JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau 2025 datang lebih terlambat.
Musim kemarau kali ini juga diprediksi BMKG berlangsung lebih singkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Biasanya musim kemarau mulai dirasakan sejak Mei.
Namun tahun ini, BMKG memperkirakan kemarau baru akan berlangsung mulai Juli dan berakhir pada September.
Hujan diprediksi kembali turun secara bertahap mulai akhir September hingga awal Oktober.
Perubahan pola cuaca ini justru membawa keuntungan bagi para petani di beberapa wilayah.
Terutama bagi petani padi yang sangat bergantung pada pasokan air untuk menanam dan memanen.
Di daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan, musim kemarau yang datang terlambat membuat petani masih bisa melakukan tanam tambahan.
Ketersediaan air di sawah dan jaringan irigasi masih mencukupi.
Ini membuat mereka tidak terburu-buru menyelesaikan musim tanam, bahkan membuka peluang panen tambahan.
Petani tidak hanya terbantu oleh ketersediaan air.
Mereka juga lebih tenang karena risiko gagal panen akibat kekeringan bisa ditekan.
Dalam situasi normal, kekeringan di puncak kemarau sering membuat hasil pertanian turun drastis.
Namun di tahun ini, kondisi justru menguntungkan. Produktivitas pun diperkirakan tetap tinggi.
Air yang melimpah membantu pertumbuhan padi lebih optimal.
Biaya tambahan untuk menyedot air atau memperbaiki irigasi juga bisa ditekan.
Bagi banyak petani, ini menjadi kabar baik yang jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap cuaca ekstrem saat masa peralihan.
Angin kencang, hujan mendadak, hingga banjir masih mungkin terjadi, terutama di daerah rawan seperti dataran rendah atau wilayah pesisir.
Fenomena kemarau pendek ini juga menunjukkan bahwa pola cuaca Indonesia semakin sulit diprediksi.
Perubahan ini menuntut pemerintah dan petani untuk lebih fleksibel.
Pemerintah daerah perlu memastikan ketersediaan data cuaca yang akurat.
Petani juga perlu cepat beradaptasi, termasuk dalam memilih waktu tanam dan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi.
Musim kemarau 2025 bisa menjadi pelajaran penting.
Terutama bagaimana memanfaatkan kondisi cuaca yang tidak biasa untuk mendukung produksi pangan nasional. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah