Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

120 Titik Banjir Muncul di Bali Hingga September, Ternyata Permasalahan Utama Bukan Hujan Deras, Lantas?

Dharaka R. Perdana • Minggu, 14 September 2025 | 04:05 WIB

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati

RADAR TULUNGAGUNG - Banjir dan longsor yang melanda Bali pada 9–10 September 2025 memperlihatkan dampak hidrometeorologi basah yang luar biasa.

Laporan BNPB mencatat bencana terjadi di tujuh kabupaten/kota di Bali dengan lebih dari 120 titik banjir.

Baca Juga: Petani Tulungagung Harap-harap Cemas pada Awal Musim Tanam Kali Ini, Cuaca Tak Mendukung Bisa Memicu Serangan Hama

Kota Denpasar menjadi wilayah dengan jumlah titik terbanyak mencapai 81, disusul Gianyar 14 titik, Badung 12 titik, Tabanan 8 titik, Karangasem dan Jembrana masing-masing 4 titik, serta Klungkung di Kecamatan Dawan.

BMKG melaporkan curah hujan harian ekstrem yang menjadi pemicu utama banjir besar tersebut.

Baca Juga: Potensi Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Membayangi Sejumlah Wilayah di Indonesia, Apakah Tulungagung Termasuk?

Di Jembrana, curah hujan tercatat mencapai 385,5 mm dalam satu hari, disusul Tampak Siring 373,8 mm, Karangasem 316,6 mm, Klungkung 296 mm, dan Abiansemal 284,6 mm.

Bahkan beberapa titik lain seperti Denpasar Barat, Petang, Kerambitan, dan Padangbai juga mencatat curah hujan di atas 200 mm per hari. Padahal, secara klimatologis, hujan di atas 150 mm/hari sudah dikategorikan ekstrem.

Baca Juga: Banjir Rendam Sejumlah Wilayah di Pulau Bali Akibat Cuaca Ekstrem, Berikut Penjelasan BMKG

Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, intensitas hujan ekstrem tersebut dipicu oleh kombinasi faktor regional dan lokal.

“Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby ekuator yang aktif bersamaan dengan kondisi atmosfer labil di Bali memperbesar risiko terbentuknya awan konvektif secara masif,” jelasnya.

Baca Juga: BMKG Bakal Melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca di Riau, Ini Lokasi Target yang Dibidik

Selain akibat dinamika atmosfer, BMKG juga menyoroti faktor lingkungan dan infrastruktur yang memperparah dampak banjir.

Sistem drainase di beberapa wilayah dinilai belum mampu menyalurkan volume air hujan yang sangat besar, diperburuk oleh sedimentasi dan sampah yang menyumbat saluran air.

Alih fungsi lahan dari area resapan menjadi permukiman dan komersial juga mengurangi kemampuan tanah menyerap air, sehingga risiko genangan semakin tinggi.

Kejadian ini semakin menegaskan pentingnya sistem peringatan dini yang cepat dan akurat. BMKG telah mengeluarkan peringatan sejak 5 September 2025 melalui prospek cuaca sepekan.

Baca Juga: BMKG: Pusat Informasi Cuaca hingga Gempa Terkini di Indonesia

Bahkan diperkuat dengan peringatan dini tiga harian, hingga pembaruan secara jam-jaman melalui sistem nowcasting pada saat hujan ekstrem mulai terjadi.

Dalam periode 9–10 September saja, BMKG menerbitkan 11 kali pembaruan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Bali. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#banjir dan longsor #cuaca #bali