Pesugihan Kera Ngujang Tulungagung, Juru Kunci Ungkap Asal-usul Rumor yang Beredar

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 16:30 WIB
Pesugihan kera Ngujang Tulungagung menjadi rumor yang berkembang di masyarakat. Juru kunci Mbah Ribut menjelaskan asal-usul dan faktanya.(sc youtube)
Pesugihan kera Ngujang Tulungagung menjadi rumor yang berkembang di masyarakat. Juru kunci Mbah Ribut menjelaskan asal-usul dan faktanya.(sc youtube)

TULUNGAGUNG - Pesugihan kera Ngujang menjadi cerita yang terus berkembang di tengah masyarakat. Makam Ngujang di Tulungagung dikenal memiliki banyak kera yang berkeliaran di sekitar kawasan makam. Keberadaan hewan tersebut kemudian dikaitkan dengan berbagai cerita mistis, termasuk praktik mencari kekayaan secara gaib.

Juru kunci Makam Ngujang, Mbah Ribut, memberikan penjelasan mengenai cerita yang selama ini berkembang. Menurut dia, istilah pesugihan kera muncul karena kawasan tersebut memang dihuni banyak kera.

Mbah Ribut telah menjadi juru kunci sejak 27 Januari 2000. Dalam penuturannya, ia menyebut dirinya sudah menjalankan tugas tersebut selama lebih dari 25 tahun.

Ia mengatakan, banyak orang datang ke Ngujang dengan tujuan mencari berkah. Mereka memiliki latar belakang dan kebutuhan berbeda.

Ada yang datang karena berprofesi sebagai petani. Ada pula pedagang dan orang yang menjalankan usaha jasa. Mereka berharap usaha maupun pekerjaannya mendapatkan kelancaran.

Namun, menurut Mbah Ribut, mencari keberkahan tidak berarti mendapatkan kekayaan secara instan. Ia justru menekankan pentingnya kesabaran, kejujuran dan ketulusan.

Rumor Pesugihan Kera Beredar dari Cerita Pengunjung

Mbah Ribut mengatakan berbagai cerita tentang pesugihan kera tidak semuanya berasal dari praktik yang dilakukan di Makam Ngujang.

Baca Juga: Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026, Adira Finance Hadirkan #TerimaKasihSahabat di Tulungagung

Ia mengaku kerap mendengar cerita dari pengunjung yang datang dengan membawa informasi dari luar. Cerita tersebut kemudian berkembang menjadi anggapan bahwa Ngujang merupakan tempat untuk memperoleh kekayaan secara cepat melalui ritual tertentu.

Beberapa pengunjung, menurut penuturannya, bahkan datang dengan pemahaman bahwa ada praktik tertentu yang dapat membuat seseorang memperoleh uang dalam waktu singkat.

Mbah Ribut membantah bahwa dirinya mengajarkan praktik tersebut. Ia juga mengatakan tidak pernah mengajarkan penggunaan manusia sebagai tumbal di kawasan itu.

Menurut dia, jika istilah pesugihan dimaknai sebagai usaha mencari kekayaan, orang memang datang dengan tujuan tersebut. Namun, ia tidak membenarkan anggapan bahwa kawasan Ngujang menyediakan cara instan untuk menjadi kaya.

Cerita tentang tuyul juga disebutnya sebagai bagian dari rumor yang beredar. Mbah Ribut mengatakan Ngujang bukan tempat untuk membeli atau menjual tuyul.

Kera Ngujang Disebut Hewan Biasa

Salah satu hal yang ditekankan Mbah Ribut adalah keberadaan kera di Ngujang. Ia membedakan antara kera yang secara fisik hidup di kawasan tersebut dengan cerita mengenai kera gaib.

Baca Juga: Ramalan Zodiak September 2026: 6 Zodiak Disebut Keluar dari Zona Penderitaan

Menurutnya, kera yang berada di Ngujang merupakan hewan biasa. Kera tersebut lahir, tumbuh, berkembang biak, mengalami usia tua dan bisa mati.

Ia bahkan menceritakan pernah menemukan kera yang mati akibat kecelakaan lalu lintas. Kera tersebut kemudian dikuburkan.

Karena itu, Mbah Ribut menyebut istilah yang lebih tepat menurut keyakinannya adalah kera yang dipercaya mendapat perlindungan secara gaib, bukan kera gaib.

Dalam kepercayaan yang berkembang di kawasan tersebut, perlindungan itu dikaitkan dengan tokoh yang disebut Eyang Setono Renggo dan Den Ayu Siti Sundari.

Penjelasan mengenai sosok tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan penuturan spiritual Mbah Ribut. Ia menyebut Eyang Setono Renggo sebagai sosok yang dipercaya berkaitan dengan kawasan punden Ngujang.

Asal-usul Nama Ngujang Punya Beberapa Versi

Mbah Ribut juga menjelaskan bahwa asal-usul Ngujang memiliki beberapa versi cerita.

Salah satu versi mengaitkan nama tersebut dengan suara kera. Sementara bagian "jang" dikaitkan dengan aktivitas memberikan wejangan atau ajaran.

Ada pula cerita yang menghubungkan kawasan itu dengan Sunan Kalijaga. Dalam salah satu kisah yang berkembang, terdapat murid yang justru memanjat pohon ketika yang lain sedang belajar. Perilaku tersebut kemudian dianalogikan dengan kera.

Cerita lain bahkan mengaitkan orang yang mencari pesugihan di Ngujang dengan kera. Namun, Mbah Ribut meminta cerita tersebut tidak langsung dipercaya tanpa pembuktian.

Ia mempertanyakan kembali logika cerita tersebut, termasuk apa yang terjadi ketika kera yang disebut sebagai jelmaan manusia itu mati.

Menurut Mbah Ribut, berbagai cerita tersebut sudah lama berkembang dan kemudian membentuk persepsi masyarakat mengenai Ngujang.

Di sisi lain, keberadaan kera memang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kawasan wisata tersebut. Kera dapat berpindah-pindah lokasi, termasuk mendekati jembatan atau kawasan sekitar desa, sebelum kembali lagi.

Mbah Ribut mengingatkan masyarakat agar tidak mengejar kekayaan secara instan. Menurutnya, kehidupan yang lebih baik membutuhkan kesabaran, kejujuran dan ketulusan.

Baginya, kekayaan tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta. Ketenangan, kesadaran dan kemampuan menjalani kehidupan dengan sabar juga menjadi bagian dari makna keberkahan.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Ngujang Tulungagung Mbah Ribut makam ngujang pesugihan kera Ngujang Kera Ngujang