PROBOLINGGO- Jauh sebelum Gunung Bromo menjadi ikon wisata, wilayah pegunungan Tengger pernah dikuasai oleh sosok besar yang kini hanya hidup dalam jejak geologi yakni Gunung Tengger.
Menurut ahli geologi, gunung ini dulunya menjulang lebih dari 4.000 meter dan termasuk salah satu gunung api terbesar di masa prasejarah.
Namun, kisahnya tidak berakhir dengan kemegahan.
Lebih dari 45.000 tahun yang lalu, Gunung Tengger mengalami letusan supervolkanik, letusan yang kekuatannya bisa melampaui Gunung Tambora atau bahkan Krakatau.
Letusan itu bukan hanya menghancurkan puncaknya, tetapi juga menyebabkan tubuh gunung runtuh ke dalam perut bumi.
Hasil dari letusan itu adalah Kaldera Tengger, cekungan raksasa yang kini menjadi dasar lautan pasir Bromo.
Fakta Geologi menyebutkan Kaldera Tengger memiliki diameter sekitar 10 km dan luas lebih dari 5.250 hektar.
Dinding kalderanya menjulang antara 200 hingga 600 meter.
Saat kamu berdiri di lautan pasir Bromo, kamu sejatinya sedang berdiri di atas sisa letusan raksasa puluhan tahun lalu.
Hamparan pasir vulkanik yang membentang seluas ribuan hektare itu adalah endapan dari debu, pasir, dan batuan panas yang dimuntahkan saat letusan besar terjadi.
Uniknya, fenomena lautan pasir ini sangat langka di dunia dan menjadi salah satu keunikan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Baca Juga: Wisata ke Bromo Naik DAMRI, Apa Saja Kelebihanya?
Menurut data yang ada, wilayah ini terbentuk melalui berbagai fase letusan gunung api purba, termasuk Nongkojajar, Ngadisari, dan Tengger Tua, yang semuanya berkontribusi dalam membentuk kaldera besar tersebut.
Gunung Bromo: Anak dari Kehancuran
Dari kehancuran Gunung Tengger, lahirlah Gunung Bromo, yang kini berdiri di tengah Kaldera Tengger.
Dengan ketinggian sekitar 2.329 mdpl, Bromo adalah gunung berapi aktif yang terus menunjukkan aktivitasnya hingga saat ini.
Letusan-letusannya, meski tidak sebesar sang induk, tetap menjadi daya tarik sekaligus pengingat bahwa kawasan ini masih hidup secara geologi.
Menurut data dari Badan Geologi aktivitas Gunung Bromo telah tercatat sejak tahun 1804, dan terakhir mengalami letusan freatik pada Juli 2019.
Gunung Bromo tidak hanya memiliki nilai ilmiah, tetapi juga spiritual.
Setiap tahun, masyarakat suku Tengger menggelar Upacara Yadnya Kasada untuk menghaturkan persembahan kepada Sang Hyang Widhi dan leluhur mereka, dengan melemparkan hasil bumi ke dalam kawah Bromo.
Kisah Lokal: Dari Legenda ke Realita
Legenda Roro Anteng dan Joko Seger turut memperkuat posisi Gunung Bromo dalam hati masyarakat.
Dalam cerita rakyat tersebut, pasangan suami istri ini memohon keturunan kepada dewa dan harus mengorbankan anak bungsu mereka ke kawah gunung sebagai imbalan.
Kisah itu dipercaya sebagai asal mula upacara Kasada dan menjadi bagian penting dari identitas budaya suku Tengger.
Gunung Tengger memang telah tiada, namun jejaknya masih membekas dalam bentuk kaldera, lautan pasir, dan Gunung Bromo yang terus mengepul.
Kisahnya adalah pelajaran tentang bagaimana alam bisa menciptakan keindahan dari kehancuran.
Saat kamu berjalan menyusuri pasir di Bromo, kamu tidak hanya melihat pemandangan alam yang indah, tapi juga berada di atas makam sebuah gunung raksasa yang pernah menguasai langit Jawa Timur.
Gunung yang meledak, menghilang, dan justru melahirkan keajaiban. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah