Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gaji dan Tunjangan Anggota DPR RI Disoal Massa pada Demo Senin Lalu, Begini Suara Mereka

Argo Yanuar Pamudyo • Rabu, 27 Agustus 2025 | 16:35 WIB

Gerbang DPR Diblokade, Massa Aksi: Mana Pintu yang Katanya Terbuka Lebar?
Gerbang DPR Diblokade, Massa Aksi: Mana Pintu yang Katanya Terbuka Lebar?

RADAR TULUNGAGUNG— Ribuan massa aksi pengunjuk rasa memadati depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (25/8).

Mereka membawa berbagai spanduk dan tuntutan, salah satunya mempertanyakan besarnya gaji dan tunjangan para anggota dewan yang disebut-sebut mencapai lebih dari Rp100 juta per bulan.

Namun, langkah mereka terhenti di barikade aparat yang berjaga ketat di pintu gerbang DPR.

Desakan agar barikade dibuka terdengar lantang dari pengeras suara. Salah satu peserta demo bahkan berteriak, “Massa aksi desak buka barikade: mana pintu DPR yang katanya terbuka lebar?”

Kalimat itu langsung disambut riuh peserta lainnya yang merasa janji-janji keterbukaan DPR hanya retorika.

Ungkapan tersebut merujuk pada pernyataan Ketua DPR RI, Puan Maharani, yang beberapa waktu lalu menyebut bahwa "pintu DPR selalu terbuka lebar bagi rakyat."

Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Massa aksi tidak diperkenankan masuk mendekati gedung DPR karena diblokade pagar beton dan barisan aparat bersenjata lengkap.

Baca Juga: Susul Langkah Tegas Singapura, BNN Siapkan Larangan Vape

Ketegangan di Depan Pagar Beton DPR

Pantauan di lokasi menunjukkan suasana semakin memanas ketika massa mengetahui mereka tidak bisa bergerak lebih dekat ke kompleks parlemen.

Sementara itu, jalan di sekitar Senayan telah dipenuhi demonstran dari berbagai daerah dan latar belakang, mulai dari buruh, mahasiswa, hingga pelajar.

Barikade yang terdiri dari kawat berduri, pagar besi, dan blok beton setinggi pinggang membentang di sepanjang akses masuk DPR.

Di belakangnya, ratusan aparat keamanan bersiaga lengkap. Hal ini memicu pertanyaan tajam dari massa: “Kalau memang DPR milik rakyat, kenapa rakyat tidak boleh masuk?” teriak salah satu peserta melalui megafon.

Video aksi tersebut kemudian viral di TikTok melalui akun @infipop.id, menunjukkan suasana ketika massa berorasi keras menagih janji keterbukaan DPR.

Salah satu video yang banyak dibagikan memperlihatkan massa membentangkan spanduk bertuliskan, “Pintu DPR: Terbuka untuk Elit, Tertutup untuk Rakyat.”

Baca Juga: Menteri Pertanian Amran Sulaiman Membantah Tudingan terhadap Kenaikan Harga Beras di Dalam Negeri

Tuntutan Soal Transparansi Gaji dan Tunjangan DPR

Isu gaji dan tunjangan anggota DPR menjadi salah satu pemicu utama demonstrasi hari ini. Massa menuntut transparansi terkait jumlah dan penggunaan dana negara untuk membiayai fasilitas dan penghasilan para wakil rakyat.

Dalam berbagai unggahan media sosial, banyak netizen mempertanyakan keadilan antara beban hidup rakyat dan kenyamanan hidup para legislator.

Salah satu orator menyampaikan, “Kami diminta menyisihkan 3 persen untuk Tapera, tapi mereka di dalam sana hidup dengan fasilitas mewah. Rumah dinas, mobil dinas, tunjangan komunikasi, dana reses. Apa ini yang disebut wakil rakyat?”

Massa aksi menilai bahwa DPR telah gagal menjaga amanat rakyat. Kekecewaan memuncak ketika para legislator tidak turun menemui pendemo, walaupun massa telah berdiri di depan gerbang selama berjam-jam.

“Kami cuma ingin bicara. Bukan bakar ban, bukan lempar batu. Tapi mereka tetap tutup pintu,” kata seorang mahasiswa dari Universitas Negeri Jakarta. 

Respons DPR Masih Nihil, Massa Bertahan di Lokasi

Hingga sore hari, belum ada satu pun perwakilan DPR yang menemui massa. Hal ini menambah ketegangan di lapangan, meski hingga berita ini ditulis belum terjadi bentrokan fisik antara aparat dan pendemo.

Namun, beberapa massa mulai melempar botol air ke arah pagar sebagai bentuk simbolik atas kekecewaan mereka.

Beberapa tokoh masyarakat menyayangkan sikap diam DPR dalam menghadapi gelombang protes ini.

“Kalau memang pintu DPR terbuka lebar, kenapa rakyat tidak diterima? Keterbukaan tidak cukup dengan kata-kata,” ujar salah satu aktivis demokrasi melalui media sosial.

Selain menyoroti soal gaji DPR, massa juga menyuarakan tuntutan lain seperti penolakan kenaikan pajak barang konsumsi, desakan penghapusan Tapera, serta protes terhadap kebijakan pendidikan yang dinilai semakin mahal dan komersial.

Baca Juga: Gibran Skakmat DPR Soal Gerbong Perokok, Respons Warganet Langsung Ramai Mendukung 

Penutup: Rakyat Mengetuk Pintu, Tapi Tak Ada yang Menjawab

Kalimat “massa aksi desak buka barikade: mana pintu DPR yang katanya terbuka lebar” menjadi simbol frustrasi rakyat terhadap janji keterbukaan yang tidak selaras dengan kenyataan.

Saat rakyat mengetuk pintu yang dijanjikan terbuka, yang mereka temui justru pagar besi dan beton tinggi.

DPR RI sebagai lembaga legislatif seharusnya hadir untuk mendengarkan, bukan bersembunyi di balik barikade.

Ketika gedung yang katanya “rumah rakyat” ditutup untuk rakyat sendiri, maka muncul pertanyaan baru: apakah para wakil benar-benar masih mewakili? ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#pengunjuk rasa #dpr ri #gaji dan tunjangan