TULUNGAGUNG - Makam Ngujang di Tulungagung dikenal sebagai kawasan yang lekat dengan cerita mistis dan keberadaan kera. Berbagai kisah berkembang di masyarakat, mulai dari pesugihan hingga anggapan bahwa kera yang hidup di kawasan tersebut merupakan jelmaan manusia.
Namun, tidak semua cerita yang beredar dianggap benar oleh juru kunci Makam Ngujang, Mbah Ribut. Selama bertahun-tahun menjaga kawasan tersebut, ia mengaku menemukan banyak cerita yang kemudian berkembang di luar kawasan makam.
Mbah Ribut menjadi juru kunci sejak Januari 2000. Posisi tersebut diteruskannya dari keluarga yang sebelumnya menjaga kawasan Ngujang.
Menurut Mbah Ribut, Makam Ngujang memang memiliki banyak kisah. Akan tetapi, masyarakat perlu membedakan antara cerita yang berkembang, kepercayaan, dan kondisi sebenarnya yang ia temui selama menjalankan tugas sebagai juru kunci.
Asal-usul Nama Ngujang Punya Beberapa Versi
Mbah Ribut menjelaskan, Ngujang sebenarnya berkaitan dengan nama desa tempat makam tersebut berada. Menurut penuturannya, terdapat beberapa versi mengenai asal-usul nama Ngujang.
Baca Juga: Ramalan Leo 2026: Saatnya Lepas dari Hal Toxic dan Berani Ubah Haluan
Salah satu versi mengaitkan nama tersebut dengan suara kera. Kata "ngu" disebut berasal dari suara kera, sedangkan "jang" dikaitkan dengan wejangan atau ajaran.
Versi lain berkaitan dengan cerita Sunan Kalijaga. Dalam kisah yang berkembang, ketika Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam, terdapat santri dan santriwati yang justru memanjat pohon.
Perilaku tersebut kemudian disebut mendapat teguran dengan perumpamaan seperti kera.
Dari cerita itu kemudian berkembang anggapan bahwa kera yang berada di Ngujang merupakan jelmaan manusia.
Mbah Ribut tidak langsung membenarkan cerita tersebut. Ia justru mengingatkan bahwa kisah mengenai asal-usul kera memiliki beberapa versi.
Ada pula cerita yang mengaitkan kera dengan orang yang mencari pesugihan. Menurut Mbah Ribut, anggapan bahwa orang yang meninggal setelah melakukan pesugihan kemudian menjadi kera tidak bisa begitu saja dianggap benar.
Juru Kunci Bantah Cerita soal Sumur
Selain cerita tentang kera, Mbah Ribut juga meluruskan informasi mengenai keberadaan sumur yang disebut-sebut berkaitan dengan ritual tertentu di Ngujang.
Baca Juga: Mengapa Menjaga Kamtibmas Bukan Hanya Tugas Aparat? Ini Peran Masyarakat agar Lingkungan Aman
Ia menyebut cerita mengenai sumur yang dikeramatkan tersebut tidak benar. Menurutnya, cerita itu merupakan informasi yang dibuat dan kemudian dipercaya oleh sebagian orang.
Mbah Ribut juga menyinggung sejumlah tulisan mengenai tokoh yang dikaitkan dengan kawasan tersebut. Ia menyebut ada tulisan yang menyebut Den Ayu Siti Sundari sebagai putri Sunan Kalijaga.
Menurut penuturannya, informasi tersebut tidak benar. Ia menyebut Den Ayu Siti Sundari dalam pengetahuan spiritual yang diterimanya memiliki cerita berbeda.
Karena itu, Mbah Ribut meminta masyarakat tidak langsung mempercayai setiap informasi yang ditemui mengenai Makam Ngujang.
Ia menilai sebagian cerita yang beredar muncul karena informasi yang tidak jelas kemudian terus diulang hingga dianggap sebagai kebenaran.
Kera Ngujang Disebut Bukan Hewan Gaib
Keberadaan kera menjadi salah satu alasan utama Makam Ngujang dikenal luas. Jumlah kera yang banyak membuat kawasan tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Namun, Mbah Ribut menegaskan kera yang berada di kawasan Ngujang merupakan kera biasa.
Menurutnya, kera tersebut dapat berpindah-pindah tempat dan bergerombol. Kadang kera berada di bagian utara, selatan, timur atau sekitar jembatan.
Karena itu, ketika kera tidak terlihat di lokasi tertentu, bukan berarti hewan tersebut menghilang secara gaib. Mereka hanya berpindah mengikuti kelompoknya.
Mbah Ribut juga membedakan kera biasa dengan kera gaib. Menurutnya, kera yang ada secara fisik di kawasan Ngujang dapat dilihat masyarakat umum.
Sementara keberadaan kera gaib, dalam keyakinannya, hanya dapat dilihat oleh orang tertentu yang memiliki kemampuan spiritual.
Pesugihan Ngujang Disebut Sering Salah Dipahami
Mbah Ribut juga memberikan penjelasan mengenai anggapan bahwa Makam Ngujang merupakan tempat mencari kekayaan secara instan.
Menurut dia, orang yang datang memang banyak yang berharap mendapatkan rezeki atau keberkahan. Mereka datang dari berbagai latar belakang dengan harapan usaha maupun pekerjaannya berjalan lancar.
Namun, ia menekankan bahwa keberkahan tidak diperoleh dengan cara instan.
Mbah Ribut menyebut kesabaran, keikhlasan dan kesungguhan sebagai hal yang harus dijalani oleh orang yang datang untuk mencari berkah.
Ia kemudian mengibaratkan banyak orang hanya mengetahui "judul" tentang Ngujang tanpa memahami "isi" ceritanya.
Selama menjadi juru kunci, Mbah Ribut mengaku mengalami berbagai pengalaman mistis. Ia menyebut pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan menjaga kawasan tersebut.
Namun, pesan yang menurutnya paling sering diterima justru berkaitan dengan kesabaran, keikhlasan dan kesungguhan.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap cerita yang beredar mengenai Makam Ngujang, khususnya cerita yang menjanjikan kekayaan secara cepat.
Editor : Maylanni Diana Fitri