JAKARTA - Anggapan tentang adanya hari naas atau hari yang membawa kesialan dibantah dalam sebuah kajian keagamaan. Penutur menjelaskan bahwa tidak ada hari yang secara khusus menjadi hari celaka. Baik buruknya suatu hari justru dikaitkan dengan perbuatan manusia, terutama ibadah dan maksiat yang dilakukan pada hari tersebut.
Menurut penjelasan dalam kajian, semua hari pada dasarnya dapat menjadi hari yang baik bagi orang yang berbuat baik dan menjalankan ibadah. Sebaliknya, hari disebut menjadi buruk bagi seseorang ketika dirinya melakukan maksiat. Karena itu, penutur mengingatkan agar umat tidak memberikan prasangka buruk kepada hari atau tanggal tertentu.
“Tidak ada hari celaka, nggak ada hari naas,” tegas penutur dalam kajian tersebut.
Penjelasan itu juga menyinggung hari Jumat yang dikenal sebagai hari mulia. Jika suatu musibah kebetulan terjadi pada hari Jumat, hal tersebut tidak lantas membuat Jumat berubah menjadi hari celaka. Hari tersebut tetap dipandang sebagai hari mulia.
Begitu pula dengan tanggal tertentu dalam kalender Islam. Penutur memberikan gambaran bahwa tanggal 18 Dzulhijjah tidak otomatis menjadi hari buruk. Apabila seseorang menggunakan hari tersebut untuk beribadah, maka hari itu menjadi baik baginya. Sebaliknya, apabila seseorang melakukan maksiat pada malam Jumat, keburukan tersebut dikaitkan dengan perbuatannya, bukan karena malam atau harinya.
Musibah Tidak Berarti Hari Naas
Kajian tersebut juga membahas anggapan yang menghubungkan musibah dengan hari tertentu. Penutur menolak pemahaman bahwa sebuah bencana yang terjadi pada tanggal atau hari tertentu menjadi bukti bahwa hari tersebut adalah hari naas.
Baca Juga: Hari Baik Menurut Hitungan Jawa untuk Buka Usaha dan Hajatan, Begini Panduannya
Kejadian musibah disebut perlu dilihat dari sudut pandang orang yang mengalaminya. Bagi orang beriman, musibah yang dihadapi dengan kesabaran justru dapat menjadi kebaikan. Penutur mengutip pemahaman mengenai keadaan orang beriman yang seluruh urusannya memiliki kebaikan.
Ketika mendapatkan musibah, seorang mukmin dianjurkan bersabar. Sementara ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Dalam kajian tersebut, kedua keadaan itu sama-sama ditempatkan sebagai sesuatu yang baik bagi orang beriman.
Karena itu, bencana alam juga tidak otomatis menjadi bukti bahwa suatu hari merupakan hari celaka. Penutur menyinggung peristiwa tsunami di Aceh sebagai contoh. Menurut penjelasan yang disampaikan, peristiwa tersebut tidak semestinya digunakan untuk menyimpulkan bahwa hari ketika bencana terjadi merupakan hari naas.
Diminta Tidak Berprasangka Buruk kepada Allah
Penutur juga menjelaskan bahwa jika seorang wali Allah menyampaikan akan terjadi musibah pada hari tertentu, hal tersebut tidak berarti hari tersebut memiliki sifat naas. Pernyataan seperti itu dalam kajian diposisikan sebagai berita mengenai kemungkinan terjadinya suatu peristiwa, bukan penetapan bahwa hari tersebut merupakan hari buruk.
Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya menjaga prasangka kepada Allah. Penutur mengingatkan agar manusia tidak menganggap suatu hari, tanggal, atau bahkan binatang sebagai pertanda buruk yang harus ditakuti.
Baca Juga: iPad A16 Jadi iPad Termurah 2025, Bawa Chip A16 dan Bisa Update iPadOS 26
Burung gagak juga disebut dalam pembahasan. Menurut penutur, kematian seseorang yang kebetulan terjadi ketika tidak ada burung gagak tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan adanya pertanda tertentu. Setiap hari tetap memiliki kemungkinan terjadi berbagai peristiwa.
Pandangan tersebut kemudian dikaitkan dengan sikap seorang mukmin dalam menghadapi kehidupan. Ketika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, seorang beriman tidak dianjurkan langsung menyalahkan hari, tanggal, ataupun tanda tertentu. Sebaliknya, musibah dapat dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan kepada Allah.
Penutur juga menekankan pentingnya menyampaikan kebenaran tanpa terjebak pada anggapan yang tidak memiliki dasar. Menurutnya, kaidah untuk memahami persoalan tersebut cukup jelas, yakni tidak meyakini adanya hari naas dan tidak membangun prasangka buruk kepada Allah hanya berdasarkan waktu terjadinya sebuah peristiwa.
Dengan demikian, inti kajian tersebut adalah penolakan terhadap anggapan bahwa ada hari tertentu yang secara mutlak membawa kesialan. Hari Jumat, malam Jumat, maupun tanggal tertentu tidak disebut sebagai hari celaka. Baik buruknya keadaan seorang hamba lebih ditekankan pada bagaimana ia menjalani hari tersebut, termasuk ketika beribadah, melakukan maksiat, menerima nikmat, ataupun menghadapi musibah.
Editor : Maylanni Diana Fitri