Sinden Gaib merupakan film produksi Starvision Plus yang resmi tayang pada 22 Februari 2024 nanti. Film yang disutradarai langsung oleh Faozan Rizal ini mengangkat kisah nyata dari tanah Trenggalek, Jawa Timur.
Senin (8/1/2024) lalu, akun media sosial resmi dari film Sinden Gaib telah menayangkan official trailer dari film tersebut. Dijelaskan dalam trailer, film ini menceritakan tentang kisah seorang penari bernama Ayu yang diperankan oleh Sara Fajira telah dirasuki oleh seorang sinden dari dunia gaib.
Dalam kisah nyatanya, Ayu adalah seorang siswa SMA yang berasal dari Trenggalek. Ayu yang sedang melakukan proyek pembuatan film bergenre horor akan menunjukkan sebuah seni tari Turonggo Yakso dari Trenggalek.
Kisah tersebut juga diceritakan dalam podcast yang diunggah channel YouTube Bumi Nusantara episode Misteri Desa Penari (Part 1) Awal Cerita, pada 4 tahun lalu.
Singkatnya, ada sekelompok kru sebuah film yang akan membuat proyek film dokumenter tentang sebuah kesenian yang ada di Trenggalek. Yaitu, Jaranan Turonggo Yakso dari sisi sang penarinya.
Ada tiga perempuan bernama Ayu, Rara, dan Keiza yang menjadi tokoh utama dalam film dokumenter tersebut. Ketiga remaja itulah yang menjadi korban teror Mbah Sarinten, seorang sinden dari dunia gaib.
“Kejadian itu terjadi pada tahun 2011 di Desa Dongko, yang menjadi asal mula kesenian tari Jaranan Turonggo Yakso,” kata salah seorang anggota kru film, Rendra, dalam channel YouTube Bumi Nusantara.
Awalnya, mereka datang ke lokasi untuk melakukan take film tersebut pada Jumat pagi. Kemudian setelah salat Jumat selesai, mereka melakukan take film di lokasi pertama yang telah ditentukan yakni area sungai.
Mereka menggunakan empat lokasi untuk pengambilan gambar. Meliputi kantor balai desa, permukiman warga, area sungai di Desa Pandean/Kecamatan Dongko, dan base camp atau rumah Rara pemeran utama film dokumenter tersebut.
Rendra juga mengungkapkan bahwa kru sudah memberi peringatan untuk berhati–hati dan tidak melakukan hal aneh–aneh atau sembrono. Mereka pun langsung pulang ke base camp setelah selesai.
Pada Sabtu pagi atau keesokan harinya, mereka melakukan take lanjutan di lokasi yang sama. Dari situlah mereka menemukan banyak sekali kejanggalan.
Adanya kejanggalan tersebut ternyata disebabkan oleh salah satu kameramen yang membawa batu lintang dari sungai lokasi syuting. Padahal, mereka sudah diingatkan untuk tidak mengambil batu tersebut.
Sikap sembrono itulah yang kemudian menyebabkan banyak kejadian janggal dalam proses pembuatan film. Bahkan, Ayu dan Keiza mengalami kesurupan atau dirasuki oleh Mbah Sarinten, sinden gaib yang menjaga batu dan sungai tersebut.
Akibatnya, hasil syuting dari film dokumenter tersebut tidak bisa tayang karena semua data dalam kamera tiba–tiba menghilang. Hanya ada beberapa yang tersisa sehingga tidak bisa memenuhi visual dari film dokumenter tersebut.***
Editor : Vidya Sajar Fitri