NASIONAL - Era digitalisasi membuat sebagian masyarakat Indonesia lebih memilih menghabiskan waktu berselancar di sosial media.
Mengutip dari laman resmi Kominfo RI, wearesocial per Januari 2017 mengungkap bahwa penggunaan gadget di Indonesia mencapai 9 jam dalam sehari. Data itu, menunjukkan kondisi darurat literasi yang sedang terjadi di negara ini.
Berdasarkan survei Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati urutan literasi terendah dengan peringkat ke 62 dari 70 negara.
“Tingkat literasi Indonesia pada penelitian di 70 negara itu berada di nomor 62,” kata Staf ahli Menteri dalam negeri (Mendagri), Suhajar Diantoro dalam Rapat koordinasi nasional bidang perpustakaan tahun 2021. Dilansir dari laman resmi Perpustakaan Kemendagri.
Sebelumnya, Abdul Malik Fadjar, Menteri Pendidikan tahun 2002 mencetuskan perayaan hari buku nasional pada 17 Mei sebagai upaya meningkatkan literasi dan penjualan buku di Indonesia pada saat itu. Mengutip dari laman resmi Kemendikbud.
Peringatan hari buku nasional tidak hanya sekedar memposting pamflet perayaan ataupun sekedar berbagi kutipan epik yang bertebaran.
Tetapi, bagaimana upaya untuk menggugah masyarakat Indonesia kembali memperlakukan buku sebagai kebutuhan.
Dalam memeriahkan perayaan hari buku nasional, terdapat beberapa cara untuk menghidupkan kembali semangat membaca, di antaranya:
1. Menemukan buku dengan genre yang disukai.
2. Mengunjungi perpustakaan daerah, kota, maupun nasional
3. Mengikuti kegiatan yang mendorong minat membaca seperti diskusi buku atau pertukaran buku
4. Menghargai penulis-penulis lokal
5. Menulis dan berbagi cerita.
Masih mengutip dari laman resmi Kemendikbud. Setelah melihat tujuan mulia dari peringatan hari buku nasional, Abdul Malik tidak hanya sekedar mengajak masyarakat Indonesia untuk menyelami buku dan meresapi makna.
Di balik itu, ada yang lebih penting adalah mendorong revitalisasi industri buku yang sempat tertinggal serta sebagai modal dasar dalam pembangunan negara.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra