JAKARTA - Budaya Jawa dan berbagai tradisi di dalamnya dinilai perlu terus dipelajari agar tidak semakin ditinggalkan generasi muda. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengenalkan kembali hitungan Kejawen, adat, kidung, hingga macapat kepada masyarakat.
Hal tersebut menjadi bagian dari percakapan dalam sebuah video yang membahas keresahan terhadap semakin sedikitnya masyarakat yang memahami tradisi Jawa. Dalam perbincangan itu, narasumber menceritakan pengalamannya ketika mengingatkan orang yang hendak menggunakan hitungan Jawa dalam berbagai keperluan, termasuk urusan jodoh dan kegiatan tertentu.
Ia menilai pengetahuan mengenai budaya Jawa masih banyak yang belum dipahami. Padahal, menurutnya, berbagai aturan dan tata cara tersebut merupakan bagian dari warisan leluhur yang perlu dipelajari.
Pembahasan juga menyentuh penggunaan hitungan dalam menentukan kecocokan pasangan. Narasumber mengaku tetap mengingatkan apabila menemukan perhitungan yang menurutnya tidak cocok. Namun, ia juga menyadari bahwa tidak semua orang menggunakan cara pandang yang sama.
Dalam percakapan tersebut muncul pandangan bahwa hasil hitungan tidak semestinya menjadi satu-satunya penentu kehidupan seseorang. Ada pula keyakinan bahwa ketika seseorang telah dipertemukan dengan pasangannya, hal itu dapat dipandang sebagai bagian dari kehendak Tuhan.
Kejawen dan Tradisi yang Mulai Dilupakan
Narasumber menyebut Kejawen memiliki berbagai aturan dan tata cara yang tidak sederhana. Ia mengibaratkannya seperti proses yang membutuhkan tahapan, bukan sesuatu yang dapat dilakukan secara langsung tanpa memahami tatanannya.
Baca Juga: Nogo Dino dalam Hitungan Jawa, Cara Menentukan Arah dan Waktu yang Baik
Menurutnya, kehidupan masyarakat Jawa semestinya juga tidak melepaskan diri dari tradisi yang diwariskan leluhur. Karena itu, ia memilih tetap mempelajari dan menjalankan sebagian hitungan yang diyakininya sebagai bagian dari adat.
Ia juga menyinggung perubahan yang terjadi di kalangan generasi muda. Menurut pembicaraan tersebut, sebagian anak muda sudah tidak lagi mengenal atau mempercayai berbagai pengetahuan tradisional Jawa.
Kondisi itu justru mendorong narasumber untuk menggali kembali pengetahuan yang masih tersisa. Ia ingin pengetahuan tersebut tidak berhenti pada satu generasi, tetapi dapat dipelajari oleh masyarakat yang lebih muda.
Upaya tersebut kemudian dilakukan dengan mengumpulkan orang untuk belajar budaya Jawa. Salah satunya melalui kegiatan macapat. Dalam pertemuan semacam itu, peserta tidak hanya berkumpul, tetapi juga diajak berbicara dan belajar mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan tradisi.
Narasumber menegaskan keinginannya untuk terbuka dalam mengenalkan budaya Jawa. Ia tidak lagi ingin pengetahuan tersebut disampaikan secara sembunyi-sembunyi.
Dalam percakapan itu juga disebut keberadaan MLKI atau Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia sebagai salah satu konteks yang membuat upaya melestarikan kepercayaan dan tradisi tersebut dirasa lebih terbuka.
Kidung sebagai Bagian dari Warisan
Selain hitungan Kejawen dan macapat, percakapan turut membahas kidung. Salah satu yang disinggung adalah Kidung Rumeksa Ing Wengi.
Baca Juga: iPad A16 Jadi iPad Murah Apple, Performa Naik dan Storage 128 GB
Dalam penjelasan singkatnya, kidung tersebut dikaitkan dengan doa atau harapan agar seseorang terhindar dari berbagai gangguan, penyakit, bahaya, serta perbuatan buruk.
Beberapa bagian kidung juga dijelaskan memiliki makna perlindungan. Narasumber menerangkan bahwa unsur-unsur dalam kidung tersebut menggambarkan harapan agar berbagai ancaman tidak sampai mencelakakan seseorang.
Ia juga mengaitkannya dengan sikap untuk tidak melakukan keburukan kepada orang lain. Gambaran mengenai santet dan niat menyakiti muncul dalam pembahasan, tetapi narasumber kemudian menekankan pentingnya mengingat Tuhan dan tidak melakukan dosa.
Percakapan tersebut pada akhirnya memperlihatkan kegelisahan sekaligus upaya mempertahankan budaya Jawa di tengah perubahan zaman. Hitungan Kejawen, tata cara adat, macapat, dan kidung dipandang sebagai bagian dari pengetahuan yang masih ingin dipelajari dan diwariskan.
Bagi narasumber, menjadi orang Jawa bukan hanya soal identitas, tetapi juga bagaimana seseorang memahami serta menghormati peninggalan leluhur. Karena itu, ia memilih terus menggali pengetahuan yang masih tersisa dan mengenalkannya kepada generasi berikutnya.
Upaya nguri-uri budaya Jawa tersebut dilakukan melalui kegiatan belajar dan berkumpul agar tradisi tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap dikenal oleh masyarakat yang hidup di tanah Jawa.
Editor : Maylanni Diana Fitri