RADAR TULUNGAGUNG - Fenomena bank run kembali mencuat di Indonesia setelah masyarakat secara masif menarik dana dari rekening mereka, menyusul kebijakan PPATK yang memblokir rekening tidak aktif (rekening "nganggur").
Ketidakjelasan informasi dan rasa takut kehilangan tabungan membuat kepercayaan publik terhadap sistem perbankan mulai goyah dan memicu bank run.
Situasi bank run memicu kekhawatiran besar: apakah ekonomi Indonesia sedang menuju krisis keuangan?
Bank run adalah situasi ketika banyak nasabah secara serentak menarik dana karena takut kehilangan akses terhadap tabungan mereka.
yang berbahaya karena bank tidak menyimpan 100 persen dana secara tunai, sehingga dapat mengganggu likuiditas dan memicu efek domino yang mengancam stabilitas sistem keuangan dan ekonomi nasional.
Kebijakan PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) yang memblokir rekening yang tidak aktif selama tiga bulan menuai polemik.
Banyak warga mengeluhkan tidak mendapatkan notifikasi atau informasi yang jelas, meski rekening mereka tidak digunakan untuk aktivitas ilegal.
Baca Juga: Ciri Rekening yang Diblokir, PPATK: Dilihat dari Profil Nasabah Risiko Transaksinya
Imbas dari bank run ini sudah terasa. Ratusan ribu nasabah menarik dana dari tabungan mereka dalam beberapa minggu terakhir.
Menurut laros.id, saham-saham perbankan besar seperti BBCA dan BMRI mulai tertekan. Investor asing pun tercatat mulai melakukan aksi jual karena khawatir terhadap stabilitas sistem perbankan nasional.
Jika tidak segera ditangani, krisis kepercayaan ini bisa menjalar ke sektor riil dan memperlambat pemulihan ekonomi Indonesia.
Baca Juga: Viral: Rekening Diblokir PPATK, Seorang Wanita Tak Bisa Bayar Biaya Operasi di Rumah Sakit
Fenomena rakyat menarik uang dari bank secara besar-besaran bukan hanya tanda kepanikan, tapi cerminan krisis kepercayaan yang harus segera ditangani.
Jika tidak, bank run bisa menjadi awal dari guncangan ekonomi nasional yang lebih besar. Pemerintah, PPATK, dan lembaga keuangan wajib hadir untuk meredam ketakutan dan memastikan sistem keuangan tetap stabil.
Editor : Dharaka R. Perdana