Radar Tulungagung - Awalnya #KaburAjaDulu muncul ketika warganet mengeluhkan kebijakan-kebijakan baru dari pemerintah Indonesia yang membuat masyarakat susah untuk mapan dan berkembang.
Hal ini berujung dengan gerakan #KaburAjaDulu yang menampilakan kesuksesan warga negara Indonesia (WNI) ketika bekerja di luar negeri.
Bahkan gerakan dari #KaburAjaDulu tersebut mempersoalkan terkait nasionalisme anak muda dalam mencintai bangsanya.
Politikus sekaligus mantan pasangan calon Presiden pada Pemilu tahun 2024, Anis Baswedan membuat vidio terkait pandangannya terhadap gerakan #KaburAjaDulu
Pada vidio berdurasi 02.44 menit tersebut, Anis menjawab pertanyaan dari warganet terkait bagaimana cara mencintai bangsa Indonesia.
Menurut Anis, mencintai bangsa itu tidak hanya sekedar bangga ketika kondisi negara baik-baik saja. Justru kecintaan terhadap negara diuji ketika negara menghadapi banyak tantangan.
“Tetapi amat wajar ketika kita merasa lelah. Perjuangan tanpa istirahat itu bisa terasa berat, ini seperti bertepuk sebelah tangan. Sudah berusaha tapi rasanya seperti tidak ada balasan,” jelas Anis dalam vdidio tersebut.
Anis pun menyarankan untuk berhenti sejenak. Bukan berarti untuk menyerah, melainkan untuk mengambil nafas untuk kembali mencintai bangsa dengan energi yang lebih baik.
Apalagi mencintai bangsa Indonesia memang membutuhkan kesabaran, dan ketabahan. Layaknya generasi 1908 dan generasi 1928, dimana sebagian dari mereka tidak pernah melihat Indonesia merdeka.
“Tapi mereka tetap bergerak maju, meski dianggap bermimpi tinggi seperti mimpi di siang bolong,” ucapnya.
Perjuangan dari generasi bangsa Indonesia di tahun 1908 dan 1928 layaknya lomba maraton dan estafet yang dijadikan satu. Bergantian tetapi tetap melangkah ke depan.
Anis juga menyampaikan, mencintai bangsa Indonesia tidak ada kaitannya dengan lokasi tempat tinggal. Banyak tokoh bangsa kita yang lama hidup di luar negeri dan tetap berkontribusi untuk bangsa Indonesia.
Pada vidio tersebut, Anis menyebutkan, nasionalisme itu bukan soal di mana kita tinggal. Tetapi bagaimana kita memberi manfaat kepada negeri ini sekecil apapun.
“Jadi untuk yang memutuskan ke luar negeri dengan alasan kebutuhan diri dan keluarga itu sah-sah saja. Tetapi kita tahu, tidak semua punya kesempatan ke luar negeri,” pungkasnya.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz