Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Musim Pancaroba, Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Bulan April Menurut BMKG

Lilla Afiyatunnisa • Selasa, 27 Februari 2024 | 19:15 WIB
ilustrasi cuara ekstrem.
ilustrasi cuara ekstrem.

NASIONAL - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada potensi cuaca ekstrem selama era pancaroba (masa pergantian musim, Red).

Era pancaroba tersebut diprediksi berlangsung pada bulan Maret ini hingga April 2024.

Dilansir dari Jawapos, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengungkap, “Selama periode pancaroba, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem.

"Seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang, angin puting beliung, dan fenomena hujan es,” ujarnya.

Selain itu, Dwikorta juga mengatakan bahwa berdasarkan analisa dinamika atmosfer yang dilaksanakan oleh BMKG, disimpulkan saat ini puncak musim hujan telah terlewati di beberapa wilayah Indonesia, khususnya bagian Selatan Indonesia.

Dengan demikian, wilayah tersebut akan memasuki pergantian musim pada bulan Maret sampai April mendatang.

Kepala BMKG tersebut juga mengungkap bahwa salah satu ciri era pergantian musim adalah dengan adanya pola hujan yang biasa terjadi pada sore hingga menjelang malam hari. Di samping itu, juga didahului adanya udara hangat di di pagi hari dan terik di siang hari.

Fenomena tersebut terjadi akibat radiasi matahari yang diterima pada pagi hari hingga siang hari cukup besar, dan melatarbelakangi terjadinya proses pengangkatan udara (konveksi) dari permukaan bumi ke atmosfer sehingga terbentuklah sebuah awan.

Selanjutnya, Dwikorta menjelaskan bahwa karakteristik hujan pada era pancaroba ini cenderung tidak merata dengan intensitas sedang sampai lebat dalam durasi waktu yang singkat.

Menurutnya, jika kondisi atmosfer menjadi tidak stabil, maka potensi pembentukan awan konventif yakni seperti awan Cumulonimbus semakin meningkat.

Kemudian, awan CB inilah yang menyebabkan potensi terjadinya kilat angina kencang, putting beliung, bahkan hujan es. Bentuk dari awan CB ialah seperti bunga kol dengan warna ke abu-abuan di bagian tepinya.

“Curah hujan yang lebat menjadi salah satu pemicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan tanah longsor,"

"Oleh karena itu, kepada masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan yang rawan longsor, kami imbau untuk waspada dan berhati-hati,” Tegasnya.

“Selain itu, masyarakat diharapkan dapat menyesuaikan aktivitas di luar ruangan termasuk dengan menggunakan perangkat pelindung diri dari terik matahari atau hujan seperti payung, topi, dan jas hujan,” sambungnya.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#bmkg #cuaca ekstrem #pancaroba