JAKARTA-Bahaya jalur curam di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, masih kerap diremehkan para pendaki.
Padahal, medan ekstrem di Gunung Rinjani yang memiliki ketinggian 3.726 meter itu sudah berulang kali memakan korban.
Terbaru, insiden tragis menimpa Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang ditemukan tewas di kedalaman sekitar 590 meter di Gunung Rinjani.
Relawan sekaligus porter senior Rinjani, Agam Rinjani mengungkapkan, titik jatuhnya Juliana Marins merupakan salah satu area paling berbahaya di Gunung Rinjani.
Jalur curam, longsoran batu, hingga minimnya pijakan membuat lokasi tersebut sulit diakses, bahkan oleh tim penyelamat berpengalaman sekalipun.
"Kalau di titik itu saya belum pernah turun sebelumnya, cuma di atas-atasnya sering. Dulu sering ambil drone jatuh di sekitar sana," kata Agam Rinjani.
Agam Rinjani menegaskan, medan ekstrem tersebut bukan jalur resmi pendakian, melainkan tebing curam yang sangat rentan longsor.
Menurut Agam Rinjani, bahaya utama bukan hanya soal ketinggian. Namun juga efek dari batu-batu kecil yang mudah menggelinding atau jatuh dari atas.
"Batu kecil itu kalau jatuh dari ketinggian, power-nya berlipat-lipat. Kena kepala bisa bolong, seperti peluru," jelasnya.
Hal itulah yang dialami tim evakuasi saat mengevakuasi jenazah Juliana Marins. Di tengah proses penyelamatan, mereka harus menghadapi hujan batu yang mengancam keselamatan.
"Kami di bawah sudah teriak ke atas, jangan banyak gerakan, karena bisa bahaya. Tapi tetap saja, hujan batu turun," ungkapnya.
Agam Rinjani menambahkan, medan yang ditempuh tim rescue saat itu tergolong ekstrem dengan jarak pandang sempit akibat kabut tebal.
Bahkan, proses pengangkatan jenazah Juliana Marins memakan waktu sekitar sembilan jam, karena tim harus hati-hati memasang tali dan membawa korban naik perlahan.
Meski kasus jatuhnya Juliana Marins menjadi perhatian luas, Agam Rinjani menilai masih banyak pendaki yang meremehkan bahaya jalur-jalur curam di Rinjani.
"Rata-rata karena tidak siap. Ada yang jatuh karena mau kencing, ada yang karena mau ambil barang yang terjatuh," katanya.
Salah satu kasus yang nyaris berujung fatal adalah peristiwa yang menimpa seorang pendaki asal Irlandia.
"Kos tangannya jatuh, dia ambil, langsung terjungkir ke jurang. Untung nyangkut di batu di kedalaman 38 meter. Kalau enggak, bisa jatuh ke jurang yang sama kayak Juliana, 500 meter ke bawah," terang Agam Rinjani.
Agam Rinjani menyebut, medan Gunung Rinjani memang menyimpan banyak titik berbahaya yang tidak semua pendaki pahami.
"Kalau cuma lihat peta atau Google Earth, gambarannya beda. Di lapangan, kadang jalur berubah karena longsor atau pergeseran tanah," jelasnya.
Karena itu, ia selalu mengingatkan pendaki agar tidak asal naik tanpa persiapan. Memilih operator resmi dan berpengalaman menjadi hal mutlak.
Selain itu, setiap pendaki wajib mempersiapkan kondisi fisik, perlengkapan keselamatan, serta memahami karakter jalur pendakian.
Agam Rinjani juga berharap pemerintah maupun pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani bisa meningkatkan edukasi keselamatan bagi pendaki. Menurutnya, keberadaan tim rescue tetap penting, tetapi pencegahan jauh lebih utama.
"Kalau ada yang jatuh, semua rugi. Gunung ditutup, masyarakat sekitar kehilangan penghasilan. Makanya harus sama-sama jaga keselamatan," tegasnya.
Sebagai informasi, insiden jatuhnya Juliana Martins terjadi pada akhir Mei lalu. Proses evakuasi berlangsung dramatis karena medan ekstrem dan keterbatasan alat.
Jenazah akhirnya berhasil dibawa naik setelah tim bekerja selama berjam-jam di bawah guyuran hujan batu.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa mendaki Gunung Rinjani berisiko besar. Tanpa kesiapan dan kehati-hatian, perjalanan yang seharusnya menjadi pengalaman indah bisa berubah menjadi petaka. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah