Gunung Budheg Tulungagung Dihijaukan dengan Uang Pribadi, Agus Utomo: Saya Bukan Pemilik

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 16:20 WIB
Gunung Budheg Tulungagung dirawat Agus Utomo sejak 2003. Dari tutupan vegetasi sekitar 10 persen, kini disebut mencapai 90 persen.(sc youtube)
Gunung Budheg Tulungagung dirawat Agus Utomo sejak 2003. Dari tutupan vegetasi sekitar 10 persen, kini disebut mencapai 90 persen.(sc youtube)

JAKARTA - Gunung Budheg Tulungagung menjadi kawasan yang selama lebih dari dua dekade dirawat Agus Utomo secara mandiri. Sejak 2003, ia menanam pohon secara bertahap hingga menyebut tutupan lahan di kawasan tersebut kini mencapai sekitar 90 persen.

Kisah itu disampaikan Agus dalam video yang membahas perjalanan Gunung Budheg dari sisi lingkungan, sejarah, hingga budaya. Ia mengaku sebagian besar bibit yang ditanam diperoleh dan dibiayai sendiri.

Ketika pertama kali masuk pada 2003, Agus menyebut kondisi Gunung Budheg sangat berbeda dengan sekarang. Vegetasi di kawasan tersebut hanya sekitar 10 persen dari luas lahan.

Ia kemudian melakukan penanaman secara bertahap dari satu sisi gunung ke sisi lainnya. Upaya tersebut dilakukan selama bertahun-tahun dengan membawa sendiri bibit dan berbagai peralatan yang dibutuhkan.

Awalnya Dicurigai Ingin Menguasai Lahan

Agus mengatakan dirinya mulai masuk ke Gunung Budheg pada 2003 tanpa banyak mengetahui mengenai kepemilikan maupun aturan kawasan tersebut.

Baca Juga: Berkendara Motor Malam Hari, Ini Tips Mengenali Kendaraan Berhenti atau Terparkir di Jalan

Pada periode 2003 hingga 2005, ia melakukan penanaman di lereng utara. Aktivitas itu sempat membuat dirinya dicurigai sejumlah orang dari Perhutani.

Menurut Agus, saat itu ada kekhawatiran bahwa dirinya memiliki tujuan lain karena terus melakukan penanaman. Namun, ia mengatakan tujuannya memang untuk menghijaukan kawasan tersebut.

Pada 2006 dan 2007, lokasi penanaman berpindah ke bagian barat daya. Agus kemudian mendirikan pos kecil yang digunakan untuk menyimpan cangkul, garpu, dan perlengkapan menanam.

Setelah itu, ia mulai melakukan penanaman di puncak Gunung Budheg selama dua tahun. Sekitar 500 batang tanaman disebut berhasil ditanam.

Agus kemudian melakukan evaluasi pada tahun ketiga dan menyebut tingkat pertumbuhan tanaman mencapai 90 persen. Penanaman berikutnya bergeser ke sisi selatan hingga arah timur.

Sejak 2011, ia menyebut terus merawat titik tersebut hingga sekarang.

Sebagian Besar Bibit Dicari Sendiri

Dalam proses penghijauan, Agus mengatakan sekitar 90 persen bibit diperolehnya sendiri. Ia mencari bibit ke berbagai daerah di bagian selatan.

Baca Juga: Lari Malam di Jalan Umum, Ini Tips agar Tetap Terlihat dan Aman bagi Pengguna Jalan

Saat melakukan penanaman, ia membawa ransel berisi bibit dan air minum. Peralatan seperti cangkul juga dibawa untuk menyesuaikan dengan kondisi tanah di lokasi.

Medan yang sulit membuat kegiatan penanaman tidak bisa dilakukan sembarangan. Agus menyebut satu orang dapat membawa sekaligus menanam sekitar 250 batang dalam waktu setengah hari, tergantung kondisi tanah.

Ia juga menegaskan tanaman yang berada di sejumlah kawasan puncak, menurut pengakuannya, bukan tanaman milik pemerintah maupun Perhutani.

“Tanaman saya,” kata Agus dalam penjelasannya.

Ia mengaku mengeluarkan pendapatan pribadi untuk membiayai perawatan kawasan tersebut. Bahkan, ia mengatakan lebih dari 70 persen gajinya masih digunakan untuk kebutuhan Gunung Budheg.

Agus juga mengungkapkan kehidupannya sederhana. Ia mengatakan tidak memiliki mobil dan hanya mempunyai satu sepeda motor.

Berharap Ada yang Melanjutkan

Bagi Agus, upaya merawat Gunung Budheg bukan pekerjaan yang dilakukan untuk mencari keuntungan. Ia menyadari dirinya bukan pemilik kawasan tersebut.

“Saya sadar bahwa saya ini bukan pemilik, saya ini hanya orang yang sebatas nunut urip dan ngawulo di tempat ini,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah memperhatikan tingkat kesulitan penghijauan di kawasan tersebut. Menurutnya, keberhasilan penanaman di Gunung Budheg perlu menjadi bahan evaluasi mengenai cara menjaga kawasan hutan dan lingkungan.

Agus bahkan mengatakan dirinya siap menyerahkan aset yang telah dirawatnya kepada desa atau pemerintah daerah apabila pengelolaan tersebut nantinya diteruskan pihak lain.

Ia menyebut dirinya ingin datang dan pergi dengan cara yang baik. Tidak ada keinginan untuk mendapatkan pujian atau menjadi pihak yang paling diutamakan.

Dari 10 Persen Menjadi 90 Persen

Perubahan kondisi Gunung Budheg menjadi bagian paling menonjol dari perjalanan yang diceritakan Agus.

Ketika pertama kali datang, ia menyebut tutupan vegetasi hanya sekitar 10 persen. Kini, setelah penanaman dan perawatan selama bertahun-tahun, tutupan lahan disebut telah mencapai sekitar 90 persen.

Agus juga mengaitkan penghijauan tersebut dengan kondisi masyarakat di sekitar lereng. Ia mengatakan sebelumnya air dari kawasan atas dapat turun deras ketika hujan dan mengarah ke sawah serta saluran irigasi.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat berdampak pada kerusakan saluran hingga risiko gagal panen. Kemiringan Gunung Budheg yang sangat ekstrem juga membuat persoalan longsor menjadi perhatian.

Karena itu, bagi Agus, merawat Gunung Budheg bukan hanya soal menanam pohon. Ia melihat kawasan tersebut juga berkaitan dengan keselamatan masyarakat dan keberlangsungan aktivitas pertanian di sekitarnya.

Setelah 20 tahun lebih mengurus kawasan tersebut, Agus berharap upaya yang telah dilakukan tidak berhenti. Ia ingin Gunung Budheg tetap dirawat dan dilanjutkan, meski dirinya tidak menganggap kawasan itu sebagai miliknya.

Editor : Maylanni Diana Fitri
tulungagung gunung budheg agus utomo Gunung Budheg Tulungagung pelestarian lingkungan