TULUNGAGUNG - Weton tulang wangi kembali menjadi pembahasan dalam sebuah kisah horor yang menggabungkan kepercayaan Jawa dan tradisi Tionghoa. Cerita tersebut dialami Susi, perempuan asal Yogyakarta, yang harus menghadapi sejumlah kejadian aneh sejak berpacaran hingga menikah dengan Harso.
Susi berasal dari keluarga Jawa yang masih kuat memegang tradisi dan perhitungan primbon. Ayahnya bahkan menggunakan weton untuk menentukan berbagai keperluan, mulai dari waktu membuka toko, bepergian, pindah rumah, hingga menentukan hari pernikahan.
Masalah mulai muncul ketika Susi menjalin hubungan dengan Harso. Pria tersebut disebut memiliki weton tulang wangi, sebuah istilah dalam kepercayaan Jawa yang dikaitkan dengan kombinasi hari dan pasaran tertentu. Orang yang memiliki weton tersebut dipercaya sebagian masyarakat lebih sensitif terhadap keberadaan makhluk tak kasatmata.
Harso Disebut Memiliki Weton Tulang Wangi
Dalam penanggalan Jawa, terdapat lima pasaran, yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Pasaran tersebut kemudian dipadukan dengan hari dalam kalender Jawa untuk menghasilkan weton seseorang.
Baca Juga: Pengumuman P3K Sekolah Rakyat 2026 Belum Muncul, Cek Perkiraan Rilis dan Tahap SKT
Beberapa kombinasi yang disebut dalam cerita sebagai weton tulang wangi antara lain Senin Pon, Senin Kliwon, Senin Wage, Selasa Legi, Rabu Pahing, Rabu Kliwon, Kamis Wage, Minggu Pon, Minggu Kliwon, Sabtu Wage, dan Sabtu Legi.
Menurut kepercayaan yang berkembang, orang dengan weton tertentu tersebut dianggap memiliki aura berbeda dan lebih mudah menarik perhatian makhluk gaib. Namun, hal tersebut merupakan bagian dari kepercayaan tradisional dan tidak dapat dianggap sebagai fakta yang terbukti secara ilmiah.
Harso sendiri mengaku sejak kecil pernah mengalami hal yang dianggap aneh. Saat masih kecil, ia disebut sering berbicara sendiri dan memiliki “teman khayalan”. Ketika dewasa, Harso mengaku terkadang dapat merasakan keberadaan atau energi yang menurutnya berasal dari sesuatu yang tidak terlihat.
Sosok Pengantin Merah Mulai Muncul
Kejadian aneh pertama dialami Susi saat acara lamaran. Ketika sedang makan bersama keluarga, ia melihat sepasang kaki berada di samping Harso. Saat itu, Susi mengira kaki tersebut milik ibu Harso.
Namun, setelah mengambil garpu yang jatuh, Susi baru menyadari bahwa ibu Harso sedang berada di luar ruangan. Ketika kembali melihat ke arah tersebut, sosok yang sebelumnya terlihat sudah tidak ada.
Baca Juga: Pengumuman P3K Sekolah Rakyat 2026 Belum Muncul, Cek Perkiraan Rilis dan Tahap SKT
Kejadian serupa muncul ketika Susi pergi ke toilet. Melalui pantulan kaca, ia melihat seorang perempuan mengenakan gaun dengan tudung merah seperti pakaian pengantin. Sosok tersebut kemudian berjalan keluar dari bilik toilet.
Tidak berhenti di sana, sosok perempuan berbaju merah kembali muncul ketika Susi sedang melakukan fitting kebaya. Ia sempat melihat tangan pucat dengan kuku merah menyibak tirai ruang ganti.
Saat hendak berganti ruangan, Susi bahkan tidak sengaja membuka tirai yang ternyata memperlihatkan seorang perempuan mengenakan pakaian pengantin merah. Pakaian tersebut disebut memiliki motif yang menyerupai busana pengantin Tionghoa.
Kejadian Berlanjut Saat Hari Pernikahan
Menjelang pernikahan, keluarga Susi kembali berselisih mengenai hari pelaksanaan acara. Ayah Susi yang sangat mempercayai primbon awalnya menginginkan pernikahan digelar pada Senin.
Namun, Susi menolak karena Senin merupakan hari kerja. Setelah melalui perdebatan panjang, pernikahan akhirnya digelar pada Minggu.
Pada hari pernikahan, kejadian aneh kembali muncul. Perias Susi tiba-tiba merasa ada sesuatu yang berbeda dari wajah calon pengantin tersebut. Setelah meminta bantuan ibunya, Susi kemudian dirias ulang dan menjalani ritual pengasapan yang dianggap sebagai bagian dari proses merias pengantin.
Perias kemudian mengatakan melihat sosok yang dianggap mengikuti Harso. Dugaan tersebut kembali dikaitkan dengan weton tulang wangi milik Harso.
Meski sempat membuat keluarga panik, akad dan resepsi akhirnya tetap berlangsung.
Pengantin Merah Muncul Saat Bulan Madu
Setelah pernikahan, Susi dan Harso pergi berbulan madu di kawasan Yogyakarta. Di hotel, Susi kembali melihat perempuan berbaju pengantin merah berdiri di sekitar kolam renang.
Malam harinya, ketika keduanya berada di kamar, Susi mengaku melihat sosok yang sama berada di ujung tempat tidur. Ia kemudian berteriak dan membangunkan Harso.
Keduanya panik hingga akhirnya mengalami kondisi yang oleh masyarakat sering disebut “gancet”. Pihak hotel kemudian datang setelah mendengar teriakan dari kamar. Dokter yang dipanggil menjelaskan kondisi tersebut dari sisi medis sebagai ketegangan otot yang dapat menyebabkan pasangan sulit terpisah.
Belakangan, keluarga Susi mendapat penjelasan mengejutkan mengenai masa lalu Harso. Pria tersebut ternyata pernah diminta menikah secara ritual dengan seorang perempuan bernama Mei yang telah meninggal dunia.
Ritual tersebut dikenal dalam sebagian tradisi Tionghoa sebagai pernikahan arwah atau minghun. Dalam cerita, keluarga Mei disebut ingin memberikan pasangan bagi mendiang karena ia meninggal sebelum menikah.
Harso menerima tawaran tersebut karena dijanjikan bagian dari perusahaan milik keluarga Mei. Namun, pernikahan tersebut dirahasiakan dari keluarganya sendiri.
Kisah Susi dan Harso akhirnya berujung pada perpisahan. Cerita tersebut menjadi perpaduan antara kepercayaan Jawa tentang weton tulang wangi dan tradisi pernikahan arwah dalam budaya Tionghoa.
Meski sarat unsur mistis, kisah tersebut tetap merupakan pengalaman yang diceritakan narasumber dan tidak dapat dijadikan bukti bahwa weton tertentu benar-benar membuat seseorang memiliki kemampuan melihat makhluk gaib.
Editor : Maylanni Diana Fitri