NagaNaga Dina dan Patining Dina dalam Hitungan Jawa, Begini Cara Menghitungnya

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 19:55 WIB
Naga Dina dan Patining Dina merupakan hitungan tradisional Jawa berdasarkan hari, pasaran, neptu dan arah. Begini cara menghitungnya.(pinterest)
Naga Dina dan Patining Dina merupakan hitungan tradisional Jawa berdasarkan hari, pasaran, neptu dan arah. Begini cara menghitungnya.(pinterest)

JAKARTA - Naga Dina dan Patining Dina menjadi bagian dari pengetahuan tradisional Jawa yang masih dipelajari hingga kini. Perhitungan tersebut digunakan sebagai pedoman untuk menentukan arah tertentu berdasarkan hari dan pasaran seseorang.

Dalam sebuah perbincangan mengenai Kejawen, narasumber menjelaskan bahwa pengetahuan tentang Naga Dina dan Patining Dina merupakan bagian dari warisan leluhur yang diturunkan secara turun-temurun. Perhitungan ini tidak sekadar berkaitan dengan angka, tetapi juga memiliki makna dan simbol tertentu dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Narasumber menjelaskan, masyarakat zaman dahulu memiliki alasan ketika mengenal istilah Naga Dina atau Jayaning Dina. Pengetahuan tersebut diwariskan dari generasi sebelumnya dan kemudian dipelajari kembali oleh orang-orang yang masih berusaha mempertahankan budaya Jawa.

Dalam perhitungan yang disampaikan, langkah pertama adalah menentukan jumlah neptu berdasarkan hari dan pasaran. Hari dalam hitungan Jawa memiliki nilai masing-masing, yakni Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6 dan Sabtu 9.

Sementara itu, nilai pasaran terdiri dari Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4 dan Kliwon 8.

Setelah nilai hari dan pasaran dijumlahkan, hasilnya menjadi dasar untuk menentukan arah Naga Dina. Narasumber kemudian memberikan contoh Kemis Kliwon. Kamis memiliki neptu 8, sedangkan Kliwon bernilai 8. Dengan demikian, jumlah neptunya menjadi 16.

Angka tersebut kemudian digunakan dalam urutan arah yang dimulai dari wetan atau timur, dilanjutkan ke kidul atau selatan, kulon atau barat, kemudian kembali ke wetan dan seterusnya.

Menurut penjelasan dalam perbincangan tersebut, hasil perhitungan kemudian menunjukkan arah yang berkaitan dengan Naga Dina. Arah itu dipahami sebagai bagian dari pedoman tradisional yang dapat digunakan masyarakat dalam menentukan langkah ketika hendak melakukan kegiatan tertentu.

Patining Dina Punya Perhitungan Berbeda

Selain Naga Dina, terdapat pula Patining Dina. Keduanya sama-sama menggunakan dasar hari dan pasaran, tetapi perhitungannya memiliki tujuan yang berbeda dalam penjelasan tradisional tersebut.

Baca Juga: 10 Benda Pembawa Sial Menurut Primbon Jawa, dari Sapu hingga Cermin Pecah Berita:

Narasumber memberikan contoh Kemis Kliwon dengan jumlah neptu 16. Setelah menentukan hitungan hari dan pasarannya, perhitungan kemudian dilanjutkan menggunakan urutan arah.

Arah yang digunakan tetap berkaitan dengan wetan, kidul dan kulon. Hasil akhirnya digunakan untuk menentukan posisi Patining Dina pada hari tersebut.

Pengetahuan seperti ini biasanya dikaitkan dengan berbagai kegiatan masyarakat. Salah satu contoh yang disebut dalam perbincangan adalah ketika seseorang hendak pindah rumah atau boyongan. Arah menjadi salah satu pertimbangan yang diperhatikan dalam hitungan tradisional.

Namun, narasumber juga mengingatkan bahwa semua yang terjadi pada akhirnya tetap bergantung pada kehendak Tuhan. Perhitungan tersebut dipandang sebagai bagian dari pengetahuan dan tradisi yang diwariskan, bukan sesuatu yang harus diyakini secara mutlak oleh semua orang.

Pembahasan mengenai Naga Dina dan Patining Dina sekaligus menunjukkan bagaimana rumitnya pengetahuan dalam budaya Jawa. Ada hitungan hari, pasaran, angka neptu hingga arah yang saling berkaitan.

Di tengah perubahan zaman, narasumber menilai pengetahuan tersebut perlu tetap dipelajari agar tidak hilang. Ia menekankan pentingnya generasi sekarang mengenal budaya yang ditinggalkan simbah atau leluhur.

Menurutnya, jika berbagai pengetahuan dan kebudayaan Jawa tidak lagi dipelajari, bukan tidak mungkin sebagian warisan tersebut perlahan menghilang. Karena itu, belajar mengenai tradisi menjadi salah satu cara untuk menjaga peninggalan leluhur tetap dikenal.

Perbincangan tersebut pada akhirnya tidak hanya membahas cara menghitung Naga Dina dan Patining Dina. Ada pesan lebih luas mengenai pentingnya mempertahankan budaya Jawa agar generasi berikutnya masih mengetahui berbagai pengetahuan yang pernah hidup di tengah masyarakat.

Dengan begitu, hitungan tradisional seperti Naga Dina dan Patining Dina tetap dapat dipahami sebagai bagian dari sejarah pengetahuan budaya Jawa yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Editor : Maylanni Diana Fitri
naga dina hitungan Jawa Patining Dina kejawen budaya jawa