasan tersebut disampaikan kanal YouTube Kober102 dalam video berjudul Weton Senin Legi, Perjalanan hidup berdasarkan hari kelahiran, yang menguraikan fase kehidupan mulai masa kecil hingga usia lanjut berdasarkan hitungan neptu weton.
Menurut penjelasan dalam video, weton Senin Legi memiliki neptu 9 yang berasal dari penjumlahan Senin bernilai 4 dan Legi bernilai 5. Hasil perhitungan itu kemudian digunakan untuk membaca pola perjalanan hidup pada setiap rentang usia.
Pembahasan mengenai weton Senin Legi dalam video tidak ditempatkan sebagai kepastian mutlak, melainkan sebagai sarana pengingat agar seseorang lebih mawas diri dalam menghadapi berbagai fase kehidupan.
Dasar Perhitungan Neptu Weton Senin Legi
Narasumber menjelaskan bahwa langkah pertama dalam membaca perjalanan hidup adalah menentukan nilai neptu hari dan pasaran.
Untuk weton Senin Legi, perhitungannya adalah:
- Senin = 4
- Legi = 5 - Total neptu = 9
Angka 9 inilah yang menjadi dasar pembacaan siklus kehidupan menurut primbon Jawa.
Masa Kecil Usia 0-6 Tahun
Pada rentang usia 0-6 tahun, weton Senin Legi berada pada nilai 3.
Narasumber menggambarkan fase ini sebagai masa kecil yang cukup bandel. Meski demikian, kondisi kesehatannya disebut cenderung bagus.
Karakter aktif dan sulit diam menjadi salah satu ciri yang disebut muncul pada periode awal kehidupan ini.
Usia 6-12 Tahun Dinilai Lebih Stabil
Memasuki usia sekolah dasar, nilai berubah menjadi 5.
Pada fase ini, pendidikan disebut berjalan cukup baik. Anak juga digambarkan mudah diarahkan oleh orang tua.
Kondisi kesehatan pada masa ini disebut relatif baik sehingga mendukung proses belajar dan perkembangan.
Usia 12-18 Tahun Disebut Masa Puncak Kecerdasan
Periode remaja menjadi salah satu fase yang paling menonjol dalam penjelasan video.
Pada usia 12-18 tahun, weton Senin Legi berada pada nilai 6. Narasumber menyebut fase ini sebagai masa ketika seseorang berada di posisi puncak.
Kemampuan akademik, kecerdasan, dan kemampuan menentukan pilihan hidup disebut sangat kuat pada periode ini.
Karena itu, masa remaja dianggap sebagai waktu penting untuk membangun dasar pendidikan dan arah masa depan.
Baca Juga: Kuliner Botok Iwak Kali Tulungagung Ini Sudah Hampir 10 Tahun, Sajikan Nasi Tiwul dan Wader Crispy
Usia 18-24 Tahun Menjadi Fase Sulit
Setelah melewati masa remaja, perjalanan hidup disebut memasuki fase yang lebih berat.
Pada usia 18-24 tahun, nilai berubah menjadi 1. Narasumber menggambarkan periode ini sebagai masa sulit dalam mencari pekerjaan atau meniti karier.
Seseorang disebut sering menemui hambatan, kegagalan, atau kondisi yang diibaratkan “buntung” dalam usaha mendapatkan penghasilan.
Fase ini menjadi titik yang paling banyak dihubungkan dengan perjuangan awal memasuki dunia kerja.
Usia 24-30 Tahun Mulai Menemukan Arah
Memasuki usia 24-30 tahun, nilai berubah menjadi 2.
Pada tahap ini, weton Senin Legi disebut mulai menemukan pekerjaan atau usaha yang cocok. Namun, hasil yang diperoleh masih bersifat pas-pasan.
Narasumber mengibaratkannya seperti tanaman yang baru tumbuh, sudah terlihat perkembangan tetapi belum menghasilkan panen besar.
Karena itu, fase ini dianggap sebagai masa membangun fondasi ekonomi.
Usia 30-36 Tahun Disebut Masa Godaan
Salah satu bagian yang paling ditekankan dalam video adalah periode usia 30-36 tahun.
Nilainya kembali menjadi 3 dan disebut sebagai masa godaan. Narasumber menjelaskan bahwa daya tarik atau pesona weton Senin Legi pada usia ini dinilai cukup kuat.
Akibatnya, risiko munculnya orang ketiga atau rasa bosan terhadap pasangan disebut lebih besar dibanding fase sebelumnya.
Karena itu, pengendalian emosi dan komunikasi dalam rumah tangga dianggap sangat penting.
Narasumber juga menyarankan agar pernikahan dilakukan sebelum usia 30 tahun, yakni pada rentang 24-30 tahun, untuk membantu menciptakan stabilitas rumah tangga.
Pentingnya Menjaga Komunikasi Rumah Tangga
Dalam penjelasannya, narasumber menekankan bahwa keretakan rumah tangga pada fase 30-36 tahun dapat terjadi jika emosi tidak dijaga.
Komunikasi yang baik dengan pasangan disebut menjadi kunci agar hubungan tidak hancur akibat godaan atau kesalahpahaman.
Pesan ini disampaikan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap fase yang dianggap paling rawan dalam kehidupan pribadi weton Senin Legi.
Usia 36-42 Tahun Menjadi Masa Keemasan
Setelah melewati masa godaan, perjalanan hidup disebut memasuki periode yang jauh lebih baik.
Pada usia 36-42 tahun, nilai berubah menjadi 5. Narasumber menyebut fase ini sebagai masa keemasan.
Beberapa hal yang disebut menonjol pada periode ini antara lain:
- bisnis lebih lancar, - karier mengalami kenaikan, - kesehatan berada dalam kondisi prima, - rumah tangga menjadi lebih harmonis.
Fase ini digambarkan sebagai hasil dari perjuangan panjang pada usia-usia sebelumnya.
Usia 42-48 Tahun Disebut Puncak Kejayaan
Periode berikutnya dinilai sebagai puncak pencapaian.
Pada usia 42-48 tahun, nilai kembali menjadi 6. Narasumber menyebut fase ini sebagai puncak kejayaan.
Harta dan kemapanan ekonomi disebut dapat tercapai pada usia ini. Namun, ada syarat yang ditekankan, yaitu harus diimbangi dengan kerja keras dan keterampilan yang memadai.
Artinya, keberhasilan tidak disebut datang dengan sendirinya, melainkan membutuhkan usaha yang konsisten.
Baca Juga: Nasi Lodho Tulungagung Jadi Kuliner Wajib, Ayam Kampung Kuah Santan Mulai Rp7 Ribuan
Usia 48-54 Tahun Masuk Fase Rezeki Mati
Setelah mencapai puncak, perjalanan hidup kembali menurun.
Pada usia 48-54 tahun, nilai berubah menjadi 1 dan disebut sebagai masa rezeki mati.
Narasumber menggambarkan fase ini sebagai periode yang rawan keborosan, konflik, dan keruntuhan usaha.
Karena itu, pemilik weton Senin Legi disarankan membatasi ekspansi bisnis agar tidak mengalami kerugian besar.
Kehati-hatian dalam mengelola keuangan menjadi pesan utama pada periode ini.
Usia 54-60 Tahun Mulai Bangkit Kembali
Memasuki usia 54-60 tahun, nilai berubah menjadi 2.
Fase ini disebut sebagai masa mulai bangkit kembali. Kondisi ekonomi perlahan membaik, meski rezeki masih digambarkan sebatas pas-pasan.
Pemulihan terjadi secara bertahap setelah melewati masa sulit pada usia sebelumnya.
Perjalanan Hidup Diibaratkan Roda Berputar
Di bagian akhir video, narasumber memberikan penegasan bahwa perjalanan hidup weton Senin Legi tidak selalu berada di atas atau di bawah.
Seluruh fase tersebut diibaratkan seperti roda yang terus berputar. Ada masa mudah, ada masa sulit, dan keduanya dapat datang silih berganti sepanjang kehidupan.
Karena itu, seseorang diminta tidak terlena ketika berada di puncak dan tidak putus asa ketika menghadapi kesulitan.
Ramalan Diposisikan sebagai Pengingat
Narasumber menekankan bahwa penjelasan mengenai weton Senin Legi bertujuan sebagai sarana eling dan waspada.
Artinya, ramalan digunakan sebagai pengingat agar seseorang lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pada setiap tahap usia.
Ia juga menegaskan bahwa tingkat kecocokan ramalan sangat bergantung pada ketepatan data weton kelahiran seseorang.
Dengan demikian, video tersebut memberikan gambaran mengenai pola perjalanan hidup weton Senin Legi menurut primbon Jawa, mulai dari masa kecil yang aktif, fase sulit mencari pekerjaan di usia muda, masa godaan rumah tangga pada usia 30-an, hingga periode keemasan dan puncak kejayaan pada usia 36-48 tahun sebelum kembali memasuki fase yang membutuhkan kewaspadaan dalam mengelola rezeki dan kehidupan.
Editor : Davina Ar RaafikaSumber : Yt Kobr 102