Rumus Tanggalan Jawa Aboge, Cara Menentukan Hari dan Pasaran Tiap Tanggal 1

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 19:10 WIB
Rumus tanggalan Jawa Aboge menggunakan siklus delapan tahun untuk menentukan hari dan pasaran pada tanggal 1 setiap bulan Jawa.(pinterest)
Rumus tanggalan Jawa Aboge menggunakan siklus delapan tahun untuk menentukan hari dan pasaran pada tanggal 1 setiap bulan Jawa.(pinterest)

JAKARTA - Rumus tanggalan Jawa Aboge digunakan untuk menentukan hari dan pasaran pada tanggal 1 setiap bulan Jawa berdasarkan siklus tahun dalam kalender Jawa. Dalam penjelasan sebuah video, perhitungan tersebut menggunakan pola delapan tahun atau satu windu yang terdiri dari Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir.

Sistem tersebut menjadi dasar untuk mengetahui jatuhnya hari dan pasaran pada awal bulan Jawa. Penutur menjelaskan bahwa setiap tahun memiliki patokan tersendiri untuk tanggal 1. Dengan mengetahui patokan itu, perhitungan tanggal 1 bulan berikutnya dapat dilakukan menggunakan rumus tertentu.

Dalam siklus satu windu, tahun Alip memiliki patokan Rabu Wage. Tahun Ehe menggunakan Minggu Pon, Jimawal Jumat Pon, Je Selasa Pahing, Dal Sabtu Legi, Be Kamis Legi, Wawu Senin Kliwon, sedangkan Jimakir Jumat Legi.

Pola tersebut menjadi bagian penting dalam metode yang dijelaskan karena digunakan sebagai titik awal sebelum menghitung hari dan pasaran pada bulan-bulan berikutnya.

Delapan Tahun dalam Satu Windu

Penutur menjelaskan, masyarakat perlu mengenali terlebih dahulu susunan tahun Jawa dalam satu windu. Urutannya terdiri dari Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir.

Baca Juga: Xiaomi Pad 8 Makin Serius, Bawa WPS PC Level hingga Interkonektivitas

Masing-masing tahun mempunyai patokan hari dan pasaran untuk tanggal 1. Dalam penjelasan video, rangkaian tersebut dirumuskan agar lebih mudah diingat.

Tahun Alip atau Aboge memiliki patokan tanggal 1 berupa Rabu Wage. Tahun Ehe menggunakan Minggu Pon. Selanjutnya, Jimawal memiliki patokan Jumat Pon dan Je menggunakan Selasa Pahing.

Untuk tahun Dal, tanggal 1 berpatokan pada Sabtu Legi. Tahun Be menggunakan Kamis Legi. Tahun Wawu menggunakan Senin Kliwon, sedangkan Jimakir memiliki patokan Jumat Legi.

Patokan tersebut kemudian digunakan untuk menghitung tanggal 1 pada bulan-bulan Jawa, mulai Suro atau Muharam hingga Dzulhijjah atau Besar.

Penutur menjelaskan bahwa terdapat rumus berbeda untuk setiap bulan. Perhitungan dilakukan dengan menggeser jumlah hari dan pasaran dari patokan yang sudah diketahui.

Cara Menghitung Tanggal 1 Bulan Jawa

Salah satu contoh yang diberikan adalah perhitungan bulan Sapar ketika tahun yang digunakan adalah Alip. Patokan tanggal 1 tahun Alip adalah Rabu Wage.

Baca Juga: Hari Baik Menurut Hitungan Jawa untuk Buka Usaha dan Hajatan, Begini Panduannya

Untuk mencari tanggal 1 Sapar, hari digeser tiga langkah dari Rabu. Urutannya Rabu, Kamis, lalu Jumat. Sementara pasarannya digeser satu langkah. Dari Wage, hasilnya menjadi Kliwon jika mengikuti urutan pasaran yang dijelaskan dalam video.

Penutur juga memberikan contoh perhitungan ketika memasuki tahun Ehe. Patokan tanggal 1 tahun tersebut adalah Minggu Pon. Dari titik itu, perhitungan untuk bulan berikutnya dilakukan dengan mengacu pada rumus masing-masing bulan.

Untuk bulan Maulud atau Rabiul Awal, misalnya, rumus yang disampaikan menggunakan pergeseran empat hari dan lima pasaran. Dengan patokan Minggu Pon, hitungan hari bergerak hingga Rabu, sedangkan pasaran bergerak dari Pon, Wage, Kliwon, Legi, hingga Pahing.

Hasil perhitungan tersebut menjadi Rabu Pahing untuk tanggal 1 bulan Maulud dalam contoh yang diberikan.

Penutur menekankan bahwa pola serupa dapat digunakan untuk menghitung awal bulan-bulan Jawa lainnya. Bulan yang disebut dalam penjelasan meliputi Suro, Sapar, Maulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, Ramadan, Syawal, Dulkadah, hingga Besar.

Dengan memahami patokan tahun dan rumus masing-masing bulan, proses menentukan hari dan pasaran pada tanggal 1 dapat dilakukan secara bertahap. Sistem tersebut kemudian berulang mengikuti siklus delapan tahun dalam satu windu.

Penjelasan mengenai rumus tanggalan Jawa Aboge ini ditujukan agar orang yang mempelajarinya tidak selalu bergantung pada pertanyaan mengenai jatuhnya tanggal 1 setiap bulan. Penutur juga membuka kesempatan bagi penonton yang masih mengalami kesulitan untuk bertanya melalui kolom komentar atau mengikuti penjelasan lanjutan.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Aboge hitungan Jawa Rumus Tanggalan Jawa Aboge Tahun Jawa kalender jawa