10 Mitos Jawa Paling Seram yang Masih Dipercaya, dari Magrib hingga Nyai Roro Kidul

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 19:30 WIB
Mitos Jawa masih hidup lewat berbagai pamali dan cerita mistis. Berikut 10 mitos populer, dari larangan tidur saat magrib hingga Nyai Roro Kidul.(pinterest)
Mitos Jawa masih hidup lewat berbagai pamali dan cerita mistis. Berikut 10 mitos populer, dari larangan tidur saat magrib hingga Nyai Roro Kidul.(pinterest)

JAKARTA - Mitos Jawa masih hidup di tengah masyarakat melalui berbagai larangan, pamali, dan cerita tentang dunia gaib. Sejumlah kepercayaan tersebut bahkan masih dikenal di berbagai desa hingga kini.

Mitos Jawa tidak hanya berkaitan dengan kisah menyeramkan. Di balik sejumlah larangan, terdapat nilai tentang tata krama, kehati-hatian, penghormatan terhadap alam, hingga cara leluhur menjaga kehidupan sehari-hari.

Salah satu yang populer adalah larangan tidur saat magrib. Waktu menjelang malam dipercaya sebagai masa peralihan antara dunia manusia dan alam makhluk halus.

Larangan dan Pamali dalam Kehidupan Sehari-hari

Orang tua dahulu kerap meminta anak segera masuk rumah ketika azan magrib berkumandang. Tidur pada waktu tersebut dipercaya dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami gangguan dari makhluk tak kasatmata.

Baca Juga: Yamaha Vega Force 2026 Masih Dijual, Harga Rp20,7 Juta dan Dapat Warna Baru

Di balik kepercayaan itu, terdapat pesan agar anak-anak tidak berada di luar rumah ketika kondisi mulai gelap. Pada masa lalu, keterbatasan penerangan juga membuat aktivitas di luar rumah menjadi lebih berisiko.

Mitos berikutnya adalah larangan menyapu rumah pada malam hari. Ungkapan “ojo nyapu bengi-bengi” dipercaya berkaitan dengan rezeki yang bisa hilang.

Namun, secara tradisional, larangan tersebut juga dapat dipahami sebagai bentuk kehati-hatian. Minimnya penerangan membuat orang sulit melihat kotoran dengan jelas. Menyapu pada malam hari juga berisiko mengganggu bara api yang masih menyala dari tungku.

Ada pula pamali duduk di atas bantal. Masyarakat Jawa mengenal kepercayaan bahwa tindakan tersebut dapat menyebabkan bisul. Di baliknya terdapat pesan mengenai tata krama dan kebersihan.

Bantal dianggap sebagai tempat kepala, sehingga mendudukinya dinilai tidak pantas. Selain itu, benda tersebut dapat menjadi kotor apabila digunakan sebagai tempat duduk.

Larangan memotong kuku pada malam hari juga menjadi salah satu mitos Jawa yang populer. Pada masa ketika penerangan masih terbatas, aktivitas tersebut memang dapat meningkatkan risiko terluka.

Kepercayaan tradisional kemudian mengaitkannya dengan kesialan atau datangnya energi negatif. Pesan yang terkandung di dalamnya adalah agar seseorang lebih berhati-hati ketika melakukan aktivitas sederhana.

Pohon Beringin hingga Suara Gamelan Tengah Malam

Pohon beringin juga memiliki tempat khusus dalam kepercayaan masyarakat Jawa. Pohon berukuran besar dengan akar yang menjuntai kerap dianggap sebagai tempat keramat dan dikaitkan dengan keberadaan makhluk tak kasatmata.

Baca Juga: Cesc Fabregas dan Rahasia di Balik Kebangkitan Como 1907 di Serie A

Cerita tentang penampakan atau kesurupan di sekitar pohon beringin memperkuat anggapan tersebut. Namun, dalam konteks kearifan lokal, kepercayaan itu juga menjadi pengingat agar manusia menghormati alam dan tidak bertindak sembarangan.

Mitos lain berkaitan dengan pelangi. Masyarakat Jawa mengenal larangan menunjuk pelangi dengan tangan. Ungkapan yang populer menyebut tangan bisa buntung jika menunjuk pelangi.

Kepercayaan tersebut menggambarkan pelangi sebagai sesuatu yang sakral. Larangan itu menjadi cara untuk mengajarkan penghormatan terhadap fenomena alam.

Di sejumlah tempat, masyarakat juga mengenal tradisi sesajen di persimpangan jalan, dekat jembatan, atau di bawah pohon besar. Bunga, nasi, kopi, hingga rokok dapat menjadi bagian dari sesajen.

Dalam kepercayaan tradisional, sesajen dianggap sebagai bentuk penghormatan dan permintaan izin kepada penjaga suatu tempat. Tradisi tersebut menggambarkan hubungan manusia dengan lingkungan serta dunia yang dipercaya berada di luar penglihatan.

Suara gamelan di tengah malam juga menjadi bagian dari cerita mistis yang berkembang di Jawa. Orang yang sedang melintasi hutan, sawah, atau jalan sepi disebut bisa mendengar alunan gamelan tanpa melihat sumbernya.

Cerita tersebut kerap dikaitkan dengan hajatan makhluk halus. Orang tua dahulu mengajarkan agar seseorang tidak mencari sumber suara, tidak menoleh, dan tetap melanjutkan perjalanan sambil berdoa.

Mitos Jawa yang paling terkenal tentu berkaitan dengan Nyai Roro Kidul. Sosok yang dikenal sebagai Ratu Laut Selatan ini dikaitkan dengan berbagai cerita mistis di pesisir selatan Jawa.

Salah satu pantangan yang terkenal adalah mengenakan pakaian berwarna hijau di pantai selatan. Dalam cerita yang berkembang, orang yang melanggar dipercaya dapat terseret ombak.

Di balik mitos tersebut terdapat pesan mengenai bahaya laut. Ombak besar dan kondisi Samudra Hindia menjadi alasan masyarakat sejak dahulu mengembangkan berbagai bentuk peringatan agar orang tidak meremehkan kekuatan alam.

Terakhir, terdapat mitos tentang makhluk penunggu persawahan. Sosok seperti wewe gombel atau genderuwo disebut berada di sekitar semak maupun rumpun bambu. Ada pula kepercayaan tentang roh pelindung tanaman.

Kepercayaan tersebut mengandung pesan agar manusia menghormati alam sebelum mengambil hasilnya. Bagi masyarakat agraris, panen tidak hanya dipandang sebagai hasil kerja, tetapi juga berkaitan dengan rasa syukur terhadap alam dan Sang Pencipta.

Sepuluh mitos Jawa tersebut menunjukkan bagaimana cerita mistis bercampur dengan nilai kehidupan. Terlepas dari benar atau tidaknya unsur gaib yang dipercaya, berbagai mitos itu telah menjadi bagian dari warisan budaya dan ingatan masyarakat Jawa.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Nyai Roro Kidul Pamali Jawa mitos jawa cerita mistis budaya jawa