Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sesar Lembang di Sekitar Bandung Nyata Adanya, Per Tahun Bisa Bergerak 3,4 Milimeter

Dharaka R. Perdana • Senin, 1 September 2025 | 06:33 WIB

Hasil penggalian paritan di kilometer 12 km-an. (BRIN)
Hasil penggalian paritan di kilometer 12 km-an. (BRIN)

RADAR TULUNGAGUNG - Warga Jawa Barat, khususnya Bandung dan sekitarnya, mungkin sudah akrab dengan sebutan Sesar Lembang.

Sesar Lembang membentang sepanjang hampir 29 kilometer, mulai dari Padalarang hingga kawasan Cimenyan.

Letaknya tidak jauh dari Kota Bandung, tepat di kaki Gunung Tangkuban Perahu. Namun, Sesar Lembang bukan sekadar garis di peta, melainkan bagian dari sistem geologi aktif yang nyata keberadaannya.

Baca Juga: Tetap Waspada, 7 Hal yang Harus Dilakukan Saat Gempa Bumi Terjadi

Periset bidang Geologi Gempa Bumi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik R. Daryono, menjelaskan bahwa Sesar Lembang pada dasarnya adalah patahan besar di kerak bumi yang menjadi jalur pergeseran batuan.

Pergeseran yang terjadi lebih banyak mendatar ke arah kiri, sehingga bagian utara dan selatan sesar bergerak saling berlawanan.

“Bukti nyata bisa dilihat dari pergeseran Sungai Cimeta yang telah bergeser sejauh 120 meter, bahkan di beberapa lokasi mencapai 460 meter,” kata Mudrik, Kamis (28/8/2025).

Baca Juga: Di Atas Tiga Lempeng Aktif, Fakta Geologi yang Menjadikan Indonesia Wilayah Paling Berisiko Terkena Gempa

Selain itu, ada juga pergeseran naik-turun permukaan tanah. Di bagian barat, mulai dari kilometer 0 sampai kilometer 6, permukaannya masih datar.

Lalu, muncul perbedaan tinggi hingga sekitar 90 meter sebelum kembali mengecil ke arah timur.

"Secara keseluruhan, pergeseran di Sesar Lembang hampir seluruhnya didominasi oleh pergeseran mendatar, yaitu sekitar 80 sampai 100 persen. Sedangkan pergeseran naik-turun hanya sekitar 0 sampai 20 persen,” ungkapnya.

Baca Juga: Gempa Bumi Magnitudo 4,9 Guncang Bekasi, Getaran Terasa Hingga Jabodetabek dan Karawang

Bukti pergeseran sungai dan perubahan tinggi ini, jelas Mudrik, adalah proses sedikit demi sedikit yang berlangsung ratusan ribu tahun hingga sekarang. Proses sedikit demi sedikit gerak ini adalah gerak dari sesar aktif yang menghasilkan gempa bumi.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Sesar Lembang bergerak dengan kecepatan sekitar 1,9 hingga 3,4 milimeter setiap tahun.

Meski terlihat sangat kecil, pergeseran yang terus berlangsung ini, bila terakumulasi selama ratusan tahun, dapat memicu terjadinya gempa bumi.

Hal ini terbukti dari hasil penelitian paleoseismologi melalui penggalian parit di kilometer 11,5, yang menemukan adanya pergeseran setinggi 40 sentimeter.

"Bagian selatan sesar terangkat dibanding sisi utara. Pergeseran sebesar itu menjadi bukti nyata bahwa di masa lalu pernah terjadi gempa dengan kekuatan sekitar magnitudo 6,5 hingga 7,” jelas Mudrik.

Baca Juga: Kasus Malaria di Papua Masih yang Tertinggi di Indonesia, Begini Pernyataan BRIN

“Perkiraan ini juga sejalan dengan panjang Sesar Lembang yang mencapai 29 kilometer, yang memang berpotensi menghasilkan gempa dengan besaran tersebut,” tambahnya.

Penelitian paleoseismologi atau kajian jejak gempa purba menunjukkan bahwa Sesar Lembang telah beberapa kali memicu gempa besar di masa lalu. Peristiwa yang paling muda diperkirakan terjadi pada abad ke-15.

Sementara, sebelumnya terdapat bukti gempa sekitar 60 tahun sebelum Masehi yang meninggalkan jejak pergeseran setinggi 40 sentimeter.

Baca Juga: Inilah Pendampingan UMKM Ala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pilih Mentoring atau Coaching Clinic

Lebih jauh ke belakang, ditemukan pula jejak gempa yang jauh lebih tua, yaitu sekitar 19 ribu tahun lalu.

Dari catatan tersebut, para ahli memperkirakan bahwa gempa besar di Sesar Lembang berulang dalam rentang waktu antara 170 hingga 670 tahun.

“Jika mengacu pada siklus ulang gempa besar yang telah diperkirakan, maka secara teoritis gempa besar berikutnya dapat terjadi paling lambat sekitar tahun 2170. Artinya, secara waktu, perkiraan, siklus ini sudah relatif dekat dengan masa sekarang,” sebut Mudrik.

Baca Juga: Hasil Penelitian Bisa untuk Mengembangkan UMKM? Peneliti BRIN: Ada Dua Skema yang Ditawarkan

Namun, dia menegaskan penting untuk dipahami, ini hanya gambaran rentang waktu, bukan kepastian tentang kapan gempa akan benar-benar terjadi.

Sesar Lembang bukan sekadar garis patahan di peta, melainkan sistem geologi aktif yang keberadaannya dapat terlihat jelas di lapangan.

Bukti bahwa pernah terjadi gempa bumi bermagnitudo 6,5–7 juga tampak dari hasil uji parit di kilometer 11,5.

“Pemahaman ilmiah ini sangat penting agar masyarakat lebih siap dan senantiasa waspada dalam menghadapi potensi bencana,” tegas Mudrik.

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#sesar lembang #tangkuban perahu #bandung