JAKARTA - Tradisi Jawa dan Islam dibahas dalam sebuah ceramah yang menyoroti hubungan antara budaya leluhur, ajaran agama, dan perubahan zaman. Dalam ceramah tersebut, masyarakat diingatkan agar tidak terburu-buru menganggap tradisi lama sebagai sesuatu yang bertentangan dengan Islam tanpa memahami sejarah dan maknanya.
Pembicara mencontohkan sejumlah tradisi Jawa seperti perhitungan hari, weton, nyadran, kenduri, tahlilan, hingga penghormatan kepada leluhur. Menurutnya, berbagai tradisi tersebut perlu dipahami berdasarkan konteks dan tujuan pelaksanaannya.
Ia menilai sebagian masyarakat saat ini mudah memberi label terhadap tradisi lama hanya karena tidak memahami istilah maupun sejarahnya.
Tradisi Lama Disebut Perlu Dipahami
Dalam ceramah itu, perhitungan hari seperti Wage, Kliwon, Pahing, Pon, dan Legi disebut sebagai bagian dari pengetahuan masyarakat Jawa sejak masa lalu.
Baca Juga: Berkendara Malam Hari, Ini Cara Mengenali Jalan Berisiko agar Tak Terlambat Bereaksi
Pembicara mencontohkan masyarakat dahulu menggunakan perhitungan tersebut untuk menentukan waktu tertentu, termasuk kegiatan bertani dan memanen. Pengetahuan itu kemudian diwariskan melalui para sesepuh.
Karena itu, ia mengingatkan agar generasi sekarang tidak langsung menyebut seluruh tradisi tersebut sebagai sesuatu yang bertentangan dengan agama.
Ia juga menyinggung sejumlah istilah Jawa yang menurutnya mengalami perubahan pemaknaan. Salah satunya adalah “danyang”. Dalam penjelasannya, istilah tersebut berkaitan dengan tokoh tua atau leluhur yang dihormati masyarakat. Ia mengkritik anggapan yang langsung menyamakan istilah tersebut dengan makhluk gaib.
Pembicara kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan pentingnya mempelajari bahasa Jawa. Menurutnya, hilangnya pemahaman terhadap bahasa dan istilah tradisional dapat membuat generasi muda keliru memahami budaya leluhurnya sendiri.
Mengingat Leluhur dan Sejarah Keluarga
Salah satu pesan utama ceramah tersebut adalah agar manusia tidak melupakan asal-usulnya. Ungkapan Jawa “sangkan paraning dumadi” digunakan untuk menggambarkan pentingnya memahami dari mana manusia berasal dan ke mana kehidupannya akan berakhir.
Baca Juga: Zodiak Beruntung 4 September 2026, Rezeki Cancer hingga Aries Disebut Mengalir
Pembicara juga menjelaskan pentingnya mendoakan orang-orang yang telah meninggal. Ia mengaitkannya dengan ayat Al-Qur'an yang berisi doa bagi orang-orang beriman yang telah lebih dahulu hidup.
Dalam konteks budaya Jawa, kegiatan mengenang leluhur disebut memiliki beragam bentuk. Salah satunya adalah khol atau nyadran yang dilakukan sebagai agenda untuk mendoakan orang yang telah meninggal.
Menurut pembicara, tradisi tersebut juga memiliki fungsi sosial. Ketika masyarakat berkumpul dalam acara doa atau sedekah, berbagai pihak dapat ikut terlibat. Pedagang makanan, bunga, perlengkapan acara, hingga orang yang mengisi kegiatan keagamaan dapat memperoleh manfaat ekonomi.
Ia menyebut konsep tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar. Sedekah tidak hanya dipahami sebagai pemberian kepada orang yang telah meninggal, tetapi juga dapat diwujudkan dengan berbagi kepada orang-orang yang masih hidup.
Ceramah tersebut juga menekankan kewajiban anak untuk menghormati dan merawat orang tua. Hubungan antara orang tua dan anak digambarkan sebagai sebuah proses yang terus bergantian.
Ketika masih kecil, seorang anak membutuhkan orang tua untuk makan, berjalan, dan menjalani kehidupan. Ketika orang tua memasuki usia lanjut, anak disebut memiliki kewajiban untuk memberikan perhatian dan membantu mereka.
Pesan itu kemudian diperluas hingga generasi berikutnya. Pembicara mengingatkan agar anak dan cucu terbiasa mendoakan para pendahulunya sehingga kebiasaan tersebut dapat terus diwariskan.
Menurutnya, mengenang leluhur bukan berarti berhenti pada masa lalu. Sejarah justru dapat menjadi pengingat agar manusia memahami perjalanan kehidupan dan menghargai jasa orang-orang yang telah lebih dahulu membangun lingkungan tempat mereka hidup.
Ia juga menyinggung perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Radio, televisi, koran, wartel, hingga berbagai kebiasaan lama disebut telah mengalami perubahan besar. Kehadiran internet dan teknologi digital membuat informasi dapat diperoleh jauh lebih cepat dibandingkan masa lalu.
Perubahan tersebut dinilai perlu diimbangi dengan pendidikan agama, akhlak, dan pemahaman sejarah. Jangan sampai kemajuan teknologi membuat hubungan antargenerasi semakin jauh.
Pada bagian akhir, ceramah tersebut kembali menekankan pentingnya menjaga warisan nilai dari generasi sebelumnya. Manusia disebut hanya sementara menjalani kehidupan sehingga jasa kepada orang lain menjadi salah satu hal yang dapat meninggalkan jejak.
Karena itu, masyarakat diajak tidak melupakan orang tua, leluhur, sejarah keluarga, serta nilai-nilai baik yang diwariskan. Tradisi lama pun dinilai perlu dipelajari terlebih dahulu sebelum diberi penilaian.
Editor : Maylanni Diana Fitri