TULUNGAGUNG - Nogo Dino dalam tradisi Jawa dipercaya memiliki posisi yang berpindah mengikuti bulan dalam kalender Jawa. Perubahan posisi tersebut berkaitan dengan empat arah mata angin, yakni timur, selatan, barat, dan utara.
Perhitungan ini masih dikenal dalam masyarakat Jawa, khususnya ketika hendak melakukan kegiatan penting seperti lamaran dan pernikahan. Arah perjalanan menjadi salah satu hal yang diperhatikan karena posisi Nogo Dino dianggap berbeda pada setiap kelompok bulan.
Menariknya, posisi Nogo Dino tidak berubah setiap bulan. Dalam satu tahun Jawa, posisi naga berpindah setiap tiga bulan. Karena itu, seseorang yang ingin mengikuti petungan ini perlu mengetahui bulan Jawa yang sedang berlangsung sebelum menentukan arah perjalanan.
Posisi Nogo Dino Dibagi dalam Empat Arah
Kalender Jawa memiliki 12 bulan, yaitu Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Syawal, Apit, dan Besar.
Baca Juga: Praperadilan Febri Adriansyah: TPPU Diperdebatkan, Ini Titik Krusial GugatanBaca Juga: Praperadilan Febri Adriansyah: TPPU Diperdebatkan, Ini Titik Krusial Gugatan
Ke-12 bulan tersebut kemudian dibagi menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari tiga bulan dan mempunyai posisi Nogo Dino yang berbeda.
Pada tiga bulan pertama, yaitu Suro, Sapar, dan Mulud, posisi Nogo Dino berada di arah timur atau wetan.
Setelah melewati tiga bulan tersebut, posisi naga berpindah ke selatan atau kidul. Arah ini berlaku pada bulan Bakda Mulud, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir.
Berikutnya, Nogo Dino berada di arah barat atau kulon pada bulan Rejeb, Ruwah, dan Poso.
Kemudian pada tiga bulan terakhir, yakni Syawal, Apit, dan Besar, posisi naga berada di arah utara atau lor.
Pembagian tersebut membuat perhitungan Nogo Dino sebenarnya cukup sederhana. Masyarakat hanya perlu mengingat kelompok bulan dan arah yang menjadi posisi naga.
Arah Perjalanan Menjadi Perhatian
Dalam tradisi petungan Jawa, posisi tersebut kemudian dikaitkan dengan arah perjalanan seseorang. Salah satu contoh penerapannya adalah ketika keluarga hendak melakukan lamaran.
Baca Juga: Praperadilan Febri Adriansyah Uji Penyitaan, Kuasa Hukum Soroti Barang yang Dinilai Tak Terkait TPPU
Misalnya, calon pengantin laki-laki tinggal di utara, sedangkan calon pengantin perempuan berada di selatan. Jika Nogo Dino pada bulan tersebut berada di selatan, perjalanan dari utara menuju selatan dipercaya tidak dianjurkan.
Solusinya menurut petungan tersebut bukan dengan memaksakan perjalanan, tetapi menunggu hingga posisi Nogo Dino berpindah pada periode berikutnya.
Begitu pula jika seseorang hendak melakukan perjalanan dari timur menuju barat. Ketika Nogo Dino sedang berada di barat, arah tersebut menjadi perhatian dalam perhitungan tradisional Jawa.
Karena posisi naga berpindah setiap tiga bulan, waktu menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kapan perjalanan dilakukan.
Jangan Asal Mengambil Jalan Memutar
Ada pula anggapan bahwa arah yang dianggap tidak sesuai dapat dihindari dengan mengambil jalan memutar. Misalnya, seseorang yang hendak bergerak dari barat menuju timur memilih pergi ke utara terlebih dahulu sebelum akhirnya sampai ke timur.
Namun, dalam penjelasan mengenai Nogo Dino tersebut, cara seperti ini tidak dianjurkan sebagai jalan keluar. Perjalanan tetap dilihat berdasarkan arah tujuan akhirnya.
Dengan kata lain, mengambil rute memutar tidak serta-merta mengubah tujuan perjalanan. Karena itu, masyarakat yang masih menjalankan petungan Nogo Dino lebih memilih mempertimbangkan waktu sebelum berangkat.
Bagian dari Warisan Petungan Jawa
Nogo Dino merupakan salah satu contoh pengetahuan tradisional masyarakat Jawa yang menghubungkan kalender, waktu, dan arah mata angin. Perhitungan ini terutama masih dikenal dalam berbagai tradisi yang berkaitan dengan hajat besar.
Meski tidak semua masyarakat Jawa masih menerapkannya, Nogo Dino tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang menarik untuk diketahui.
Dalam penerapannya, Suro, Sapar, dan Mulud menempatkan naga di timur. Bakda Mulud, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir berada di selatan. Rejeb, Ruwah, dan Poso berada di barat. Sedangkan Syawal, Apit, dan Besar berada di utara.
Dengan mengetahui pembagian tersebut, seseorang dapat memahami dasar perhitungan Nogo Dino tanpa harus menghafal seluruh proses petungan secara rumit.
Editor : Maylanni Diana Fitri