Tulungagung - Saat bertanding pada kejuaraan yang dilaksanakan di Sidoarjo (14-29 Maret) tersebut, lawan yang dihadapi adalah atlet-atlet panahan sudah memiliki nama. Levelnya pun juga sudah di atas Leon (sapaan akrab Muhammad Leonel Lingga Maulana). Tapi beberapa penghargaan tetap dibawa pulang, seperti juara 1 kualifikasi sesi pertama, juara 2 total skor kualifikasi serta juara 3 eliminasi pada kategori standar bow U-13.
“Memang saat pertandingan itu kondisinya susah, salah satunya adalah cuaca hujan menjelang pertandingan yang membuat lapangan venue pertandingan panahan itu penuh lumpur seperti di sawah,” jelas ayah kandung Leon, Andi Prasetyo.
Dia menjelaskan, pertandingan yang dilakukan juga pada musim ujian sekolah. Sehingga sebagai pelajar kelas 6 sekolah dasar (SD), Leon diharuskan untuk pintar membagi waktu untuk jam sekolah maupun latihan panahan persiapan beberapa turnamen yang akan diikuti. “Dia (Leon) sekarang kelas 6, akan menghadapi ujian sekolah serta ujian masuk ke SMP,” jelas Andi, sapaan akrab pria tersebut.
Kebetulan, depan rumahnya yang berada di Perumahan Sobontoro Permai sudah disiapkan fasilitas-fasilitas untuk panahan. Itu seperti beberapa jenis busur panah, anak panah maupun target face. Salah satu konsekuensi menjadi atlet panahan, Leon ditarget Latihan rutin dengan target ratusan tembakan setiap hari. Selain itu juga latihan fisik seperti lari, push-up, sampai plank untuk menguatkan otot lengan. “Kalau seharian Leon sama sekali tidak latihan, biasanya sekitaran pukul 21.00 sampai 22.00, itu latihan nembak jarak pendek di depan rumah. Agar muscle memory Leon tidak hilang, karena gimana pun Latihan harus dikejar,” katanya.
Di tengah-tengah itu, menjaga kondisi kesehatan agar tetap prima menjadi hal wajib. Bisa dibayangkan, dalam sebuah turnamen para atleh panahan harus sudah berada di lapangan tepat pukul 05.30. Seharian waktu yang dibutuhkan dan turnamen selesai paling cepat adalah saat waktu Magrib. Leon selalu bertanding lebih dari satu hari karena lebih dari satu kategori yang diikuti.
Andi melanjutkan, biasanya Leon juga ketiduran di sela-sela istirahat pertandingan. Meskipun hanya dikursi, tapi itu menjadi saat yang tepat untuk mengistirahatkan badan dan pikiran di tengah-tengah turnamen panahan yang diikuti. “Setelah di Sidoarjo, Leon istirahat satu hari kemudian langsung bergeser Kota Solo untuk bermain pada turnamen lainnya,” ungkapnya.
Leon memiliki kelebihan tersendiri pada teknik panahan. Karena menurut Andi, setiap alat mempunyai teknik yang berbeda-beda. Namun, putranya tersebut mampu untuk melahap setiap teknik yang ada. Salah satu faktornya adalah karena Leon menimba ilmu panahan pada salah satu klub panahan di Tulungagung Padepokan Panahan Tulungagung (Papatua). (*/din) Editor : Intan Puspitasari