Radar Tulungagung - Pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa makin banyak anak muda zaman sekarang yang betah menjomblo?
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren yang cukup mencengangkan. Di tahun 2022, ada sekitar 64,56% atau 65,82 juta pemuda Indonesia yang belum menikah.
Angka ini terus meroket hingga mencapi 69,75% di tahun 2024. Kira-kira, apa yang membuat generasi muda enggan naik pelaminan?
Faktor Psikologis: Mencari Keintiman atau Menghadapi Isolasi
Menurut teori psikososial Erik Erikson, generasi muda saat ini, menghadapi konflik antara keintiman dan isolasi.
Banyak Gen Z yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan intim karena pengaruh masa kecil yang tidak stabil atau kurangnya keterampilan sosial.
Hal ini membuat mereka lebih sulit untuk membentuk hubungan yang sehat dan langgeng.
Konflik psikososial ini dimulai dari tahap awal perkembangan manusia. Misalnya, pada tahap “trust versus mistrust” (percaya diri vs kurang percaya).
Banyak anak-anak Gen Z mengalami kesulitan karena lingkungan keluarga yang tidak mendukung atau bahkan kasus-kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).
Riset Populix: Tidak Berencana Menikah?
Riset lain menunjukkan bahwa dua dari sepuluh Gen Z dan millenial tidak memiliki rencana untuk menikah.
Apa alasannya? Ternyata, banyak dari mereka merasa tidak mampu merencanakan masa depan bersama pasangan karena berbagai hambatan, mulai dari masalah ekonomi atau preferensi pribadi.
Ekonomi: Beratnya Hidup di Era Serba Mahal
Tidak bisa dipungkiri, kondisi ekonomi saat ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat anak muda berpirkir dua kali untuk menikah.
Biaya hidup yang tinggi membuat banyak orang merasa tidak siap secara finansial untuk membiayai keluarga sendiri.
Di Jakarta misalnya, gaji rata-rata sering kali dianggap tidak cukup untuk mendukung gaya hidup mapan.
Terutama jika harus menyediakan dana tambahan untuk biaya rumah tangga seperti sewa tempat tinggal dan biaya pendidikan anak nanti.
Fenomena Sosial Media: Mencari Pasangan “Mapan”
Di platform sosial media seperti Twitter dan Instagram banyak perempuan mencari pasangan dengan status “mapan”.
Namun, fenomena ini diperparah oleh sikap selektif dalam memilih pasangan.
Banyak orang mudah memberi label “red flag” pada calon pasangan tanpa menyadari bahwa diri sendiri juga memiliki kekurangan serupa.
Apakah ini tentang mencari pasangan ideal, atau sekedar memenuhi standar gengsi di media sosial?
Jadi, bagaimana menurutmu sobat RaTu? Apakah tren anak muda yang ogah nkah ini akan terus berlanjut? Atau ada faktor lain?(Neha)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz