Sejarah Ponorogo: Dari Wengker, Bathara Katong hingga Jadi Kota Reog

Syarifatul Insaniyah • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 13:00 WIB
Sejarah Ponorogo bermula dari Wengker hingga Bathara Katong, Warok, dan Reog yang menjadi identitas budaya daerah.(PINTEREST)
Sejarah Ponorogo bermula dari Wengker hingga Bathara Katong, Warok, dan Reog yang menjadi identitas budaya daerah.(PINTEREST)

PONOROGO - Sejarah Ponorogo dalam narasi yang dituturkan secara turun-temurun berawal dari wilayah Wengker yang dikenal sebagai kawasan hutan dan memiliki tradisi spiritual kuat. Perjalanan panjang itu kemudian dikaitkan dengan kedatangan Bathara Katong, berdirinya Kadipaten Ponorogo, berkembangnya Warok dan Reog, hingga Ponorogo dikenal sebagai salah satu pusat budaya di Jawa Timur.

Sebelum dikenal sebagai Ponorogo, wilayah tersebut dalam transkrip disebut sebagai kawasan Alas Setren. Masyarakatnya hidup dalam kelompok-kelompok kecil dan mengandalkan hasil hutan. Wilayah itu juga disebut berada dalam kekuasaan Wengker, sebuah kerajaan kecil yang dikenal memiliki kekuatan lokal dan tradisi spiritual.

Wengker digambarkan memiliki hubungan dengan perkembangan kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur, termasuk Kediri, Singhasari, dan Majapahit. Pengaruh Hindu-Buddha disebut membentuk kehidupan sosial serta budaya masyarakatnya.

Ketika Majapahit berkembang, Wengker masuk dalam pengaruh kerajaan tersebut. Meski demikian, struktur lokal dan budaya masyarakat tetap memiliki ruang untuk berkembang. Bahasa Kawi, kesenian wayang dan gamelan, serta tata kehidupan bercorak Jawa klasik disebut semakin berkembang pada periode ini.

Baca Juga: Mengapa Sejarah Pusaka Daerah Perlu Dikaji Ulang? Ini Pentingnya Menelusuri Asal-Usul Warisan Budaya

Keruntuhan Majapahit kemudian menjadi titik perubahan. Di tengah melemahnya kekuasaan pusat dan berkembangnya kerajaan Islam, muncul Bathara Katong yang dalam narasi disebut sebagai salah satu putra Prabu Brawijaya V.

Bathara Katong datang ke Wengker membawa misi penyebaran Islam sekaligus membangun pemerintahan baru. Ia disebut memilih pendekatan budaya dengan membaur bersama masyarakat dan memahami adat setempat.

Perubahan tersebut tidak langsung diterima semua pihak. Ki Ageng Kutu, tokoh adat dan spiritual yang mempertahankan ajaran lama, disebut menentang pengaruh baru tersebut. Konflik kemudian memuncak dalam Perang Setono.

Dalam narasi tersebut, Bathara Katong akhirnya memenangkan pertempuran. Setelah itu, penyebaran Islam dilakukan melalui pembangunan masjid, pesantren, serta kedatangan ulama dan mubalig. Tradisi lokal tidak dihilangkan, tetapi diupayakan menyatu dengan kehidupan masyarakat yang mulai berkembang dalam pengaruh Islam.

Baca Juga: Asal-usul Tulungagung, Berawal dari Rawa Ngowo dan Sayembara Adipati Betak

Pada 11 Agustus 1496, Bathara Katong disebut mendeklarasikan berdirinya kadipaten baru bernama Ponorogo. Nama tersebut diyakini berasal dari istilah Pramana Raga, yang dikaitkan dengan kekuatan jiwa dan raga.

Salah satu unsur penting dalam perkembangan Ponorogo adalah Warok. Dalam transkrip, Warok digambarkan bukan sekadar prajurit, tetapi sosok yang memiliki kekuatan fisik, keteguhan moral, ilmu kebatinan, serta pengaruh sosial.

Warok kemudian menjadi bagian penting dalam perkembangan Reog. Kesenian ini disebut memadukan tari, musik, unsur mistik, satire, dan pesan moral. Tokoh seperti Warok, Klono Sewandono, dan Singa Barong menjadi bagian dari cerita yang berkembang dalam pertunjukan Reog.

Dadak Merak juga menjadi unsur ikonik. Topeng besar berbentuk kepala singa yang dihiasi bulu merak disebut menjadi simbol kekuatan dan pengorbanan.

Seiring perjalanan sejarah, Ponorogo disebut memiliki hubungan dengan Kesultanan Demak dan kemudian Mataram Islam. Para Warok juga dikisahkan berperan dalam berbagai dinamika politik dan perjuangan melawan kolonialisme.

Baca Juga: Asal Usul Tulungagung, Kisah Tulunging Agung yang Diyakini Jadi Awal Nama Kabupaten di Jawa Timur

Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, masyarakat Ponorogo disebut mempertahankan identitas melalui pesantren, tokoh agama, Warok, serta kesenian Reog. Setelah Indonesia merdeka, kesenian tersebut kembali berkembang dan mendapat dukungan melalui berbagai festival.

Memasuki era modern, pemerintah daerah menjadikan budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah. Grebeg Suro berkembang menjadi agenda budaya yang menggabungkan tradisi Islam dan Jawa, termasuk kirab pusaka dan pertunjukan Reog.

Kini, Ponorogo dikenal dengan identitas sebagai Kota Reog. Dalam narasi sumber, Reog bahkan disebut telah diusulkan sebagai warisan budaya tak benda UNESCO. Perjalanan dari Wengker hingga Ponorogo menunjukkan bagaimana sejarah, agama, seni, dan tradisi terus membentuk identitas masyarakatnya.

Editor : Syarifatul Insaniyah
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Sejarah Ponorogo Bathara Katong Warok ponorogo reog ponorogo