Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ayah Prada Lucky Tak Terima Kematian Anaknya, Tuntut Hukuman Mati Bagi Pelaku Dugaan Penganiayaan

Betty Khasandra Pujayanti • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 01:07 WIB

Kristian Namo meluapkan amarah dan kesedihan saat jenazah anaknya, Prada Lucky, tiba di Kupang, disaksikan keluarga dan rekan sesama prajurit.
Kristian Namo meluapkan amarah dan kesedihan saat jenazah anaknya, Prada Lucky, tiba di Kupang, disaksikan keluarga dan rekan sesama prajurit.

RADAR TULUNGAGUNG - Ayah Prada Lucky Namo menuntut keadilan atas kematian anaknya yang diduga dianiaya oleh sesama prajurit di satuan TNI.

Sersan Mayor Kristian Namo, ayah Prada Lucky, meluapkan amarah di depan publik setelah jasad anaknya dipulangkan ke Kupang dalam kondisi penuh luka.

Prada Lucky merupakan prajurit muda TNI yang baru dua bulan bertugas saat diduga menjadi korban penganiayaan oleh seniornya di satuan tempur Yon TP 834.

Baca Juga: Indonesia Makin Dipandang, Presiden Prabowo Ungkap Negara Lain Minta Prajurit RI Isi Parade Hari Nasional

Dia sempat dirawat secara intensif di ruang ICU RSUD Aeramo, Nagekeo, NTT, tetapi nyawanya tidak tertolong usai mengalami trauma berat.

Dalam video yang beredar luas di media sosial, ayah Prada Lucky menyampaikan kekecewaannya secara terbuka, bahkan menuntut hukuman maksimal bagi pelaku.

“Kalau bisa semua dihukum mati biar tidak ada Lucky yang lain. Anak tentara aja dibunuh, bagaimana yang lain,” ujarnya penuh emosi.

Baca Juga: Pelajar di Kabupaten Tulungagung Meninggal Usai Olahraga, Keluarga Korban Cerita AS Dulu Punya Impian Menjadi TNI, Begini Kisah Lengkapnya

Kristian Namo juga mengaku kecewa karena dua rumah sakit tentara di Kupang tak siap melakukan autopsi jenazah anaknya.

Dia kemudian memutuskan memindahkan jenazah dari RS Tentara ke rumah sakit sipil agar proses pemeriksaan bisa dilakukan secara independen.

“Negara Indonesia bubarkan saja kalau keadilan memang tidak akan terjadi,” katanya dengan nada tinggi saat ditemui di rumah sakit, Jumat (8/8/2025).

Baca Juga: Korban Asal Kampak Jalani Perawatan Usai Jadi Objek Penganiayaan

Dalam foto dan rekaman yang tersebar, tubuh Prada Lucky terlihat dipenuhi luka lebam serta memar, bahkan tampak luka tusukan di bagian punggung.

Kristian yakin bahwa kematian anaknya bukan karena sebab alami, melainkan akibat penganiayaan berat oleh rekan-rekan satu batalyon di Yon TP 834.

“Keadilan pasti Tuhan akan mendukung, yang penting berani. Saya tidak takut siapapun kecuali Tuhan,” katanya dengan nada tegas.

Sebagai anggota Kodim 1627 Rote Ndao, Kristian menyadari perjuangannya berat, tetapi dia bersikukuh akan menempuh semua jalur hukum untuk menuntut keadilan.

Sementara itu, pihak Korem 161/Wira Sakti menyatakan kasus ini masih dalam penyelidikan dan belum ada keterangan resmi dari komando satuan terkait.

Baca Juga: Seorang Siswa di Tulungagung Kena Kekerasan Fisik, Begini Kronologinya

Empati publik terus mengalir. Banyak warganet membagikan video pernyataan sang ayah disertai harapan agar TNI benar-benar transparan dalam menindak kasus ini.

Pihak keluarga mengaku tidak akan berhenti bersuara sampai semua pelaku penganiayaan yang menyebabkan kematian Prada Lucky dihukum setimpal.

Kasus Prada Lucky menjadi pengingat penting bagi semua pihak untuk mendorong budaya saling menghormati dalam sebuah institusi. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#Prada Lucky Chepril Saputra Namo #Kristian Namo #kupang #dugaan penganiayaan #prajurit tni