TULUNGAGUNG - Dedi Mulyadi merupakan tokoh politik dengan karakteristik sosial budaya sunda khas Jawa Barat yang begitu kental.
Perbedaan sosial budaya antara Jawa Barat dengan Jawa Timur di tangan kepemimpinan Dedi Mulyadi akan menarik karena menyentuh soal kompatibilitas antara karakter politik dan kebijakan kontroversi dengan karakteristik sosial budaya yang berbeda.
Lantas, bagaimana jika Dedi Mulyadi menjadi Gubernur Jawa Timur dengan kebijakan-kebijakan kontroversinya.
Kebijakan kontroversi yang dibangun oleh Dedi Mulyadi dalam kepemimpinannya di Jawa Barat sarat akan langkah-langkah nyleneh dengan dibalut komunikasi populis melalui media sosial.
Kebijakan soal jam sekolah, memasukkan anak nakal ke barak militer, hingga meniadakan pekerjaan rumah bagi pelajar menjadi langkah nyleneh yang berani diambil oleh Dedi Mulyadi dalam kepemimpinannya di Jawa Barat.
Apabila kebijakan dan langkah Dedi Mulyadi diterapkan di Jawa Timur akan muncul adanya ketegangan atau resistensi dari sosial budaya masyarakat.
Baca Juga: Korban TPPO Asal Tulungagung Masih Terus Diteror Kekasih dari Kamboja, Pihak Keluarga Buka Suara
Budaya Jawa Timur yang lebih blak-blakan dan egaliter membuat kondisi sosial budaya masyarakat berbeda dengan Jawa Barat.
Dengan kondisi sosial budaya tersebut, Jawa Timur lebih membutuhkan pemimpin yang tegas dan tidak terlalu simbolik dalam adat.
Langkah populis berbasis media sosial bisa menjadi langkah ciamik di awal, tetapi akan dirasa skeptis jika tidak mampu menyentuh kebutuhan struktural masyarakat.
Baca Juga: Gaji ke-13 Cair Mulai 2 Juni, Berikut Besaran Gaji ke-13 ASN, TNI, Polri dan Pensiunan
Kebutuhan struktural layaknya isu agraria, kemiskinan pedesaan, hingga industrialisasi di Jawa Timur masih menjadi rongga besar yang belum terjamah oleh kepemimpinan sekarang.
Tidak menutup kemungkinan jika masih terdapat peluang adaptasi bagi Dedi Mulyadi untuk memimpin Jawa Timur dengan mengadopsi pendekatan kultural lokal.
Merangkul tokoh agama atau pesantren serta memahami struktural sosial khas wilayah Madura, tapal kuda, dan mataraman dapat menjadi peluang Dedi Mulyadi untuk memimpin Jawa Timur.
Ketimpangan pembangunan antar wilayah di Jawa Timur menjadi rongga serius yang belum dapat teratasi hingga sekarang.
Baca Juga: Prabowo di Hari Lahir Pancasila: Setia pada NKRI adalah Jaga Kepercayaan dan Jangan Curi Uang Rakyat
Apabila Dedi Mulyadi dapat menyentuh isu nyata masyarakat Jawa Timur seperti ketimpangan pembangunan, reformasi pertanian, serta penguatan UMKM, maka tak ayal jika Dedi Mulyadi dapat membawa warna baru di Jawa Timur.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz