Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Makna Jeruk Sebagai Simbol ‘Terang’ pada Perayaan Imlek

Salsabilla Prestya Cindy • Sabtu, 10 Februari 2024 | 13:45 WIB
Jeruk mandarin sebagai simbol perayaan Imlek.
Jeruk mandarin sebagai simbol perayaan Imlek.

NASIONAL - Perayaan tahun baru masyarakat Tionghoa diperingati selama satu tahun sekali. Peringatan tahun baru tersebut, dalam masyarakat Tionghoa disebut sebagai tahun baru imlek. Tahun baru imlek menjadi momen penting bagi masyarakat Tionghoa.

Selain karena dirayakanya satu tahun sekali, menurut sejarahnya imlek juga merupakan simbol kemenangan masyarakat Tionghoa terhadap kemalangan yang menimpa.

Selain sebagai simbol kemenangan, imlek juga merupakan momen yang membahagiakan.

Hal itu dikarenakan, imlek identik dengan warna yang menyala. Warna kuning, merah, dan emas pasti akan tersorot sejauh mata memandang.

Bukan hanya pernak-pernik yang identik dengan warna-warna tersebut, tetapi juga kue-kue dan buah-buahanya. Salah satu buah yang mesti dijumpai dan berwarna kuning keemasan menyala adalah jeruk mandarin.

Jeruk menjadi buah yang identik dengan perlambangan imlek. Dilansir dari Radar Jombang, perlambangan tersebut dikarenakan simbol warna emas yang melekat pada perayaan imlek yang juga mirip dengan warna buah jeruk.

Warna tersebut menjadi penting karena tak bisa lekang dari jejak legenda yang melingkupinya.

Menurut legenda masyarakat Tionghoa, pada zaman dahulu terdapat monster besar yang berasal dari dasar laut bernama Nian.

Nian muncul setiap tahun penanggalan China untuk memangsa hewan-hewan ternak, dan manusia.

Untuk menanggulangi hal itu, masyarakat melakukan aktivitasnya lebih dini kemudian mengunci kandang ternaknya, untuk kemudian mengungsi ke pegunungan yang jauh.

Lalu, pada suatu hari datanglah seorang kakek-kakek berambut abu-abu yang mendatangi perkampungan yang di teror oleh Nian. Kedatangan kakek tersebut cukup menggemparkan.

Karena, kakek tersebut berjanji untuk menghalau makhluk yang selama ini meneror desa tersebut.

Baca Juga: Juri Audience X factor Indonesia Terkejut, Peserta Ini Ternyata Pernah Ciptakan Lagu untuk Judika

Respons dari warga desa pertama-tama adalah tidak percaya. Alhasil, mereka tetap melakukan rutinitas biasanya, yakni melakukan aktivitas dan mengunci kandang ternak rapat-rapat untuk kemudian mengungsi ke pegunungan yang jauh.

Seperti hari-hari biasanya, Nian tetap datang ke desa tersebut untuk melakukan rutinitasnya.

Tetapi, tepat sebelum Nian mau memangsa ternak, Nian mendengar suara petasan dan melihat kobaran api yang terang.

Melihat fenomena tersebut Nian ketakutan dan tak mau meneruskan aktivitasnya. Sementara itu, kakek tadi mendekatinya dengan menggunakan pakaian berwarna merah menyala. Karena saking ketakutanya, alhasil Nian berlari dengan kencangnya.

Pada keesokan harinya warga desa turun gunung dan kembali ke kampung. Mereka kemudian takjub karena melihat desa dan ternak mereka tidak diacak-acak oleh Nian.

Pada akhirnya, mereka tersadar bahwa kakek tersebut adalah juru selamat yang membantu mereka.

Kemudian, kakek itu berpesan untuk menyiapkan tiga senjata guna menghalau kedatangan Nian. Senjata itu adalah barang-barang yang menyala, seperti warna merah, cahaya terang, serta petasan.

Dari situ, kemudian muncul tradisi orang China untuk memasang benda-benda berwarna merah di sekitar rumah, seperti menggantungkan lentera merah, menyalakan petasan, dan begadang untuk memantau kedatangan Nian.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#imlek #nian #imlek2024 #jeruk mandarin