NASIONAL - Beberapa waktu lalu, seruan "All Eyes On Rafah" ramai di sosial media, bahkan seruan itu tak luput diunggah oleh beberapa publik figur.
Unggahan "All Eyes on Arafah' lalu di tengah masifnya serangan Israel di Rafah.
Di X (dulunya Twitter, Red) kata kunci “All Eyes On Rafah” sempat naik hingga trending topik karena tercatat ada 711 ribu postingan.
Nah, mengapa banyak masyarakat dunia yang menggunakan kata kunci tersebut dalam postingan sosial media?
Rafah adalah satu-satunya kota aman yang tersisa di Gaza, Rafah berada di perbatasan Mesir dan Gaza.
Namun serangan yang dilancarkan Israel membuat Mesir terpaksa menutup jalur. Satu-satunya jalur bantuan internasional menuju ke Gaza, Palestina pun tertutup juga.
Dikutip dari forbes seruan "All Eyes On Rafah" berasal dari komentar dari richard peeperkorn.
"Apa yang terjadi di Gaza Palestina bukan lagi peperangan melainkan genosida, genosida merupakan sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa dengan maksud memusnahkan bangsa tersebut"
"Jika dilihat diri video-video yang tersebar apa yang terjadi di Rafah sangatlah kejam, diketahui bahwa Rafah merupakan satu satunya zona aman yang tersisa di Gaza"
Dalam video tersebut terlihat ada bayi yang kepalanya hampir putus serta para pengungsi yang dibakar hidup-hidup oleh tentara israel
Kebanyakan masyarakat dunia menentang serangan tentara Israel ke Gaza karena serangan yang dilakukan setelah Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) memerintahkan Israel untuk menghentikan operasi militernya di Rafah.
Gerakan All Eyes On Rafah merupakan gerakan serta ajakan kepada seluruh dunia agar tidak acuh dengan apa yang dialami Palestina, kemudian agar semua orang dapat memantau perkembangan di Rafah.
Seruan ini juga diharapkan dapat memancing gerakan lebih besar dan berarti agar dunia tak acuh dengan terhadap genosida yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra