JAKARTA - Rumus kalender Aboge dapat digunakan untuk mengetahui hari dan pasaran pada tanggal 1 setiap bulan Jawa dengan berpedoman pada siklus delapan tahun. Metode ini mengandalkan sejumlah singkatan yang perlu dihafalkan sebagai patokan perhitungan.
Penjelasan mengenai cara tersebut disampaikan dalam video CSTV Wonosalam. Dalam video itu disebutkan, kalender Jawa yang dibahas memiliki siklus delapan tahun, mulai dari Alif, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu hingga Jimakir.
Setelah Jimakir berakhir, siklus kembali lagi ke Alif. Karena pola tersebut berulang, patokan hari dan pasaran yang digunakan juga mengikuti rumus yang sama.
Hal pertama yang perlu diketahui adalah tanggal 1 Suro pada setiap tahun. Dalam rumus yang dijelaskan, tahun Alif memiliki patokan Rabu Wage. Tahun Ehe memiliki patokan Minggu Pon, sedangkan Jimawal dimulai pada Jumat Pon.
Kemudian tahun Je mempunyai patokan Selasa Pahing. Tahun Dal menggunakan Sabtu Legi dan tahun Be menggunakan Kamis Legi. Untuk tahun Wawu, tanggal 1 Suro jatuh pada Senin Kliwon, sedangkan Jimakir menggunakan Jumat Legi.
Delapan patokan tersebut dirangkum dalam sejumlah singkatan berbahasa Jawa. Tujuannya agar orang yang mempelajarinya lebih mudah mengingat urutan hari dan pasaran pada awal tahun.
Menghitung Awal Bulan Jawa
Setelah patokan 1 Suro diketahui, perhitungan dilanjutkan untuk mencari tanggal 1 bulan lainnya. Dalam video tersebut terdapat rangkaian singkatan yang menjadi rumus pergeseran hari dan pasaran.
Baca Juga: 10 Benda Pembawa Sial Menurut Primbon Jawa, dari Sapu hingga Cermin Pecah Berita:
Untuk Suro atau Muharam, digunakan rumus “jiji”. Artinya, perhitungan dilakukan dengan satu hari dan satu pasaran.
Sementara Sapar menggunakan rumus “parluji”, yakni tiga hari dan satu pasaran. Contohnya, apabila 1 Suro pada tahun tertentu dimulai Rabu Wage, maka perhitungan tiga hari dari Rabu menghasilkan Jumat. Pasaran bergeser satu hitungan dari patokan yang digunakan.
Bulan Mulud atau Rabiul Awal menggunakan rumus empat hari dan lima pasaran. Bakda Mulud menggunakan enam hari dan lima pasaran.
Selanjutnya, Jumadil Awal menggunakan tujuh hari dan empat pasaran. Jumadil Akhir menggunakan dua hari dan empat pasaran. Untuk Rajab digunakan tiga hari dan tiga pasaran, sedangkan Ruwah menggunakan lima hari dan tiga pasaran.
Ramadan memiliki catatan tersendiri dalam penjelasan tersebut. Pembuat video menyebut rumus Ramadan merupakan catatan yang diwariskan orang tua dan masih digunakan sebagai bagian dari upaya melestarikan perhitungan tersebut.
Syawal menggunakan satu hari dan dua pasaran. Setelah itu, Dulkadah menggunakan dua hari dan satu pasaran, sedangkan bulan Besar atau Dzulhijjah menggunakan empat hari dan satu pasaran.
Contoh Tahun Alif dan Wawu
Untuk memperjelas cara penggunaan rumus kalender Aboge, video tersebut memberikan contoh tahun Alif. Patokan 1 Suro tahun Alif adalah Rabu Wage.
Baca Juga: Nogo Dino dalam Hitungan Jawa, Cara Menentukan Arah dan Waktu yang Baik
Dari patokan tersebut, 1 Sapar dihitung menggunakan rumus tiga hari dan satu pasaran. Hasilnya adalah Jumat Wage. Berikutnya, 1 Mulud dihitung menggunakan rumus empat hari dan lima pasaran sehingga diperoleh Sabtu Pon.
Perhitungan kemudian diteruskan ke Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, Ramadan, Syawal, Dulkadah hingga Besar.
Contoh lainnya diberikan untuk tahun Wawu. Tahun tersebut memiliki patokan 1 Suro pada Senin Kliwon. Dengan rumus yang sama, awal Sapar dapat dihitung dari patokan tersebut.
Dari penjelasan itu, cara menghafal kalender Aboge pada dasarnya dibagi menjadi dua bagian. Pertama, menghafalkan delapan patokan tahun untuk tanggal 1 Suro. Kedua, menghafalkan rumus pergeseran hari dan pasaran untuk setiap bulan.
Dengan menguasai kedua bagian tersebut, perhitungan tanggal 1 dalam kalender Jawa dapat dilakukan secara berurutan berdasarkan pola yang dijelaskan dalam video.
Editor : Maylanni Diana Fitri