Hari Baik Beli Motor Menurut Jawa, Jangan Asal Pilih! Ini 4 Hitungannya

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 19:45 WIB
Hari baik beli motor menurut Jawa mengenal empat firasat, yakni Guru, Ratu, Rogoh dan Sempoyong. Simak cara menghitungnya sebelum membeli motor.(pinterest)
Hari baik beli motor menurut Jawa mengenal empat firasat, yakni Guru, Ratu, Rogoh dan Sempoyong. Simak cara menghitungnya sebelum membeli motor.(pinterest)

JAKARTA - Membeli sepeda motor menjadi momen yang menyenangkan bagi banyak orang. Namun, dalam tradisi Jawa, sebagian masyarakat tidak hanya mempertimbangkan harga dan kebutuhan. Hari baik beli motor menurut Jawa juga menjadi salah satu hal yang diperhitungkan sebelum kendaraan dibawa pulang.

Kepercayaan mengenai hari baik beli motor menurut Jawa menggunakan perhitungan hari dan pasaran. Hasil perhitungan tersebut kemudian dikelompokkan ke dalam empat firasat, yakni Guru, Ratu, Rogoh dan Sempoyong.

Masing-masing firasat memiliki arti berbeda. Ada yang dipercaya membawa manfaat dan kelancaran rezeki, tetapi ada pula yang dianggap perlu dihindari karena dikaitkan dengan kehilangan, biaya perawatan hingga kecelakaan.

Empat Firasat Hari Membeli Motor

Dalam perhitungan yang dijelaskan, firasat pertama adalah Guru. Hari yang masuk hitungan Guru dipercaya memiliki pertanda baik bagi sepeda motor yang dibeli.

Baca Juga: Kenaikan Gaji PNS 2027 Belum Dipastikan, Ini Penjelasan Pemerintah dan Taspen

Motor yang dibeli pada hitungan Guru disebut dapat membawa manfaat dan kegembiraan. Karena itu, perhitungan ini dianggap sesuai apabila kendaraan akan digunakan untuk kebutuhan keluarga atau kepentingan pribadi.

Firasat kedua adalah Ratu. Hitungan Ratu juga dianggap baik. Bedanya, Ratu lebih dikaitkan dengan kelancaran rezeki dan manfaat kendaraan untuk mencari penghasilan.

Karena itu, hari yang masuk firasat Ratu dipercaya cocok untuk membeli sepeda motor yang digunakan berdagang atau menunjang kegiatan usaha.

Sementara itu, firasat ketiga adalah Rogoh. Hitungan ini dianggap kurang baik. Dalam kepercayaan tersebut, motor yang dibeli pada hari Rogoh disebut berpotensi mudah hilang.

Selain risiko kehilangan, motor yang dibeli pada hitungan Rogoh juga dipercaya lebih boros dan membutuhkan banyak biaya untuk perawatan. Karena alasan tersebut, hari dengan firasat Rogoh disarankan untuk dihindari.

Firasat terakhir adalah Sempoyong. Hitungan ini dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya musibah atau kecelakaan setelah motor dibeli.

Bukan hanya kecelakaan, Sempoyong juga dipercaya dapat memicu pertengkaran orang-orang di sekitar penggunaan sepeda motor. Karena itu, firasat Sempoyong menjadi hitungan yang paling dihindari dalam tradisi tersebut.

Cara Menghitung Hari Baik Beli Motor

Perhitungan dilakukan menggunakan hari Jawa dan pasaran. Setiap hari memiliki nilai tertentu, begitu pula dengan masing-masing pasaran.

Baca Juga: TPG Juli 2026 Belum Cair, Cek Hal Ini Sebelum Khawatir

Nilai hari kemudian dijumlahkan dengan nilai pasarannya. Hasil akhir penjumlahan tersebut menjadi angka yang digunakan untuk menentukan firasat.

Sebagai contoh, dalam video disebutkan Minggu Wage memiliki nilai sembilan. Nilai tersebut berasal dari hari Minggu yang bernilai lima dan Wage yang memiliki nilai empat.

Setelah mendapatkan angka sembilan, perhitungannya dimulai dari Guru. Urutannya adalah Guru, Ratu, Rogoh dan Sempoyong. Setelah sampai Sempoyong, hitungan kembali ke Guru.

Dengan pola tersebut, angka sembilan kembali jatuh pada Guru. Artinya, Minggu Wage masuk dalam kategori yang dipercaya baik untuk membeli sepeda motor.

Namun, penggunaannya lebih diarahkan untuk kendaraan yang akan digunakan bagi kepentingan keluarga atau pribadi.

Motor untuk Usaha Punya Perhitungan Berbeda

Tujuan membeli sepeda motor juga menjadi pertimbangan dalam penjelasan tradisi tersebut. Motor yang dibeli untuk keluarga dapat memilih hari dengan firasat Guru.

Sementara motor yang akan digunakan sebagai sarana mencari rezeki, seperti berdagang, dipercaya lebih sesuai jika perhitungannya jatuh pada Ratu.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perhitungan Jawa tidak hanya melihat tanggal pembelian. Tujuan penggunaan kendaraan juga menjadi bagian dari pertimbangan.

Sedangkan hari yang masuk hitungan Rogoh dan Sempoyong dianggap perlu dihindari. Keduanya dipercaya membawa pertanda kurang baik bagi kendaraan yang dibeli.

Tradisi atau Jaminan Keberuntungan?

Perhitungan hari baik beli motor menurut Jawa merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat. Petuah tersebut dapat dipahami sebagai ikhtiar sebelum melakukan pembelian.

Namun, kepercayaan mengenai hubungan hari pembelian dengan kehilangan, kecelakaan atau rezeki tidak memiliki pembuktian ilmiah dalam materi video tersebut.

Keselamatan berkendara tetap ditentukan oleh banyak faktor. Kondisi kendaraan, kemampuan pengendara, kepatuhan terhadap aturan lalu lintas dan kehati-hatian di jalan tetap menjadi hal utama.

Bagi masyarakat yang masih memegang tradisi Jawa, perhitungan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan leluhur. Sementara keputusan untuk mempercayai atau menggunakannya tetap menjadi pilihan masing-masing.

Editor : Maylanni Diana Fitri
pasaran Jawa hari baik beli motor hitungan hari jawa Primbon Jawa