Naga Dina dan Patine Dina, Tradisi Hitungan Jawa untuk Menentukan Arah Sebelum Bepergian

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 18:45 WIB
Naga Dina dan Patine Dina menjadi bagian petungan Jawa yang dipercaya menentukan arah kekuatan dan pantangan. Simak cara menghitungnya dari neptu hari dan pasaran.(pinterest)
Naga Dina dan Patine Dina menjadi bagian petungan Jawa yang dipercaya menentukan arah kekuatan dan pantangan. Simak cara menghitungnya dari neptu hari dan pasaran.(pinterest)
 

TULUNGAGUNG - Naga Dina dan Patine Dina merupakan bagian dari petungan Jawa yang masih dikenal oleh sebagian masyarakat hingga kini. Perhitungan tersebut menggunakan neptu hari dan pasaran untuk menentukan arah yang dipercaya memiliki kekuatan maupun arah yang sebaiknya dihindari.

Dalam tradisi Jawa, berbagai kegiatan penting terkadang dipertimbangkan berdasarkan weton dan neptu. Mulai dari pindah rumah, berdagang, bepergian, hingga melaksanakan hajat besar. Salah satu perhitungan yang digunakan adalah Naga Dina dan Patine Dina.

Secara sederhana, Naga Dina dapat dimaknai sebagai kekuatan atau kejayaan suatu hari. Sementara Patine Dina diartikan sebagai “matinya hari”. Keduanya memiliki arah masing-masing yang ditentukan melalui rangkaian perhitungan neptu.

Mengenal Neptu Hari dan Pasaran

Sebelum menghitung Naga Dina dan Patine Dina, seseorang perlu mengetahui nilai neptu masing-masing hari dan pasaran.

Baca Juga: Praperadilan Febri Adriansyah Bukan Jalan Keluar, Status Tersangka Bisa Kembali

Neptu hari terdiri dari Minggu bernilai 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sedangkan neptu pasaran terdiri dari Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, dan Kliwon 8.

Nilai hari dan pasaran tersebut kemudian dijumlahkan. Hasil penjumlahan inilah yang digunakan untuk menentukan posisi Naga Dina.

Sebagai contoh, hari Sabtu Legi memiliki neptu 14. Nilai tersebut diperoleh dari Sabtu yang bernilai 9 dan Legi yang bernilai 5.

Cara Menghitung Naga Dina

Perhitungan Naga Dina dimulai dari arah timur atau wetan. Dalam petungan tersebut, arah mata angin dihitung secara berurutan, yakni timur, selatan, barat, dan utara.

Dengan menggunakan contoh Sabtu Legi yang memiliki neptu 14, angka tersebut kemudian dihitung mulai dari timur. Setelah seluruh hitungan dilakukan, angka 14 berakhir di arah selatan.

Baca Juga: Praperadilan Febri Adriansyah: TPPU Diperdebatkan, Ini Titik Krusial Gugatan

Dengan demikian, Naga Dina untuk Sabtu Legi berada di arah selatan. Arah tersebut dipercaya sebagai tempat “jayane dina” atau kekuatan hari.

Artinya, dalam pemahaman tradisi tersebut, arah selatan menjadi arah yang memiliki kekuatan untuk Sabtu Legi.

Patine Dina Dihitung dengan Cara Berbeda

Setelah mengetahui Naga Dina, perhitungan dapat dilanjutkan untuk mencari Patine Dina. Konsep ini dipercaya menunjukkan arah yang sebaiknya menjadi perhatian ketika seseorang hendak melakukan kegiatan tertentu.

Pada contoh Sabtu Legi, angka 14 kembali digunakan untuk menghitung bagian hari. Hitungan dimulai dari Sabtu dan dilanjutkan mengikuti urutan hari hingga mencapai angka 14. Hasilnya kembali berada pada Sabtu.

Selanjutnya, pasaran Legi juga dihitung sebanyak 14 langkah. Urutannya dimulai dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Setelah mencapai angka 14, hasilnya jatuh pada Kliwon.

Dengan demikian, Patine Dina dari Sabtu Legi adalah Sabtu Kliwon.

Neptu Sabtu Kliwon kemudian dihitung kembali. Sabtu memiliki nilai 9 dan Kliwon bernilai 8. Jika dijumlahkan, hasilnya adalah 17.

Arah Timur Menjadi Patine Dina Sabtu Legi

Angka 17 tersebut kemudian dihitung menggunakan arah mata angin yang sama, dimulai dari timur. Setelah seluruh hitungan dilakukan, angka 17 berakhir di arah timur.

Artinya, berdasarkan perhitungan dalam tradisi tersebut, Patine Dina Sabtu Legi berada di arah timur.

Arah ini kemudian dipercaya sebagai arah yang perlu dihindari ketika seseorang melakukan kegiatan tertentu pada hari Sabtu Legi. Misalnya saat hendak melakukan perjalanan untuk berdagang, pindah rumah, mengarak pengantin, maupun mencari rezeki.

Perhitungan ini bukan sekadar menentukan arah keberuntungan, tetapi menjadi bagian dari cara masyarakat Jawa memahami waktu, hari, dan arah melalui petungan tradisional.

Bagi masyarakat yang masih memegang tradisi tersebut, mengetahui Naga Dina dan Patine Dina dapat menjadi salah satu pertimbangan sebelum melakukan kegiatan besar. Namun, penerapannya tetap bergantung pada keyakinan dan tradisi masing-masing.

Pada akhirnya, Naga Dina dan Patine Dina merupakan bagian dari warisan pengetahuan lokal Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Perhitungan menggunakan neptu hari, pasaran, serta arah mata angin menjadi unsur utama dalam menentukan posisi keduanya.

Editor : Maylanni Diana Fitri
naga dina patine dina neptu hari Petungan Jawa Weton Jawa