RADAR TULUNGAGUNG – Dalam sebuah pengakuan mengejutkan yang menjadi viral di media sosial, politisi Ahmad Sahroni membuat permohonan publik setelah kediaman mewahnya di Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dijarah oleh massa beberapa waktu lalu.
Fokus utama permohonan tersebut adalah sebuah flashdisk berwarna putih yang sangat ia butuhkan kembali, lantaran isi flashdisk Ahmad Sahroni disebut-sebut mengandung data yang krusial.
Insiden penjarahan ini terjadi di tengah gelombang protes dan kerusuhan sosial yang melanda berbagai wilayah, menyebabkan kerusakan properti dan ketidakstabilan di sejumlah daerah.
Sahroni, yang kini berstatus anggota DPR RI nonaktif dari Fraksi Partai NasDem, mengungkapkan bahwa flashdisk putih kesayangannya tersebut turut terjarah bersama tas selempang Louis Vuitton (LV) warna hitam miliknya.
Dalam unggahan putus asanya di akun media sosial pribadinya, yang kemudian menyebar luas dan menuai perhatian publik, ia dengan tegas menyatakan kesediaannya untuk merelakan tas mewah tersebut diambil oleh penjarah.
“Apa ada yg nemu tas selempang Louis Vuitton warna hitam? Isinya ada flashdisk warna putih. Tasnya ambil aja, kembaliin FD-nya sama saya. Isinya data penting semua. Sangat-sangat penting. DM ya, ada imbalan,” tulis Ahmad Sahroni, menekankan betapa mendesaknya ia membutuhkan kembali flashdisk itu..
Baca Juga: Pasca Rumahnya Dijarah Massa, Uya Kuya Repost Kisah Kebaikan, Justru Tuai Pro dan Kontra Warganet
Permintaan ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwa nilai data dalam flashdisk tersebut jauh melampaui harga barang-barang branded miliknya.
Apalagi dia bahkan berjanji akan memberikan imbalan khusus bagi siapa saja yang bersedia mengembalikan benda tersebut.
Kepanikan Sahroni yang begitu nyata dalam unggahannya lantas memicu spekulasi luas di kalangan warganet mengenai isi flashdisk Sahroni yang dianggap begitu berharga.
Banyak warganet berspekulasi, menduga flashdisk tersebut berisi dokumen-dokumen sensitif, data politik, hingga transaksi penting yang dapat berdampak besar jika bocor ke publik.
Sejauh ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai siapa yang membawa tas dan flashdisk tersebut, namun desakan Sahroni yang begitu kuat memperkuat keyakinan publik akan nilai strategis data di dalamnya.
Penjarahan Rumah Politisi di Tengah Gejolak Sosial
Insiden penjarahan rumah Ahmad Sahroni terjadi pada akhir pekan lalu, dengan laporan dan rekaman yang menunjukkan sejumlah barang berharga diangkut oleh massa dari kediamannya.
Selain flashdisk dan tas Louis Vuitton, warga juga dilaporkan menjarah jam tangan mewah Richard Mille RM 40-01 McLaren Speedtail yang diperkirakan bernilai fantastis mencapai Rp11,7 miliar.
Tas merek Hermes hingga Louis Vuitton lainnya, sebuah piano besar, serta action figure Iron Man dan Spider-Man berukuran manusia juga tidak luput dari penjarahan.
Bahkan, dokumen pribadi seperti ijazah SMP Ahmad Sahroni juga dikabarkan ikut terjarah, memicu sorotan lebih lanjut di media sosial.
Peristiwa ini menjadi bagian dari gelombang protes yang pada beberapa titik berubah menjadi tindakan anarkis dan perusakan properti.
Gejolak sosial ini terlihat dari berbagai insiden serupa yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Sumber lain menyebutkan adanya 469 pendemo yang dirawat di Dinkes Jakarta, dengan 1 orang meninggal dunia.
Layanan KAI Commuter Line tetap normal dengan 1.063 perjalanan se-Jabodetabek. Kerugian akibat kerusakan MRT hingga Halte Transjakarta pasca-demo juga mencapai Rp55 miliar.
Sebanyak 1.240 orang ditangkap akibat demo, banyak di antaranya berasal dari luar Jakarta.
Baca Juga: Eko Patrio Muncul di Instagram Ungkapkan Permohonan Maaf, PAN Nonaktifkan Keanggotaannya di DPR RI
Dampak dan Investigasi Kepolisian
Fenomena penjarahan ini tidak hanya menimpa Ahmad Sahroni. Sejumlah tokoh publik lainnya juga menjadi sasaran, seperti rumah Eko Patrio di Setiabudi yang diselidiki polisi setelah dijarah. Rumah Ketua DPR RI Puan Maharani juga nyaris dijarah massa di Menteng.
Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akhirnya angkat bicara terkait aksi penjarahan rumahnya di Bintaro, Jakarta Selatan, pada Minggu (31/8/2025).
Menanggapi situasi ini, pihak kepolisian dan aparat terkait tengah melakukan pendataan dan penyelidikan atas kejadian penjarahan tersebut.
Polisi telah memeriksa lima saksi terkait penjarahan rumah Ahmad Sahroni untuk menelusuri pelaku dan barang-barang yang dibawa dari lokasi.
Sementara itu, Sahroni sendiri telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik atas ucapan-ucapan yang pernah dilontarkannya di masa lalu, berjanji tidak akan mengulangi kesalahan tersebut.
Namun, terkait tuntutan agar ia kembali ke Indonesia, Sahroni menyatakan belum dapat memenuhi permintaan itu lantaran alasan keamanan bagi dirinya dan keluarganya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana