PONOROGO - Legenda Reog Ponorogo dalam transkrip ini bermula dari kisah Dewi Songgo Langit, putri Kerajaan Kediri yang menolak menikah sebelum mendapatkan jawaban atas pilihannya. Setelah melakukan tapa, ia mengajukan syarat bagi calon suami. Sang pelamar harus menghadirkan pertunjukan yang belum pernah dilihat sebelumnya, 144 kuda kembar, serta seekor hewan berkepala dua. Syarat itulah yang kemudian mempertemukan Klono Sewandono dengan Singo Barong dan menjadi bagian penting dari asal-usul Reog Ponorogo.
Karena syarat tersebut dianggap sangat berat, banyak orang mengundurkan diri dari sayembara. Namun, dua penguasa menyatakan sanggup memenuhi tantangan itu. Mereka adalah Prabu Klono Sewandono dari Bantarangin di wilayah Wengker dan Raja Singo Barong dari Kerajaan Lodaya.
Keduanya memiliki cara berbeda untuk memenuhi permintaan Dewi Songgo Langit. Klono Sewandono berusaha mengumpulkan seluruh perlengkapan yang disyaratkan, sedangkan Singo Barong mengerahkan bawahannya mencari kuda kembar dan hewan berkepala dua.
Dalam kisah tersebut, Singo Barong digambarkan sebagai sosok berkepala atau berwajah seperti harimau dengan tubuh yang dipenuhi bulu. Ia memiliki kebiasaan memelihara burung merak yang membantu mematuk kutu di kepalanya.
Singo Barong juga mengetahui bahwa Klono Sewandono menjadi pesaingnya. Ia kemudian memerintahkan Patih Iderkolo mengirim pasukan untuk mengintai kerajaan Bantarangin.
Dari hasil penyelidikan, Singo Barong mengetahui bahwa Klono Sewandono hampir memenuhi seluruh syarat Dewi Songgo Langit. Hanya hewan berkepala dua yang belum ditemukan.
Klono Sewandono pun mendapatkan informasi mengenai rencana Singo Barong untuk merebut hasil yang telah dikumpulkannya. Patih Bujang Ganong kemudian membantu melakukan penyelidikan. Pasukan Bantarangin menyamar sebagai rakyat biasa untuk mengetahui gerakan pihak Lodaya.
Baca Juga: Asal Usul Tulungagung, Kisah Tulunging Agung yang Diyakini Jadi Awal Nama Kabupaten di Jawa Timur
Setelah mengetahui rencana tersebut, Klono Sewandono memilih menghadapi Singo Barong secara langsung.
Pertemuan kedua tokoh itu berujung pada pertarungan. Dalam cerita, Klono Sewandono menggunakan pusaka berupa cambuk Samandiman.
Ketika cambuk tersebut mengenai tubuh Singo Barong, terjadi perubahan yang kemudian menjadi titik penting dalam legenda. Leher Singo Barong menyatu dengan burung merak yang berada di atas tubuhnya.
Gabungan sosok seperti harimau dan burung merak itu kemudian terlihat seperti hewan berkepala dua. Singo Barong akhirnya ditangkap dan dibawa ke Kerajaan Bantarangin.
Bagi Klono Sewandono, kejadian tersebut sekaligus memenuhi syarat terakhir yang diajukan Dewi Songgo Langit.
Setelah seluruh persyaratan terpenuhi, Klono Sewandono bersama rombongannya berangkat menuju Kediri. Mereka membawa pertunjukan baru dengan barisan 144 kuda kembar.
Pertunjukan tersebut disertai gamelan, kendang, dan terompet. Di bagian depan barisan terdapat Singo Barong dengan wujud dua kepala yang menari.
Pertunjukan itu akhirnya memenuhi seluruh permintaan Dewi Songgo Langit. Klono Sewandono kemudian menikah dengan sang putri dan disebut tinggal di wilayah Wengker yang kini dikenal sebagai Ponorogo.
Menurut transkrip, masyarakat setempat kemudian menyebut kesenian baru tersebut sebagai Reog Ponorogo. Kisah Dewi Songgo Langit, Klono Sewandono, Singo Barong, Bujang Ganong, hingga 144 kuda kembar menjadi bagian dari legenda yang mengiringi cerita asal-usul kesenian tersebut.
Legenda ini menempatkan pertunjukan Reog bukan sekadar sebagai rangkaian tari dan musik, tetapi sebagai kesenian yang memiliki cerita panjang tentang sayembara, persaingan, pertarungan, dan perjalanan menuju pernikahan Dewi Songgo Langit dengan Klono Sewandono.
Editor : Syarifatul InsaniyahSumber : Diolah dari berbagai sumber