JAKARTA - Upaya nguri-uri budaya Jawa terus dilakukan di tengah kekhawatiran semakin banyak generasi muda yang mulai jauh dari tradisi leluhur. Berbagai pengetahuan seperti hitungan Jawa, Kejawen, macapat hingga kidung menjadi bagian dari warisan yang dinilai perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Dalam sebuah perbincangan, narasumber menceritakan kegelisahannya melihat sebagian masyarakat Jawa yang mulai tidak memahami tradisi yang sebelumnya diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah pengetahuan mengenai hitungan Jawa yang masih digunakan dalam sejumlah keperluan adat.
Menurutnya, dalam persoalan perjodohan atau perkawinan, hitungan tradisional terkadang digunakan untuk melihat kecocokan pasangan. Ia bahkan mengaku pernah mengingatkan seseorang ketika menemukan perhitungan yang dianggap tidak cocok berdasarkan aturan yang diyakininya.
Dalam penjelasan tersebut, perhitungan dilakukan dengan menggunakan neptu tertentu. Narasumber memberikan contoh pasangan dengan angka 14 dan 10 yang kemudian menghasilkan angka tertentu. Hasil tersebut dalam perhitungan yang dijelaskan dianggap kurang baik.
Namun, ia juga menegaskan bahwa hitungan tersebut tidak selalu menjadi penentu mutlak. Ketika dua orang akhirnya bertemu dan menjadi pasangan, hal itu tetap dapat dipandang sebagai bagian dari kehendak Tuhan.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa tradisi dan keyakinan masyarakat tidak selalu ditempatkan sebagai sesuatu yang harus menentukan seluruh keputusan hidup. Bagi narasumber, hitungan Jawa lebih menjadi bagian dari pengetahuan adat yang diwariskan oleh leluhur dan tetap dihormati oleh mereka yang menjalankannya.
Belajar Kejawen dan Budaya Jawa
Narasumber juga menjelaskan bahwa Kejawen memiliki banyak aturan dan tata cara. Pengetahuan tersebut dianggap cukup kompleks sehingga tidak mudah dipahami hanya melalui penjelasan singkat.
Baca Juga: Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan lewat JMO, Ikuti Langkahnya
Ia menggambarkan tradisi seperti sebuah rangkaian yang memiliki urutan. Seperti sesuatu yang harus melalui proses tertentu sebelum bisa digunakan, berbagai adat juga memiliki tata cara yang telah dikenal oleh masyarakat sebelumnya.
Persoalannya, pengetahuan tersebut kini dinilai mulai jarang dipahami oleh generasi muda. Sebagian anak muda disebut tidak lagi mengingat berbagai tradisi yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa.
Karena itu, narasumber berusaha mengumpulkan masyarakat untuk belajar bersama. Salah satu kegiatan yang disebut adalah pertemuan macapat. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya berkumpul, tetapi juga mempelajari berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan budaya Jawa.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak seharusnya dilakukan dengan rasa malu atau disembunyikan. Tradisi leluhur justru perlu dipahami agar generasi berikutnya mengetahui akar kebudayaan yang dimiliki.
Ia juga menyebut keberadaan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) dalam pembicaraan mengenai keberadaan dan pelestarian kepercayaan serta tradisi. Pernyataan tersebut disampaikan narasumber dalam konteks pembicaraan mengenai semakin terbukanya ruang bagi masyarakat untuk menjaga tradisinya.
Kidung Jadi Bagian Warisan
Selain hitungan dan macapat, Kidung Rumeksa Ing Wengi turut menjadi bagian dari pembahasan. Narasumber menjelaskan kidung tersebut berkaitan dengan permohonan keselamatan dan perlindungan dari berbagai gangguan serta bahaya.
Baca Juga: Lungguhe Nogo Tahun dalam Hitungan Jawa, Ini Arah yang Perlu Diperhatikan
Dalam percakapan itu, Kidung Rumeksa Ing Wengi diposisikan sebagai salah satu warisan pengetahuan yang masih diingat dan dikenalkan. Narasumber juga mengakui bahwa dirinya tidak menguasai seluruh penjelasan secara sempurna sehingga tidak semua bagian kidung dijabarkan secara rinci.
Bagi narasumber, menjaga budaya Jawa bukan sekadar mempertahankan sebuah kebiasaan. Ada pengetahuan, bahasa, sastra, tata cara dan nilai yang ikut diwariskan di dalamnya.
Karena itu, ia memilih untuk terus mengenalkan tradisi tersebut kepada masyarakat. Harapannya, generasi muda tidak hanya mengenal budaya Jawa sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga memahami berbagai pengetahuan yang berada di dalamnya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari keinginan untuk menjaga warisan leluhur sekaligus mempertahankan identitas budaya Jawa agar tidak semakin terlupakan.
Editor : Maylanni Diana Fitri