MALANG - Naga dina dan patine dina merupakan bagian dari tradisi perhitungan hari dalam budaya Jawa yang masih digunakan sebagian masyarakat. Perhitungan ini berkaitan dengan weton dan dipercaya dapat menunjukkan arah kekuatan serta arah yang perlu dihindari ketika melakukan kegiatan tertentu.
Dalam tradisi Jawa, naga dina diartikan sebagai kekuatan atau kejayaan suatu hari. Sementara patine dina dimaknai sebagai arah “kematian” atau kuburan hari. Keduanya dapat dihitung dengan menggabungkan nilai neptu hari dan pasaran.
Pembahasan mengenai naga dina dan patine dina ini penting diketahui bagi masyarakat yang masih menggunakan hitungan weton, terutama ketika menentukan waktu atau arah untuk kegiatan yang dianggap penting. Salah satu contoh yang digunakan adalah Sabtu Legi.
Mengenal Neptu Hari dan Pasaran
Sebelum menghitung naga dina, langkah pertama adalah mengetahui neptu hari dan pasaran. Dalam hitungan Jawa, setiap hari memiliki nilai tertentu.
Baca Juga: KIP Kuliah 2026 Jalur Mandiri Dibuka 16 Juni, Ditutup 31 Oktober, Ini Syaratnya
Minggu memiliki neptu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sementara nilai pasaran terdiri atas Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, dan Kliwon 8.
Nilai tersebut kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan neptu dari kombinasi hari dan pasaran.
Sebagai contoh, Sabtu Legi memiliki neptu 14. Nilai itu diperoleh dari neptu Sabtu sebesar 9 ditambah neptu Legi sebesar 5.
Setelah mendapatkan angka 14, penghitungan naga dina dilakukan dengan memulai arah dari timur atau wetan. Empat arah yang digunakan adalah timur, selatan, barat, dan utara.
Cara Menghitung Naga Dina
Untuk mengetahui naga dina Sabtu Legi, angka 14 dihitung mulai dari arah timur. Hitungan dilakukan berulang mengikuti urutan timur, selatan, barat, dan utara.
Dengan perhitungan tersebut, angka 14 jatuh pada arah selatan. Dalam hitungan tradisi Jawa yang dijelaskan, hal itu berarti naga dina Sabtu Legi berada di selatan.
Arah tersebut kemudian dianggap sebagai “jayane dina” atau kekuatan hari. Karena itu, selatan menjadi arah yang disebut memiliki kekuatan bagi Sabtu Legi berdasarkan perhitungan tersebut.
Konsep naga dina bukan hanya berkaitan dengan hari dan weton. Dalam penerapannya, masyarakat yang mempercayai hitungan ini dapat menggunakannya sebagai salah satu pertimbangan ketika menentukan arah perjalanan atau kegiatan tertentu.
Cara Menghitung Patine Dina
Selain naga dina, terdapat pula patine dina. Dalam tradisi hitungan Jawa, patine dina memiliki makna yang berbeda karena dikaitkan dengan arah yang dianggap perlu dihindari.
Patine dina dihitung dengan menggunakan neptu hari dan pasaran yang diperoleh dari hasil perhitungan sebelumnya. Untuk contoh Sabtu Legi, neptunya adalah 14.
Pertama, angka 14 digunakan untuk menghitung hari mulai dari Sabtu. Hasil perhitungan tersebut kembali jatuh pada Sabtu. Setelah itu, pasaran Legi dihitung sebanyak 14 langkah.
Urutannya dimulai dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Setelah dilakukan perhitungan, hasil akhirnya jatuh pada Kliwon. Dengan demikian, patine dina untuk Sabtu Legi menjadi Sabtu Kliwon.
Selanjutnya, neptu Sabtu Kliwon dihitung. Sabtu memiliki nilai 9 dan Kliwon 8 sehingga totalnya menjadi 17.
Patokan Arah untuk Kegiatan Penting
Angka 17 kemudian dihitung kembali dari arah timur dengan urutan timur, selatan, barat, dan utara. Berdasarkan perhitungan tersebut, angka 17 jatuh pada arah timur.
Dalam kepercayaan hitungan Jawa, arah timur kemudian menjadi patine dina atau “kuburane dina” untuk Sabtu Legi. Karena itu, masyarakat yang masih memegang tradisi tersebut dianjurkan menghindari arah tersebut ketika melakukan kegiatan yang dianggap penting.
Contohnya ketika hendak menggelar hajatan, mengarak pengantin, pindah rumah, berdagang, atau melakukan perjalanan untuk mencari rezeki. Perhitungan naga dina dan patine dina digunakan sebagai salah satu pedoman untuk menentukan arah.
Untuk Sabtu Legi, hasil contoh menunjukkan naga dina berada di selatan, sedangkan patine dina berada di timur.
Tradisi ini merupakan bagian dari warisan perhitungan Jawa yang hingga kini masih dipelajari dan digunakan oleh sebagian masyarakat. Bagi yang mempercayainya, pengetahuan mengenai naga dina dan patine dina menjadi salah satu cara untuk lebih berhati-hati dalam menentukan waktu maupun arah suatu kegiatan.
Editor : Maylanni Diana Fitri