JAKARTA - Pembahasan mengenai dino naas dalam hitungan Jawa menyebut sejumlah tanggal yang dianggap perlu diwaspadai ketika seseorang hendak melakukan urusan penting. Dalam kajian tersebut, tanggal 3, 5, 13, 16, 21, dan Rabu terakhir setiap bulan disebut sebagai waktu yang perlu diperhatikan.
Penjelasan mengenai dino naas itu disampaikan melalui kajian berbahasa Jawa yang membahas hasil pengamatan terhadap berbagai kejadian. Penutur menjelaskan bahwa hitungan tersebut tidak sekadar untuk didengar, tetapi perlu dipelajari dan diteliti agar dapat dipahami berdasarkan pengalaman yang pernah diamati.
Menurut penjelasan dalam kajian, kehati-hatian terutama disarankan ketika seseorang hendak melakukan aktivitas besar. Beberapa di antaranya bepergian jauh, membeli barang penting, membeli kendaraan, membeli pakaian baru, menggali sumur, hingga membangun rumah.
Penutur menyampaikan sejumlah pengalaman yang menurutnya berkaitan dengan hari tertentu. Salah satunya adalah kisah mengenai seseorang yang melakukan aktivitas terkait rumah pada waktu yang kemudian dianggap sebagai dino naas. Ada pula cerita tentang kegiatan selamatan yang disebut diikuti kejadian tidak biasa pada malam harinya.
Cerita-cerita tersebut digunakan sebagai bagian dari pengamatan untuk menjelaskan bagaimana hitungan Jawa dipelajari. Namun, kajian itu tidak menyatakan bahwa kejadian serupa pasti dialami semua orang yang melakukan aktivitas pada tanggal-tanggal tersebut.
Tujuh Waktu yang Disebut Dino Naas
Dalam kajian tersebut, terdapat tujuh waktu yang disebut sebagai dino naas. Rinciannya adalah tanggal 3, tanggal 5, tanggal 13, tanggal 16, tanggal 21, serta Rabu terakhir setiap bulan.
Baca Juga: iPad 11 Dianggap Nanggung, YouTuber Ini Ungkap Alasan Menyesal Membelinya
Penutur mengatakan tanggal-tanggal tersebut diperoleh melalui proses pengamatan terhadap kejadian yang ada. Ia juga menyebut sejumlah peristiwa pada masa lalu sebagai bagian dari bahan yang diteliti untuk melihat pola dalam hitungan Jawa.
Karena itu, masyarakat yang mempercayai hitungan tersebut disarankan lebih berhati-hati ketika hendak melakukan pekerjaan atau keputusan tertentu. Penjelasan yang diberikan mencakup urusan perjalanan, pekerjaan, pembangunan rumah, hingga pembelian barang.
Dalam pembahasan tersebut juga disebut aktivitas sosial seperti bercanda, bermain, berdebat dan bertengkar. Penutur mengaitkannya dengan kemungkinan munculnya perselisihan pada hari yang dianggap memiliki karakter tertentu.
Tidak Bisa Disamakan dengan Ramalan Lain
Kajian itu juga menyinggung perbedaan antara hitungan Jawa dengan tradisi ramalan lainnya. Penutur menegaskan bahwa hitungan Jawa tidak sama dengan ramalan Arab maupun Tiongkok. Masing-masing memiliki pola dan cara pengamatan yang berbeda.
Pembahasan kemudian berkembang pada kaitan hari dan berbagai kejadian di alam. Penutur menyebut adanya angin yang dapat menimbulkan kerusakan serta berbagai bencana yang pernah terjadi.
Baca Juga: Xiaomi Pad 8 Makin Serius, Bawa WPS PC Level hingga Interkonektivitas
Indonesia juga disinggung dalam konteks kejadian bencana, termasuk tsunami. Namun, penutur tidak memberikan penjelasan secara lengkap mengenai hubungan langsung antara dino naas dan bencana tersebut.
Ia justru memilih menghentikan pembahasan karena menyebut adanya hal-hal yang dianggap sebagai rahasia Tuhan. Dengan demikian, tidak ada kesimpulan dalam kajian tersebut bahwa tanggal tertentu menjadi penyebab pasti terjadinya bencana atau kejadian buruk.
Pada bagian akhir, penutur kembali mengajak pendengar untuk mempelajari hitungan yang disampaikan. Pengamatan terhadap kejadian disebut sebagai salah satu bagian dari cara memahami hitungan Jawa.
Bagi masyarakat yang mengenal tradisi tersebut, dino naas menjadi salah satu pembahasan dalam pengetahuan dan hitungan Jawa. Sementara itu, tanggal yang disebut dalam kajian perlu dipahami sesuai konteks penjelasan penutur, yakni sebagai hasil pengamatan dan kepercayaan dalam tradisi tersebut, bukan sebagai kepastian mengenai kejadian yang akan dialami setiap orang.
Editor : Maylanni Diana Fitri