NASIONAL - Peperangan 10 November 1945 di Surabaya dijuluki sebagai perang neraka.
Perang yang melibatkan tentara Indonesia, arek-arek Surabaya melawan pasukan sekutu, Inggris, itu menelan korban hingga puluhan ribu jiwa.
Berdasar buku yang berjudul 'A History of Modern Indoensia' mencatat, perang 10 November 1945 menimbulkan korban jiwa rakyat Indonesia sekitar 6-16 ribu jiwa.
Sedangkan pasukan sekutu yang tewas pasca perang itu sedikitnya 200 - 2 ribu pasukan.
Slogan 'Merdeka atau Mati' bergema, memantuk api semangat rakyat Indonesia dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Perang neraka yang terjadi di Surabaya ditetapkan menjadi hari Nasional, Hari Pahlawan.
Pengamat sejarah, Nugroho Bayu Wijanarko menceritakan, pasukan sekutu Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI).
"Tujuan awalnya itu untuk melucuti tentara Jepang karena mereka sebagai pemenang perang, sehingga mereka berhak sebagai pemenang perang melucuti tentara Jepang," ungkap Nugroho, dikutip radartulungagung.jawapos.com dari YouTube Zaenal Fathoni, 10 November 2023.
Jika menilai tujuan awal pasukan sekutu, Nugroho mengaku, tidak menjadi masalah bagi rakyat Indonesia karena sebatas melucuti persenjataan pasukan Jepang.
Namun perlu diketahui bahwa kedatangan pasukan sekutu juga disertai dengan kedatangan Netherlands Indies Civil Administration (NICA).
"Ketika Belanda kalah perang dari Jepang pada 1942, mereka itu secara pemerintahan tetap berjalan. Bukan di Hindia-Belanda, tapi berpusat di Australia," ungkapnya.
"Sehingga itu menjadi dalih nih, ketika mereka menang perang itu (Belanda) tetap kembali lagi ke Indonesia," tegasnya.
Ditambah persepsi masyarakat Indonesia, kedatangan NICA ini merupakan siasat pihak Belanda untuk kembali menjajah Indonesia.
"Kemudian diperparah insiden Hotel Yamato dan kelakuan sekutu sebagai pemenang perang itu bertindak terlalu jauh. Bukan hanya melucuti tentara Jepang, tapi juga meminta penduduk untuk menyerahkan senjata yang sudah mereka terima," jelasnya.
Gesekan-gesekan tersebut, menurut Nugroho, yang memicu ketegangan-ketegangan. Sehingga timbul bentrokan-bentrokan bersenjata.
"Sampai timbul korban Brigadir Jenderal Mallaby," ucapnya.
Rentetan itulah yang memicu perang neraka, 10 November 1945.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra