JAKARTA - Hari baik beli motor menurut hitungan Jawa menjadi salah satu tradisi yang masih menarik perhatian masyarakat. Dalam kepercayaan Jawa, pemilihan hari saat membeli sepeda motor dipercaya dapat menjadi ikhtiar agar kendaraan membawa manfaat dan terhindar dari hal-hal buruk.
Pembahasan mengenai hari baik beli motor menurut hitungan Jawa tersebut berkaitan dengan empat firasat. Masing-masing firasat memiliki makna berbeda, mulai dari Guru, Ratu, Rogoh hingga Sempoyong.
Perhitungan hari baik beli motor menurut hitungan Jawa dilakukan berdasarkan nilai hari dan pasaran. Hasil penjumlahan tersebut kemudian dicocokkan dengan urutan firasat untuk mengetahui apakah hari yang dipilih dianggap baik atau sebaiknya dihindari.
Empat Firasat dalam Membeli Sepeda Motor
Dalam tradisi yang dijelaskan melalui video tersebut, terdapat empat kemungkinan firasat ketika seseorang menentukan hari untuk membeli sepeda motor.
Baca Juga: Kabar Gembira ASN dan Pensiunan, THR dan Gaji ke-13 Diproyeksikan Tetap Ada pada 2027
Pertama adalah Guru. Hari yang jatuh pada firasat Guru dipercaya membawa manfaat dan kegembiraan. Perhitungan ini disebut cocok untuk membeli sepeda motor yang digunakan untuk kebutuhan keluarga maupun keperluan pribadi.
Kedua adalah Ratu. Firasat Ratu dipercaya memiliki makna yang baik, terutama berkaitan dengan kelancaran rezeki. Karena itu, hari yang masuk dalam hitungan Ratu disebut cocok untuk membeli sepeda motor yang digunakan berdagang atau mencari penghasilan.
Ketiga adalah Rogoh. Firasat ini justru masuk kategori yang perlu diwaspadai. Dalam kepercayaan tersebut, sepeda motor yang dibeli pada hitungan Rogoh disebut berpotensi mudah hilang, boros dan membutuhkan banyak biaya perawatan.
Keempat adalah Sempoyong. Firasat ini dianggap paling perlu dihindari ketika membeli sepeda motor. Motor yang dibeli pada hari tersebut dipercaya lebih rentan mengalami musibah atau kecelakaan, baik ringan maupun berat.
Selain itu, hitungan Sempoyong juga dikaitkan dengan kemungkinan munculnya pertengkaran di sekitar penggunaan sepeda motor tersebut.
Cara Menghitung Hari Baik Beli Motor
Setelah memahami empat firasat, langkah berikutnya adalah menghitung nilai hari Jawa. Hari yang digunakan bukan hanya hari biasa seperti Minggu, Senin atau Selasa, tetapi juga mempertimbangkan pasaran Jawa.
Setiap hari dan pasaran memiliki nilai tertentu. Nilai keduanya kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan angka yang digunakan dalam perhitungan firasat.
Sebagai contoh, Minggu Wage disebut memiliki nilai sembilan. Angka tersebut diperoleh dari nilai hari Minggu sebesar lima dan nilai pasaran Wage sebesar empat.
Setelah mendapatkan angka sembilan, hitungan dilakukan secara berurutan. Angka pertama masuk Guru, angka kedua Ratu, angka ketiga Rogoh, dan angka keempat Sempoyong. Pola tersebut kemudian berulang hingga mencapai angka yang diperoleh.
Karena angka Minggu Wage adalah sembilan, hitungan terakhir jatuh pada Guru. Berdasarkan kepercayaan tersebut, Minggu Wage termasuk hari yang baik untuk membeli sepeda motor, terutama untuk kebutuhan keluarga.
Bisa Disesuaikan dengan Tujuan Membeli Motor
Pemilihan hari juga dapat disesuaikan dengan tujuan penggunaan kendaraan. Jika motor dibeli untuk keluarga atau kebutuhan pribadi, firasat Guru dianggap membawa makna yang baik.
Baca Juga: TPG Juli 2026 Belum Cair? Ini Penyebab dan Tahapan yang Masih Berjalan
Sementara jika sepeda motor akan digunakan untuk berdagang atau mencari rezeki, firasat Ratu disebut lebih sesuai. Perhitungan tersebut dipercaya dapat menjadi ikhtiar untuk memperoleh kelancaran dalam usaha.
Sebaliknya, hitungan Rogoh dan Sempoyong sebaiknya dihindari oleh masyarakat yang masih mengikuti tradisi tersebut.
Namun, perhitungan hari baik beli motor menurut hitungan Jawa merupakan bagian dari kepercayaan dan budaya masyarakat Jawa. Tidak ada bukti ilmiah dalam pembahasan tersebut yang membuktikan bahwa hari pembelian kendaraan secara langsung menentukan kecelakaan, kehilangan atau kelancaran rezeki.
Tradisi ini dapat dipahami sebagai bentuk ikhtiar dan penghormatan terhadap petuah leluhur. Pada akhirnya, keselamatan berkendara tetap bergantung pada perilaku pengendara, kondisi kendaraan, kepatuhan terhadap aturan lalu lintas serta faktor lainnya.
Editor : Maylanni Diana Fitri