JAKARTA - Nogo Dino menjadi salah satu perhitungan dalam primbon Jawa yang berkaitan dengan arah perjalanan dan rezeki. Dalam kepercayaan Jawa kuno, setiap hari memiliki arah Nogo Dino berbeda yang perlu diperhatikan sebelum seseorang bepergian.
Konsep Nogo Dino atau naga hari dipercaya dapat menjadi petunjuk bagi seseorang yang hendak mencari rezeki, menjalankan usaha, maupun melakukan perjalanan. Arah yang berlawanan dengan posisi naga dianggap lebih baik untuk menghindari kesialan.
Pembahasan Nogo Dino tersebut kembali menarik perhatian karena setiap harinya memiliki arah berbeda. Perhitungan ini merupakan bagian dari pengetahuan tradisional Jawa yang hingga kini masih dipelajari oleh sebagian masyarakat.
Ini Arah Nogo Dino dari Minggu sampai Sabtu
Dalam video tersebut dijelaskan bahwa posisi Nogo Dino berubah berdasarkan hari. Masyarakat yang mengikuti perhitungan ini perlu mengetahui arah naga sebelum menentukan perjalanan.
Baca Juga: TPG Juli 2026 Belum Cair, Kenapa Guru Masih Harus Menunggu?
Pada Minggu, Nogo Dino disebut menghadap ke utara atau lor. Kemudian pada Senin, arahnya bergeser ke timur atau wetan.
Memasuki Selasa, arah Nogo Dino berada di tenggara. Arah ini merupakan posisi di antara selatan dan timur.
Sementara Rabu, Nogo Dino disebut menghadap ke barat laut, yaitu arah antara barat dan utara.
Pada Kamis, posisi Nogo Dino kembali mengarah ke utara. Kemudian pada Jumat, arahnya berada di barat daya.
Sedangkan Sabtu, Nogo Dino disebut menghadap ke barat daya atau selatan barat. Arah tersebut dalam penjelasan video disebut memiliki posisi yang sama atau berdekatan dengan arah Nogo Dino pada Jumat.
Mengapa Arah Nogo Dino Perlu Diperhatikan?
Dalam kepercayaan primbon Jawa, Nogo Dino digunakan untuk membantu menentukan arah perjalanan. Seseorang yang hendak bepergian untuk mencari penghasilan disebut perlu menghitung posisi naga terlebih dahulu.
Prinsip yang digunakan adalah tidak berjalan searah dengan posisi Nogo Dino. Arah yang berlawanan atau menyimpang dipercaya dapat menghindarkan seseorang dari kesialan dan kegagalan dalam mencari rezeki.
Baca Juga: TPG Juli 2026 Belum Cair, Cek Hal Ini Sebelum Khawatir
Misalnya, apabila posisi Nogo Dino pada hari tertentu mengarah ke utara, orang yang mengikuti kepercayaan tersebut akan menghindari perjalanan menuju utara. Mereka kemudian memilih arah lain yang dianggap lebih aman berdasarkan perhitungan.
Kepercayaan ini terutama dikaitkan dengan aktivitas mencari rezeki dan menjalankan usaha. Arah perjalanan dianggap sebagai salah satu hal yang perlu diperhitungkan agar kegiatan dapat berjalan lancar.
Daftar Lengkap Arah Nogo Dino
Bagi masyarakat yang ingin mengenal perhitungan ini, berikut daftar arah Nogo Dino berdasarkan penjelasan dalam video:
Minggu: menghadap utara.
Senin: menghadap timur.
Selasa: menghadap tenggara.
Rabu: menghadap barat laut.
Kamis: menghadap utara.
Jumat: menghadap barat daya.
Sabtu: menghadap barat daya atau selatan barat.
Perhitungan tersebut menjadi gambaran sederhana mengenai bagaimana masyarakat Jawa dahulu menentukan arah perjalanan berdasarkan hari.
Bagian dari Warisan Budaya Jawa
Nogo Dino merupakan salah satu pembahasan yang berkaitan dengan primbon Jawa kuno. Bagi sebagian masyarakat, pengetahuan tersebut menjadi bagian dari budaya yang perlu dikenal dan dipelajari.
Tradisi ini tidak hanya membahas arah. Lebih luas, primbon Jawa memiliki berbagai perhitungan yang digunakan masyarakat dalam menentukan waktu maupun langkah untuk kegiatan tertentu.
Dalam konteks Nogo Dino, fokusnya adalah hubungan antara hari, arah dan perjalanan mencari rezeki. Masyarakat yang mempercayainya menggunakan perhitungan tersebut sebagai pertimbangan sebelum meninggalkan rumah.
Namun, keyakinan bahwa arah Nogo Dino dapat menentukan rezeki atau mendatangkan kesialan merupakan bagian dari kepercayaan tradisional. Tidak ada bukti ilmiah yang ditampilkan dalam video untuk membuktikan hubungan sebab-akibat tersebut.
Karena itu, Nogo Dino dapat dipahami sebagai bagian dari warisan budaya Jawa. Masyarakat dapat mempelajarinya untuk mengenal tradisi leluhur, sekaligus memahami bahwa setiap orang memiliki pandangan berbeda terhadap primbon.
Pembahasan tersebut juga menjadi pengingat pentingnya menjaga budaya lokal. Mengenal tradisi tidak selalu berarti harus mempercayainya, tetapi dapat menjadi cara untuk memahami bagaimana masyarakat Jawa terdahulu memaknai kehidupan, perjalanan dan rezeki.
Editor : Maylanni Diana Fitri