Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tandyo Budi Revita Pernah Menulis Buku Otobiografi sebagai TNI, Begini Pendapat Penyuntingnya

Dharaka R. Perdana • Senin, 11 Agustus 2025 | 22:05 WIB

Sampul buku Jejak Petarung dari Pajang karya Jenderal TNI Tandyo Budi Revita. (ELEX MEDIA KOMPUTINDO)
Sampul buku Jejak Petarung dari Pajang karya Jenderal TNI Tandyo Budi Revita. (ELEX MEDIA KOMPUTINDO)

RADAR TULUNGAGUNG - Presiden Prabowo Subianto akhirnya melantik Letnan Jenderal Tandyo Budi Revita sebagai Wakil Panglima TNI.

Rekam jejak pria kelahiran Surakarta 21 Februari 1969 di bidang kemiliteran memang tidak perlu diragukan lagi. 

Segudang pengalaman dan jabatan stragetis pernah diemban Tandyo Budi Revita sebelum dilantik sebagai orang nomor dua di tubuh TNI ini.

Baca Juga: Rekam Jejak Tandyo Budi Revita, Sosok Wakil Panglima TNI Era Presiden Prabowo

Pengalaman pria 56 tahun ini pun pernah dibukukan dalam otobiografi berjudul Jejak Petarung dari Pajang (Jati Diri, Kepemimpian, dan Pengabdian) yang ditulisnya sendiri.

Penyunting buku Jejak Petarung dari Pajang Ghulam Amani mengatakan, buku ini membahas tentang kiprah seorang abdi negara sekaligus petarung yang tangguh yaitu Letnan Jenderal TNI Tandyo Budi Revita.

"Beliau memiliki jiwa kepemimpinan yang mumpuni. Sosoknya tegas namun humanis. Beliau dapat menjadi role model kepemimpinan bagi kita semua," katanya.

Di sampul belakang buku tersebut juga ada penjelasan dari kata PETARUNG yang diulas dalam setiap huruf.

1. Profesional dalam Bekerja.

Dengan cara kerja yang disiplin tepat waktu yang berdasar pada tanggung jawab dan integritas, percaya diri, kepentingan anggota di atas kepentingan pribadi, kepentingan satuan di atas kepentingan lainnya, perencanaan dan kode etik yang baik serta fokus pada pengembangan kualitas keterampilan di bidangnya, seseorang takkan khawatir akan masa depannya.

Apa pun yang terjadi, seorang profesional, akan memperoleh bagiannya secara layak. Alasan utamanya karena kita dihargai berkat sikap dan kinerjanya melebihi dari ekspektasi.

2. Efektif Berkarya

Boleh disebut sebagai sikap orang-orang hebat karena melakukan sesuatu sebelum mereka siap. Serupa dengan bersiap berperang adalah satu cara yang paling efektif untuk melanggengkan perdamaian.

Kuncinya terletak pada upaya yang keras untuk suatu hasil dan target keamanan seluruh bangsa.

3. Tangguh dan Berkemauan Gigih

Merupakan modal kekuatan untuk bertahan di hari esok dengan tidak mudah menyerah. Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah terluka. Karena keberanian mengalahkan banyak hal, termasuk luka dan kesulitan.

Baca Juga: Delapan Perwira Adhi Makayasa TNI-Polri Berdiri Gagah di Hadapan Presiden Prabowo di Istana Negara

4. Adaptif dan Inovatif Terhadap Perubahan dan Pembaruan.

Karena ke depan, bangsa yang berhasil adalah bangsa yang tidak menutup diri. Seperti air yang mengalir yang mengajarkan kita untuk senantiasa rendah hati, berkembang dan tumbuh, ulet dan tabah dengan situasi baru secara lapang dada.

5. Responsif

Khususnya dalam menghadapi perkembangan dan perubahan situasi yang begitu dinamis dengan senantiasa siap sedia melaksanakan tindakan cepat, tepat, dan akurat.

Dihadapkan dengan kondisi dan situasi lingkungan yang serba tidak menentu, maka bukan prajurit yang terkuat yang dapat bertahan, bukan juga prajurit yang paling cerdas, tetapi prajurit yang paling responsif terhadap perubahan.

Baca Juga: Presiden Prabowo Gugah Perwira TNI-Polri: Bela Rakyat, Kau Anak Kandung Rakyat Indonesia!

6. Unggul dan Berpikir Jernih

Dalam mencetuskan ide-idenya akan berakhir pada kemenangan sebagai bangsa di bawah panji Bhinneka Tunggal Ika, karena kemenangan dalam menyongsong Indonesia Emas datang bagi bangsa yang unggul dalam kegigihan dan ketekunan usahanya.

7. Niat setia tulus ikhlas pada kehendak Ilahi adalah landasan sekaligus tujuan kebahagiaan sejati.

8. Guyub rukun adalah kata penutup dalam slogan ini, karena pertengkaran akan membuat kekacauan, dan kerukunan akan menjadikan bangsa ini kian kuat sentosa.

Editor : Dharaka R. Perdana
#buku #Tandyo Budi Revita #wakil panglima tni