RADAR TULUNGAGUNG - Memasuki bulan September 2025, Indonesia bersiap menghadapi berbagai fenomena cuaca dan iklim yang cukup kompleks.
Dari peralihan musim (pancaroba), potensi hujan tak menentu, hingga perkembangan La Niña yang diamati oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), semua berpotensi memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Apa saja yang diprediksi akan terjadi? Bagaimana dampaknya terhadap aktivitas masyarakat dan sektor-sektor penting seperti pertanian, kelautan, dan kesehatan?
1. Musim Pancaroba: Peralihan dari Kemarau ke Hujan
Menurut prediksi BMKG, September 2025 menandai awal musim pancaroba di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama bagian barat dan tengah.
Ciri khas musim pancaroba hujan turun tidak merata, bersifat lokal dan tiba-tiba. Ada kalanya juga disertai petir dan angin kencang
Suhu udara cenderung labil dan ditandai pagi bisa sangat dingin, siang sangat panas. Fenomena ini melanda Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan dan Sulawesi bagian selatan.
Baca Juga: Awasi Dinamika Dalam Negeri, Presiden Prabowo Tunda Kunjungan ke Luar Negeri
2. Fenomena “Bediding” Masih Terasa di Awal September
“Bediding” adalah istilah lokal untuk udara dingin ekstrem di pagi hari yang kerap terjadi di dataran tinggi saat musim kemarau.
BMKG memprediksi bediding masih akan terasa hingga minggu pertama September 2025, terutama di wilayah seperti Dieng (Jawa Tengah), Lembang (Jawa Barat), Batu (Jawa Timur), dan sebagian wilayah Bali dan NTB.
Suhu udara bisa turun hingga 9–13°C di pagi hari. Sehingga unakan pakaian hangat saat malam dan pagi hari.
Baca Juga: Susul Langkah Tegas Singapura, BNN Siapkan Larangan Vape
3. La Niña Mulai Terlihat: Potensi Terbentuk September–November
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan bahwa fenomena La Niña berpotensi muncul kembali mulai September 2025, dengan peluang mencapai 55–60 persen.
Baca Juga: Netizen Heboh, Fitur Live TikTok Dihapus: Benarkah Demi Keamanan Publik?
Apa itu La Niña?
La Niña adalah fenomena alam yang ditandai oleh penurunan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah–timur, yang memengaruhi pola cuaca global, termasuk Indonesia.
Dampaknya curah hujan cenderung meningkat, risiko banjir lokal dan longsor di beberapa wilayah, dan cuaca ekstrem lebih sering terjadi.
Ada beberapa wilayah di Indonesia yang biasanya terdampak lebih awal. Seperti, Sumatera bagian barat, Jawa bagian barat, Sulawesi bagian tengah dan selatan, dan Kalimantan bagian timur
4. Kemarau Basah Masih Berlangsung
BMKG juga menyebutkan bahwa sebagian wilayah Indonesia mengalami “kemarau basah”, yakni musim kemarau yang tetap diselingi hujan.
Kenapa terjadi? Karena adanya suhu permukaan laut yang masih hangat di sekitar perairan Indonesia serta pengaruh dinamika atmosfer regional.
Akibatnya, curah hujan tetap tinggi meski secara teknis masih dalam musim kemarau.
Baca Juga: Pasca Rumahnya Dijarah Massa, Uya Kuya Repost Kisah Kebaikan, Justru Tuai Pro dan Kontra Warganet
5. Prediksi Suhu, Angin, dan Gelombang Laut (Awal–Pertengahan September).
Berdasarkan prospek cuaca mingguan dari BMKG angin timuran masih dominan, terutama di selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara
Gelombang laut tinggi (2,5–4 meter) berpotensi terjadi di Laut Jawa bagian selatan dan Samudra Hindia selatan Indonesia
Suhu udara siang bisa mencapai 32–34°C, sedangkan pagi hari bisa turun hingga 17–20°C di dataran tinggi
Jadi, cuaca dan iklim Indonesia pada September 2025 akan diwarnai dengan banyak dinamika — dari perubahan musim, udara dingin ekstrem, hingga tanda-tanda awal La Niña.
Mengikuti informasi resmi dari BMKG dan menyiapkan langkah antisipasi sejak dini adalah kunci agar kita tetap aman dan nyaman dalam beraktivitas. ****
Editor : Dharaka R. Perdana